Gucci, Bertahan di Tengah Konflik

Gucci, Bertahan di Tengah Konflik

Gucci, Bertahan di Tengah Konflik

Gucci, Bertahan di Tengah Konflik

Selasa, 23 Maret 2010 14:05 Di balik gemerlap nama sebuah brand produk mode dunia, ternyata tersimpan sisi-sisi gelap dan penuh liku para pebisnisnya. Gucci adalah salah satunya.

Utang-utang menumpuk akibat operasional perusahaan, menjadikan Gucci diambang kebangkrutan pada 1989. Lantas pemegang 49 persen saham Yves Saint Laurent (YSL), Caril De Benedetti terpaksa mencairkan dana investasi di YSL.

Di tengah resesi ekonomi 1991, investor tak kunjung datang. Dalam kebingungan, akhirnya Saint Laurent dan Berge nekat membeli bagian De Bendetti yang berakibat utang semakin menumpuk.

Pada Januari 1993, mereka menyerah dan mengumumkan setuju untuk dibeli oleh Sanofi, peruahaan media dan produk kecantikan yang merupakan anak perusahaan Elf Aquitante.

Meskipun Sanofi berhak atas 100 persen bagian perusahaan Saint Laurent, rumah Couture (Maison de Couture) akan tetap dikontrol Saint Laurent dan Berge.

Lima tahun kemudian YSL beralih ke tangan Gucci Group yang membawa Tom Ford sebagai creative director untuk koleksi busana wanita siap pakai. Sementara Saint Laurent tetap merancang koleksi houte couture. Pada 2002, ia pun mengakhiri rumah couture YSL dan membiarkan Gucci terus membesarkan namanya.

Gucci pun memiliki sejarah sendiri. Pada 1923, Guccio Gucci memulai bisnis produk kulit mewah di kalangan turis dan selebritis seluruh dunia yang berkunjung ke Florence, Italia. Saat Guccio meninggal pada 1953, ketiga anaknya Rodolfo Gucci, Vasco Gucci, dan Aldo

Gucci mewarisi bagian yang sama di perusahaan. Pertengkaran keluargapun tidak bisa dihindari. Rodolfo meninggal pada Mei 1983, dan anaknya Maurizo menjadi pewaris sepertiga bagian Gucci.

Maurizo yang seorang pebisnis andal dan memiliki kepribadian cemerlang, memaksa Aldo lengser dari kursi kepemimpinan. Ia juga memaksa Paolo, yang merupakan anak dari Aldo, untuk menyerahkan bagiannya di perusahaan. Media menyebut pertikaian ini sebagai “The Gucci Wars.”

Akhir 1980-an merupakan masa pahit bagi keluarga Gucci dan kerajaan ritel mewahnya di Amerika. Aldo Gucci dituduh menggelapkan pajak dan menyalahgunakan uang perusahaan. Aldo dikenai hukuman satu tahun penjara dan denda US$30.000.

Di awal 1990-an penjualan menurun dan utang terakumulasi. Akhirnya Maurizo mengajak investor asal Bahrain, Invest Corp International, menolong perusahannya.

Pada 1992, perusahaan berganti nama menjadi Gucci Amerika Inc. Mereka rugi US$30 juta plus utang lama sebesar US$100 juta. Invest Corp pun segera memaksa Maurizo menjual 50% bagiannya di Gucci, lalu meninggalkannya.

Maurizo kembali menuntut, tapi akhirnya menyerah dan menjual sisa bagiannya di Gucci kepada Invest Corp pada September 1993. Dan keluarga Gucci pun kehilangan sebuah perusahaan legendaris.

Kepahitan keluarga Gucci bertambah ketika Maurizo Gucci ditembak pembunuh bayaran pada Maret 1995. Tiga tahun kemudian diketahui bahwa istrinyalah yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut, dan sang istri dijatuhi hukuman 29 tahun penjara.

Akhirnya tibalah masa duet Tom Ford sebagai creative director dan Domenico De Sole sebagai CEO Gucci Amerika. Pada 1995 Invest Corp memutuskan go public dan pada 1997 menjual seluruh saham akibat tingginya nilai Gucci di bursa saham.

Akhirnya pada 1999, perusahaan ritel Prancis Pinault-Printemps-Redoute (PPR) membeli 40 persen saham Gucci agar tidak jatuh ke tangan kompetitor Louis Vuitton. Sampai sekarang sentuhan Frida Gianni memberikan nafas baru bagi Gucci di luar sensualitas liar ala Tom Ford. (*/ dari berbagai sumber)

Gucci, Bertahan di Tengah Konflik | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *