Silvya Harjanto : Belajar Dari Mantan Karyawan Dirikan Pasar Unik 89

Silvya Harjanto : Belajar Dari Mantan Karyawan Dirikan Pasar Unik 89

Silvya Harjanto : Belajar Dari Mantan Karyawan Dirikan Pasar Unik 89

Silvya Harjanto : Belajar Dari Mantan Karyawan Dirikan Pasar Unik 89

Senin, 05 Maret 2012 16:12

Bagaimana cerita berdirinya Pasar Unik 89?

Berdirinya tanggal 29 Desember 2009. Awalnya saya itu HRD Manager di sebuah perusahaan otomotif, nah kerjaan saya mecat-mecatin orang. Ternyata mereka malah senang dipecat karena dapat pesangon jadi bisa untuk usaha kecil-kecilan. Dari situ saya berpikir, mereka saja bisa masak saya tidak. Dari situlah niat usaha muncul, tapi bingung mau usaha apa. Satu kali saya pergi ke Lampung lihat kain tapis, kemudian saya minta konsinyasi dengan yang buat, dijual di bazar tapi kurang laku jadi saya kembalikan.

Tapi saya tetap ikut pameran-pameran dengan suami, itu tanpa modal sepeser pun. Barang jualan saya pinjam dari teman dengan sistem konsinyasi.

Kemudian bagaimana bisa memilih kerajinan berbau betawi ini?

Awalnya datang ke Inacraft dan saya tertarik dengan mainan-mainan, dari situ saya ikut jualan mainan balon-balonan dan kitiran sederhana, modalnya Rp 250 ribu. Dari jual itu saya dapat banyak modal. Selain untung, saya juga dapat kenalan banyak.

Satu kali saya ikut pameran UKM dari salah satu BUMN, di situ saya ditawari ikut pameran yang lain, tapi harus benar-benar produk buatan sendiri. Pas ditanya punya produk apa, saya jawab saja boneka kecil. Karena sudah terucap, ya mau nggak mau harus jadi.

Kenapa dinamakan Pasar unik 89?

Awalnya hanya obrolan iseng dengan suami pas lagi berangkat kerja. Tadinya mau dikasih nama Toko Unik tapi ternyata sudah ada. Kemudian saya pikir-pikir lagi nama lain, tapi harus ada kata unik, akhirnya saya pilih pakai kata pasar saja. 89 sendiri punya arti filosofis, 8 itu angka sempurna dan 9 itu tertinggi, artinya kita jual barang-barang unik yang akan terus berkembang mencapai kesempurnaan.

Sampai sekarang pemasarannya sejauh apa?

Pasar unik89 mainnya kebanyakan di bazar-bazar dan pameran-pameran. Kebetulan saya merupakan binaan dari sebuah bank, dan saya juga ikut macam-macam organisasi jadi dari situ saya punya banyak kesempatan untuk ikut bazar dan pameran supaya produk saya semakin dikenal.

Range harga produk yang dijual berapa?

Paling murah itu pensil atau bullpen itu Rp 15 ribu. Sedangkan paling mahal itu Rp 200ribu untuk wayang ondel-ondel.

Saat ini produk Ibu sudah masuk Mall besar, caranya bagaimana?

Waktu itu saya ada pameran dari salah satu bank, secara kebetulan ada orang dari mall tersebut lihat barang saya, kemudian saya ditelepon ditawari kerja sama dengan mall itu.

Bicara ke depan, apa target Pasar Unik 89?

Visi misi kita itu melestarikan budaya. Kebetulan saya orang Jakarta, saya prihatin orang Jakarta masih sedikit yang cinta budayanya sendiri. Mungkin ke depan produk saya lebih banyak tema ondel-ondel.

Apakah ada rencana untuk eksplorasi budaya lain?

Sampai sekarang belum terpikirkan ke situ karena saya mau fokus saja ke budaya Jakarta karena saya inginnya Pasar Unik 89 ini memang spesialis handicraft

, souvenir khusus Jakarta.

Produksi barang-barang Pasar Unik 89 ada yang dikerjakan oleh masyarakat pedalaman, kenapa Anda berpikir ke sana?

Visi-misi kami lainnya itu kami ingin memberdayakan orang-orang dengan keterbatasan fisik dan kami juga mau mengangkat pengerajin-pengerajin di pedalaman. Kalau ditanya dapat orang-orang itu darimana mungkin itu bimbingan Tuhan karena saya tidak sengaja mencari orang-orang tersebut.

Saya ikut pameran dimana begitu kemudian ada yang datang minta izin mencoba buat ondel-ondel, padahal dia bukan pengerajin ondel-ondel. Ternyata hasilnya bagus, ya sudah dia yang kerjakan.

Ada berapa pengerajin yang dipekerjakan?

Ada sekitar 4 supplier, semuanya memang dari luar Jakarta. Ada yang di pedalaman Bandung, ada juga yang di Semarang.

Apakah dengan cara itu tidak menjadi beban tersendiri bagi Pasar Unik 89?

Biaya pasti ada. Tapi kita sudah survey pasar barang sejenis kita itu berapa, jadi kita sesuaikan saja diharganya. Lagipula sekarang ini saya juga tidak ada beban karyawan karena kami memang belum ada karyawan tetap.

Apakah saat ini saingan usaha sejenis Pasar Unik 89 sudah banyak?

Saya tidak pikir soal saingan, saya percaya rezeki sudah diatur. Saya tidak tahu ada saingan atau tidak, yang jelas desain produk yang kami jual ini didesain sendiri jadi sangat unik, dibuat hanya satu.

Kendala yang dihadapi saa ini?

Saya masih harus banyak belajar karena ternyata tidak mudah jadi entrepreneur. Saya harus rapihkan sistem administrasi, harus belajar memanfaatkan website. Saya juga diminta oleh mentor saya untuk ada legalisasi usaha. Semua masih saya kerjakan sendiri.

Bagi Anda, lebih penting mana modal materi atau jejaring pertemanan?

Saya hidup dari networking jadi saya pikir lebih penting network karena saya juga awalnya tidak pakai modal uang, semuanya karena teman-teman.

Sejauh mana pemerintah dan jajarannya membantu perkembangan Pasar Unik 89?

Mungkin pemerintah harus lebih aktif lagi dalam pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Namun kalau dari BUMN maupun perusahaan-perusahaan swasta sudah sangat baik. Banyak pameran-pameran yang diadakan dan itu sangat membatu bagi UKM.

* Segarnya Laba Bisnis Es Krim Campina (2011-11-25) * Tan Eliezar, Kembangkan Bisnis Alat Elektronik dengan Kemitraan (2011-11-01) * Subagio Hadiwidjojo, Menuai Untung di Bisnis Donat dan Kopi (2011-10-17) * Arvin Miracelova, Mendidik Anak Lewat Tayangan Televisi (2011-10-19) * My Bento, Optimistis Bidik Pasar Menengah ke Bawah (2011-09-29)

Silvya Harjanto : Belajar Dari Mantan Karyawan Dirikan Pasar Unik 89 | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *