Edi Kurniawan, Kembangkan Bisnis Tiket ke Biro Wisata

Edi Kurniawan, Kembangkan Bisnis Tiket ke Biro Wisata

Edi Kurniawan, Kembangkan Bisnis Tiket ke Biro Wisata

Edi Kurniawan, Kembangkan Bisnis Tiket ke Biro Wisata

Minggu, 25 Maret 2012 14:17 Pengalamannya berorganisasi dijadikannya modal awal untuk membuka usaha. Berawal dari usaha tiket untuk mahasiswa dan dosen Unand, sekarang dia sudah mempunyai tiga cabang yang melayani biro perjalanan wisata, umroh, reservasi hotel, penyewaan bus dan mobil mewah.

Ketika masih aktif sebagai mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas, Edi Kurniawan adalah aktivis mahasiswa. Beberapa jabatan bergengsi diamanahkan padanya, misalnya Gubernur Fakultas Sastra Unand dan jabatan tertinggi di kalangan mahasiswa, yaitu Presiden BEM KM Unand.

Selama menjadi aktivis mahasiswa, dia sering bepergian ke luar kota, bahkan ke luar negeri untuk menghadiri kegiatan kemahasiswaan. Selain itu, dia melihat dosen juga sering melakukan perjalanan ke kota lain, baik untuk penelitian, kuliah, mengajar, dan kegiatan lainnya. Sementara di daerah Pauh tidak ada tempat penjualan tiket yang ditemuinya. Dia pun melihat itu sebagai peluang.

Di awal 2011, dia resmi mendirikan sebuah tempat penjualan tiket di Jalan M Hatta Pauh, tak jauh dari kampus Unand. âUnand memiliki 22 ribu orang mahasiswa dan 6 ribu dosen dan karyawan, itu adalah potensi. Mereka pasti akan bepergian untuk berbagai keperluan,â jelas Edi.

Prediksinya tidak meleset. Hanya dalam jangka waktu beberapa bulan, dia berhasil menguasai pasar di kawasan itu, tidak hanya mahasiswa dan dosen Unand, namun masyarakat di sekitar daerah itu. âAlhamdulillah, selama setahun kita berhasil menjual lebih 3.500 tiket,â papar pria yang sudah berhaji di usia 23 tahun ini.

Dalam perjalanan, beberapa peluang lain pun disulapnya ditransformasikannya menjadi usaha yang menjanjikan dan disinergikannya dengan usaha yang sudah berjalan. Edi menggaet beberapa temannya untuk membantunya mendirikan biro perjalanan wisata dan umroh.

Ini dilihatnya sebuah peluang usaha, karena melihat fenomena lamanya antrean untuk menunaikan ibadah haji, serta melihat penggarapan pariwisata Sumbar yang belum dilaksanakan secara maksimal.

Tidak tanggung-tanggung, biro perjalanan wisata dan umroh yang dibukanya di tiga tempat. Yaitu, di Jalan M Hatta dan Adinegoro Padang, lalu di Kota Solok. Baru beberapa bulan dibuka, Andalas Education Tour (AET) sudah membawa 10 orang jamaah umroh dan empat kali perjalanan wisata. Kemudian, berkat kerja sama dengan tour and travel di Malaysia, AET sudah membawa wisatawan dari Malaysia untuk berkeliling Sumbar.

âKita memang menjalin kerja sama dengan perusahaan tur di Malaysia. Tujuannya agar saat kita bawa wisatawan ke sana (Malaysia, red) mereka yang akan memandu, begitu juga sebaliknya,â papar pria berkacamata ini.

Edi yakin usahanya akan maju dan berkembang. Bahkan saat ini, sudah ada pengusaha di tujuh provinsi yang memintanya untuk buka cabang di daerahnya, seperti Jakarta, Kepulauan Riau. Menurutnya, kelebihan AET di banding biro perjalanan wisata dan umroh lainnya adalah sesuai namanya, Andalas Education Tour, yaitu di bidang education (pendidikan).

âKita bertekad setiap orang yang mengikuti perjalanan dengan kita tidak hanya bersenang-senang, namun juga mendapatkan ilmu. Misalnya, beberapa waktu yang lalu kita bawa kepala sekolah jalan-jalan ke Malaysia. Di sana, kita bawa mereka ke sekolah terbaik di Malaysia. Harapannya, apa yang mereka dapat bisa diaplikasikan di tempat dia mengabdi,â papar Edi.

Sedangkan nama Andalas diambil, menurut Edi adalah visi AET sendiri. Edi bermimpi, suatu saat AET adalah gerbang masuknya wisatawan ke Pulau Sumatera, khususnya Sumbar. Dia yakin, semua provinsi di Indonesia memiliki keunikan tersendiri di berbagai bidang, baik budaya, agama, sejarah, dan bidang lainnya. Begitujuga pulau Sumatera yang dijuluki Andalas.

âKita sedang siapkan paket wisata religi, budaya, sejarah, alam. Kita juga siapkan wisata Mandiri, yaitu ketika berwisata, kita akan ajak wisatawan, baik yang datang ke Sumbar atau yang kita bawa dari Sumbar ke luar daerah atau luar negeri untuk mengunjungi industri rumah tangga hingga industri besar. Tujuannya, mereka mendapatkan ide yang mungkin bisa diaplikasikan di daerah asalnya,â terangnya.

Walau pengusaha baru, Edi telah menunjukkan komitmennya untuk memberikan sebagian laba usahanya untuk masyarakat. Beberapa waktu lalu, dia sudah menandatangani perjanjian kerja sama dengan sebuah lembaga amal untuk menyumbangkan 2,5 persen laba usahanya dan diserahkan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Menurut Edi, program enterpreuner yang diusung Unand berpengaruh besar membentuk jiwa wirausahanya. âBapak Musliar Kasim tak henti-hentinya menanamkan jiwa wirausaha pada mahasiswa. Kami sebagai pengurus BEM juga mengarahkan hampir seluruh kegiatan harus berhubungan dengan pembentukan jiwa wirausaha,â beber Edi.

Dia sendiri hanya mengikuti dua kali kuliah umum kewirausahaan. Yaitu dengan Jusuf Kalla dan Bob Sadino. âCukup dua contoh yang saya ambil pelajaran, saya langsung beraksi. Karena kesimpulan dari apa yang mereka sampaikan adalah berpikir simpel dan langsung beraksi. Makanya saya tidak menunda-nunda lagi,â tutur pria kelahiran Padang, 26 November 1987 ini.

Dalam promosi usaha, menurut Edi, yang paling penting adalah link atau menjalin hubungan sebanyak-banyaknya dengan orang. Untuk hal itu, organisasi menurutnya sangat membantu. Dia menilai, organisasi dan wirausaha sangat sinkron apabila dipadukan.

Apalagi, sejak kuliah dia adalah aktivis. Sekarang pun dia bergabung dengan berbagai organisasi. Di HIPMI Padang, saat ini dia menjabat sebagai Ketua Badan Organisasi HIPMI Perguruan Tinggi merangkap ketua bidang organisasi.

Dia mengimbau generasi muda untuk tidak ragu-ragu memulai usaha. Dia sendiri, sudah dikontak oleh beberapa bank nasional untuk bekerja, namun ditolaknya. Karena, menjadi pengusaha lebih menjanjikan. âMemang awalnya kita susah, kurang pengalaman, dan harus bekerja keras. Sekarang, saya sudah bisa pergi jalan-jalan, umroh dan berwisata karena usaha ini,â ujar pria yang tinggal di Jalan Adinegoro No 30 ini.

Anak tunggal ini menceritakan, dengan jadi pengusaha tidak ada batasan untuk menggunakan waktu dan ide. âKalau bekerja dengan orang, waktu kita milik atasan. Kalau pun ada ide, belum tentu diterima. Kalau usaha sendiri, waktu dan ide milik kita. Kapan kita mau kita kerjakan dan langsung aplikasikan,â ujarnya.

Edi bermimpi bisa mendirikan usahanya di seluruh daerah di Indonesia. Dia sudah berjalan-jalan ke beberapa daerah di Indonesia untuk survei dan memperkenalkan pariwisata Sumbar. (*/Padang Ekspres)


Another articles:

* Kisah Mantan Sopir yang Jadi Juragan Rental Mobil Mewah (2012-02-20) * Faisal Nurdin Tahara, Bisnis Bermodalkan Kepercayaan (2011-12-15) * Chandra Lie: Yang Sudah Diucap Jangan Ditarik Kembali (2011-11-26) * Sosok di Balik Sukses Lion Air (2011-11-19) * Inovasi Layanan, Kunci Sukses PO Nusantara (2011-09-02)

Edi Kurniawan, Kembangkan Bisnis Tiket ke Biro Wisata | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *