Seluk Beluk Pertanian Organik

Seluk Beluk Pertanian Organik

Seluk Beluk Pertanian Organik

Seluk Beluk Pertanian Organik

Senin, 28 November 2011 11:21

Di abad 21 ini, gaya hidup sehat berslogan âback to natureâ semakin gencar dipublikasikan. Demi memeroleh kesehatan sepanjang hidupnya, masyarakatpun rela mengganti pola hidup lama dan beralih pada hal-hal yang lebih natural termasuk dalam pemilihan makanan. Mereka juga takkan sungkan mengeluarkan uang ekstra untuk membeli produk organik yang dianggap lebih alami dan sehat.

Menilik pada hal tersebut, sudah sepantasnyalah pertanian organik digalakkan. Selain berprofit, pertanian organik juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan produk yang dapat bermanfaat bagi kesehatan banyak orang.

Apa itu pertanian organik

Dilansir dari Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI, yang dimaksud dengan pertanian organik adalah teknik budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama sistem pertanian organik yakni menyediakan produk-produk pertanian terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta tidak merusak lingkungan.

Potensi

Meski sudah semakin dikenal masyarakat umum namun prosentase keberadaan pertanian organik di Indonesia masih relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara lain. Padahal sejumlah faktor pendukung keberhasilan pertanian organik ini telah dimiliki secara alami oleh negeri ini seperti kondisi tanah yang subur, kesempatan memeroleh limpahan sinar matahari dan siraman air hujan sepanjang tahun dan sumber daya hayati yang begitu kaya. Dan bila melihat potensi pasar produk organik di dunia yang senantiasa mengalami peningkatan, pertanian organik ini memang pantas dibidik.

Kaidah

Secara umum, konsep pertanian yang benar-benar organik belum banyak dikenal. Konsep ini memang tak mudah dikelola. Salah satu kaidah sistem pertanian organik menurut Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI adalah menuntut tersedianya lahan yang tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik.

Lahan yang dimaksud di sini yaitu lahan yang belum diusahakan. Biasanya lahan tersebut kurang subur sebab lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama yakni sekitar 2 tahun.

Instruksi

Jika Anda tertarik mengelola pertanian organik, berikut langkah-langkahnya seperti dilansir dari laman eHow.

1. Lakukan riset mengenai pertanian organik dengan mencari informasi seputar tata cara menanam secara organik, mensurvei lahan serta menambah ilmu dengan mengikuti sejumlah pelatihan atau berkonsultasi dengan orang-orang yang memang ahli di bidang pertanian organik. 2. Susun perencanaan bisnis termasuk di dalamnya mencari sumber dana serta merinci biaya yang diperlukan dalam pengelolaan pertanian organik tersebut, termasuk untuk upah buruh tani serta biaya operasional lainnya. 3. Jika modal dana Anda tak mencukupi, ajukan kredit ke lembaga keuangan atau mencari investor. Yang perlu diperhatikan di sini adalah sistematika penyusunan perencanaan bisnis Anda. Lembaga keuangan ataupun investor tentunya akan tertarik berinvestasi bila business plan yang Anda ajukan berpotensi untuk dikembangkan dan disusun seprofesional mungkin. 4. Beli lahan untuk digarap. Sebelum membeli, teliti dahulu struktur serta kondisi tanahnya. Lakukan uji di laboratorium untuk mengetahuinya secara pasti. 5. Beli perlengkapan dan peralatan yang diperlukan, termasuk bibit tanaman. Pilihlah bibit unggulan agar produk Anda bisa mencuri perhatian konsumen dan mampu merajai pasar.

Sertifikasi

Lakukan sertifikasi organik untuk mempermudah pemasaran serta terjadinya pengembalian produk dari pasar karena dianggap kurang memenuhi standardisasi organik. Dari penjelasan Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI, serfikasi produk pertanian organik dibagi menjadi dua kriteria, yakni:

1. Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait. 2. Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri , seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Selamat bercocok tanam! (*/ely)

Seluk Beluk Pertanian Organik | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *