Rohmad Hadiwijoyo, Ki Dalang yang Sukses Berbisnis Migas

Rohmad Hadiwijoyo, Ki Dalang yang Sukses Berbisnis Migas

Rohmad Hadiwijoyo, Ki Dalang yang Sukses Berbisnis Migas

Rohmad Hadiwijoyo, Ki Dalang yang Sukses Berbisnis Migas

Jumat, 08 Juni 2012 10:37

Rohmad Hadiwijoyo menggerakan Induk perusahaannya hanya dari sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. Dia mengembangkan bisnis di sektor perminyakan dan gas dengan bendera PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (RMI).

RMI Group sendiri membawah beberapa perusahaan. Di antaranya, PT Adinata Pandita dan PT Daya Alam Teknik Inti. RMI juga membawahkan dua perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata. Yakni, PT Bali Hai Cruises Nusantara dan PT Parwa Nusantara Technology.

Sejak memimpin perusahaan tersebut di tahun 1995, dia tidak bisa terlepas dari wayang. Pria kelahiran Salatiga, Jateng, 6 Januari 1967, itu sudah menelurkan lebih dari 40 kisah pewayangan dengan latar belakang politik. Cerita itu dikemas dalam bentuk tulisan yang dimuat di sejumlah media massa dan bahkan dijadikan buku berjudul Bercermin di Layar; Realita Antar Cerita. Kisah pewayangan itu juga pernah dipentaskan di stasiun TV dan diputar di radio.

Penggemar wayang tentu tidak asing dengan penampilan Rohmad di layar TVRI dengan tajuk Sarwo Sarwi Pedalangan. “Dengan menulis, orang akan menyukai cerita wayang, baru setelah itu suka wayang. Mengapa dibumbui politik” Kalau tidak, orang tidak tertarik,” tandas anak sulung di antara enam bersaudara itu.

Biasanya Rohmad mencari versi kekinian dari politik, kemudian mencari referensi di pewayangan. Hal itu melahirkan kisah pewayangan yang lebih mudah dipahami masyarakat secara luas. Lima tahun ini dia mengangkat tema politik dalam wayang.

Menurut dia, tidak sulit mencari sudut pandang menarik yang dapat diangkat dalam cerita yang ditulisnya. Apalagi, intrik politik di negeri ini seolah tak pernah habis. “Yang susah itu mencocokkan antara problem masa kini dan mencari tokoh di pewayangan yang mirip,” tutur pria penggemar golf itu.

Kasus Bank Century yang ramai dibicarajab beberapa tahun terakhir tak luput dari perhatiannya. Dia menuangkan dalam tulisan berjudul Baratayuda di Kuru Century yang memutar lakon Kresna Duta dari cerita kepahlawanan Mahabarata. “Yang terbaru, soal Angelina Sondakh (Angie, Red). Tapi, belum jadi. Sekarang sedang mencari angle yang bagus,” ujar pria yang menjabat ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta itu.

Kali pertama, Rohmad mengangkat kisah tentang bom di Hotel JW Marriott, Jakarta. Kebetulan peristiwa pengeboman itu ada yang berhubungan dengan dia. “Sebenarnya saya harus menghadiri acara di sana. Tapi, waktu itu tidak bisa hadir,” ungkapnya.

Rohmad lantas menggambarkan peristiwa itu dalam tulisan berjudul  Bale Segala-gala di Langit Kuningan. Sebab, saat bersamaan, secara kebetulan dia sedang menyiapkan naskah wayang kulit untuk dipentaskan. Kisah itu menonjolkan intrik politik di negeri Hastina setelah Prabu Pandu Dewantara meninggal. Nah, dalam waktu dekat dia akan menampilkan kisah tentang Sondang Hutagalung, aktivis mahasiswa yang membakar diri akhir tahun lalu.

Belakangan, job mendalang Rohmad sangat banyak. Bahkan, dalam dua tahun terakhir dia harus syuting untuk keperluan tayangan stasiun TV. Dua minggu sekali Rohmad menyediakan waktu untuk pengambilan gambar di pendapa rumahnya yang berada di kawasan Lebak Bulus. Untuk sekali syuting, dia mendalang satu jam. “Sejak itu permintaan mendalang mengalir deras,” kata Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRRSNI) itu.

April nanti, misalnya, dia tampil pada acara Yayasan Lontar yang mempromosikan sastra dan budaya Indonesia. Februari lalu, bertepatan dengan Hari Pers Nasional, Rohmad berkesempatan mementaskan lakon Ramayana bersama Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Margiono dan Ketua SPS (Serikat Perusahaan Pers) Dahlan Iskan.

Rohmad menyatakan tidak bisa memenuhi semua undangan mendalang. Sebab, mendalang bukanlah pekerjaan utama dia. Baginya, mendalang adalah sekadar minat yang ditekuni sejak SD. Keinginan menjadi dalang muncul berkat dorongan dari almarhum sang ayah yang seorang mantri kesehatan.

Salah satu pesan ayahnya yang paling diingat Rohmad adalah, kalau ingin sukses dalam hidup, harus memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan orang lain. Dia pun akhirnya menekuni wayang dengan berguru kepada dalang kondang asal Semarang Ki Joko Hadiwijoyo atau yang dikenal dengan nama Ki Joko Edan.

Rohmad nyantrik di rumah Ki Joko Edan hingga lulus SMA. Selepas SMA, dia memutuskan hijrah ke Jakarta dan menempuh kuliah di Akademi Teknik Elektromedik. Keputusan berpindah ke Jakarta muncul setelah dia gagal masuk Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan Akabri. Selama di Jakarta, Rohmad bekerja sebagai assistant office manager di lembaga statistik demokrasi asal AS Rand Corporation.

Atas dorongan sejumlah teman, Rohmad bertekad melanjutkan pendidikan ke AS. Tidak mudah bagi dia untuk menembus universitas Negeri Paman Sam. Setelah memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris, dia diterima di George Washington University di Washington DC dengan jurusan school of business and public management. Hampir dua tahun dia menempuh pendidikan di AS. “Saat di AS tidak jarang diminta mendalang di KBRI,” kenangnya.

Tuntas menempuh pendidikan, kandidat doktor lingkungan hidup di Universitas Diponegoro itu kembali ke Jakarta dan bergabung dengan RMI sejak Desember 1995. Pada 2005, dia resmi memiliki seluruh saham perusahaan yang berdiri pada 1970 itu.

Kendati telah menekuni dunia bisnis, Rohmad tetap menjalankan kegiatan sebagai dalang. Bahkan, dia berupaya mengimplementasikan filosofi wayang dalam kehidupan sehari-hari. Yakni, hidup secukupnya atau dalam wayang dikenal dengan istilah urip sak madya serta ora lelamisan atau diartikan sebagai tidak berbohong kepada siapa pun. “Sebenarnya banyak prinsip yang bisa diambil dari pewayangan. Misalnya, hasta brata yang sebaiknya diterapkan oleh seorang pemimpin,” tandasnya.

Kecintaan terhadap wayang tidak untuk dinikmati sendiri, tapi juga dibagi kepada orang lain. Oleh karena itu, dia bercita-cita untuk membuat pertunjukan wayang yang bisa dinikmati anak-anak.

“Di kota-kota besar, kebanyakan hiburan bagi anak-anak pada akhir pekan ke mal. Padahal, pergi ke mal terus-menerus mendorong mereka menjadi konsumtif di kemudian hari. Saya ingin ada lahan hijau khusus yang bisa menjadi tempat berpiknik keluarga ketika akhir pekan. Nah, di sana saya ingin mempertontonkan kisah pewayangan kepada anak-anak,” harapnya

Rohmad Hadiwijoyo menggerakan Induk perusahaannya hanya dari sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. Dia mengembangkan bisnis di sektor perminyakan dan gas dengan bendera PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (RMI).

RMI Group sendiri membawah beberapa perusahaan. Di antaranya, PT Adinata Pandita dan PT Daya Alam Teknik Inti. RMI juga membawahkan dua perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata. Yakni, PT Bali Hai Cruises Nusantara dan PT Parwa Nusantara Technology.

Sejak memimpin perusahaan tersebut di tahun 1995, dia tidak bisa terlepas dari wayang. Pria kelahiran Salatiga, Jateng, 6 Januari 1967, itu sudah menelurkan lebih dari 40 kisah pewayangan dengan latar belakang politik. Cerita itu dikemas dalam bentuk tulisan yang dimuat di sejumlah media massa dan bahkan dijadikan buku berjudul Bercermin di Layar; Realita Antar Cerita. Kisah pewayangan itu juga pernah dipentaskan di stasiun TV dan diputar di radio.

Penggemar wayang tentu tidak asing dengan penampilan Rohmad di layar TVRI dengan tajuk Sarwo Sarwi Pedalangan. “Dengan menulis, orang akan menyukai cerita wayang, baru setelah itu suka wayang. Mengapa dibumbui politik” Kalau tidak, orang tidak tertarik,” tandas anak sulung di antara enam bersaudara itu.

Biasanya Rohmad mencari versi kekinian dari politik, kemudian mencari referensi di pewayangan. Hal itu melahirkan kisah pewayangan yang lebih mudah dipahami masyarakat secara luas. Lima tahun ini dia mengangkat tema politik dalam wayang.

Menurut dia, tidak sulit mencari sudut pandang menarik yang dapat diangkat dalam cerita yang ditulisnya. Apalagi, intrik politik di negeri ini seolah tak pernah habis. “Yang susah itu mencocokkan antara problem masa kini dan mencari tokoh di pewayangan yang mirip,” tutur pria penggemar golf itu.

Kasus Bank Century yang ramai dibicarajab beberapa tahun terakhir tak luput dari perhatiannya. Dia menuangkan dalam tulisan berjudul Baratayuda di Kuru Century yang memutar lakon Kresna Duta dari cerita kepahlawanan Mahabarata. “Yang terbaru, soal Angelina Sondakh (Angie, Red). Tapi, belum jadi. Sekarang sedang mencari angle yang bagus,” ujar pria yang menjabat ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta itu.

Kali pertama, Rohmad mengangkat kisah tentang bom di Hotel JW Marriott, Jakarta. Kebetulan peristiwa pengeboman itu ada yang berhubungan dengan dia. “Sebenarnya saya harus menghadiri acara di sana. Tapi, waktu itu tidak bisa hadir,” ungkapnya.

Rohmad lantas menggambarkan peristiwa itu dalam tulisan berjudul  Bale Segala-gala di Langit Kuningan. Sebab, saat bersamaan, secara kebetulan dia sedang menyiapkan naskah wayang kulit untuk dipentaskan. Kisah itu menonjolkan intrik politik di negeri Hastina setelah Prabu Pandu Dewantara meninggal. Nah, dalam waktu dekat dia akan menampilkan kisah tentang Sondang Hutagalung, aktivis mahasiswa yang membakar diri akhir tahun lalu.

Belakangan, job mendalang Rohmad sangat banyak. Bahkan, dalam dua tahun terakhir dia harus syuting untuk keperluan tayangan stasiun TV. Dua minggu sekali Rohmad menyediakan waktu untuk pengambilan gambar di pendapa rumahnya yang berada di kawasan Lebak Bulus. Untuk sekali syuting, dia mendalang satu jam. “Sejak itu permintaan mendalang mengalir deras,” kata Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRRSNI) itu.

April nanti, misalnya, dia tampil pada acara Yayasan Lontar yang mempromosikan sastra dan budaya Indonesia. Februari lalu, bertepatan dengan Hari Pers Nasional, Rohmad berkesempatan mementaskan lakon Ramayana bersama Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Margiono dan Ketua SPS (Serikat Perusahaan Pers) Dahlan Iskan.

Rohmad menyatakan tidak bisa memenuhi semua undangan mendalang. Sebab, mendalang bukanlah pekerjaan utama dia. Baginya, mendalang adalah sekadar minat yang ditekuni sejak SD. Keinginan menjadi dalang muncul berkat dorongan dari almarhum sang ayah yang seorang mantri kesehatan.

Salah satu pesan ayahnya yang paling diingat Rohmad adalah, kalau ingin sukses dalam hidup, harus memiliki nilai lebih jika dibandingkan dengan orang lain. Dia pun akhirnya menekuni wayang dengan berguru kepada dalang kondang asal Semarang Ki Joko Hadiwijoyo atau yang dikenal dengan nama Ki Joko Edan.

Rohmad nyantrik di rumah Ki Joko Edan hingga lulus SMA. Selepas SMA, dia memutuskan hijrah ke Jakarta dan menempuh kuliah di Akademi Teknik Elektromedik. Keputusan berpindah ke Jakarta muncul setelah dia gagal masuk Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan Akabri. Selama di Jakarta, Rohmad bekerja sebagai assistant office manager di lembaga statistik demokrasi asal AS Rand Corporation.

Atas dorongan sejumlah teman, Rohmad bertekad melanjutkan pendidikan ke AS. Tidak mudah bagi dia untuk menembus universitas Negeri Paman Sam. Setelah memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris, dia diterima di George Washington University di Washington DC dengan jurusan school of business and public management. Hampir dua tahun dia menempuh pendidikan di AS. “Saat di AS tidak jarang diminta mendalang di KBRI,” kenangnya.

Tuntas menempuh pendidikan, kandidat doktor lingkungan hidup di Universitas Diponegoro itu kembali ke Jakarta dan bergabung dengan RMI sejak Desember 1995. Pada 2005, dia resmi memiliki seluruh saham perusahaan yang berdiri pada 1970 itu.

Kendati telah menekuni dunia bisnis, Rohmad tetap menjalankan kegiatan sebagai dalang. Bahkan, dia berupaya mengimplementasikan filosofi wayang dalam kehidupan sehari-hari. Yakni, hidup secukupnya atau dalam wayang dikenal dengan istilah urip sak madya serta ora lelamisan atau diartikan sebagai tidak berbohong kepada siapa pun.

“Sebenarnya banyak prinsip yang bisa diambil dari pewayangan. Misalnya, hasta brata yang sebaiknya diterapkan oleh seorang pemimpin,” tandasnya.

Kecintaan terhadap wayang tidak untuk dinikmati sendiri, tapi juga dibagi kepada orang lain. Oleh karena itu, dia bercita-cita untuk membuat pertunjukan wayang yang bisa dinikmati anak-anak.

“Di kota-kota besar, kebanyakan hiburan bagi anak-anak pada akhir pekan ke mal. Padahal, pergi ke mal terus-menerus mendorong mereka menjadi konsumtif di kemudian hari. Saya ingin ada lahan hijau khusus yang bisa menjadi tempat berpiknik keluarga ketika akhir pekan. Nah, di sana saya ingin mempertontonkan kisah pewayangan kepada anak-anak,” harapnya. (*/JPNN.com)

* Berani Gagal, Berani Tanggung Jawab (2012-03-29) * Tessar, Membuka Peluang Usaha Melalui Green Flame (2011-10-23) * Anak Polisi yang Jadi Pengusaha Tambang (2010-12-08) * Agus Lasmono, Triliuner Muda Pebisnis Batu Bara (2010-12-07) * Edwin Soeryadjaya, Indonesian Entrepreneur Of The Year 2010 (2010-11-26)

Rohmad Hadiwijoyo, Ki Dalang yang Sukses Berbisnis Migas | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *