Granto, Gabungkan Game dengah Hibah Akademik

Granto, Gabungkan Game dengah Hibah Akademik

Granto, Gabungkan Game dengah Hibah Akademik

Granto, Gabungkan Game dengah Hibah Akademik

Kamis, 19 Juli 2012 15:01

Grantoo menyediakan sebuah platform game yang menjadi tempat bagi para pelajar untuk dapat menyelesaikan permainan dan diberikan imbalan dengan hibah pendidikan atau sumbangan akademis untuk badan amal yang sesuai dengan pilihan pribadi mereka, yang disponsori oleh merek-merek tertentu. Melihat banyaknya pelajar yang menggunakan game sebagai sebuah sarana melepas penat dari rutinitas akademis yang menyesakkan, pendiri Grantoo, Dimitri Sillam dan Mikhael Naayem hendak membantu pelajar-pelajar itu tetap menikmati waktu santai tetapi tanpa meninggalkan unsur manfaat.  

Sebelumnya, Dimitri kuliah di jurusan Economics and Business Administration di Brandeis University, dan Negotiation and Strategy di Harvard University. Ia juga mendirikan OrientalPeople.com, sebuah situs kencan online yang ditujukan bagi konsumen Timur Tengah yang kemudian ia jual setelah berhasil mencapai 2 juta pengguna dan Lazeo, sebuah perusahaan penghilang bulu laser.

Grantoo masih sangat baru. Situsnya bahkan masih dalam tahap beta dan turnamen pertamanya digelar beberapa bulan lalu.

Ide untuk mendirikan Grantoo muncul di tahun 2007. Dimitri ingin membuat sebuah situs yang dapat membantu pelajar untuk melunasi tagihan SPP mereka. Saat itu ia seorang mahasiswa di Brandeis University. Ia menyaksikan banyaknya situs judi online yang ditutup di berbagai penjuru AS. âBanyak teman yang bermain poker, tak peduli dengan keadaan sekitar, dan terdapat permintaan untuk produk yang serupa tetapi sah secaa hukum. Saya mulai berpikir alangkah baiknya jika waktu yang dihabiskan pelajar-pelajar itu untuk berjudi di Internet bisa disalurkan ke sesuatu yang lebih produktif dan positif. Saat saya membicarakan ide ini dengan teman, ia berkata uang yang masuk juga perlu diberikan pada badan amal. Ia cemas bahwa satu generasi pelajar akan berada dalam kesulitan keuangan yang pelik,â ujarnya panjang lebar kepada Springwise.com.

Menurut pemuda ini, jika seorang pelajar berbagi hadiah dengan badan amal, ia akan merasakan adanya keterhubungan dengan badan amal itu dan terhadap perusahaan yang menjadi sponsor turnamen. Suatu saat nanti, pengguna lainnya akan lulus dan bekerja saat dewasa. âDan kami berharap dapat menanamkan pada mereka gagasan bahwa semua orang bisa berbuat kebajikan.â

Bagi Dimitri, setiap hari memiliki keunikan sendiri. Grantoo, katanya, adalah sebuah konsep yang amat ambisius. âBahkan ini adalah tantangan yang paling keren dan terbesar yang pernah saya tempuh. Kami memiliki pengembang di Swiss dan Rusia, sehingga saya harus bangun amat pagi untuk berbincang dengan mereka jika ada masalah koding. Tim bisnis saya berada di New York sehingg saya harus menghabiskan waktu setiap harinya untuk memastikan perusahaan mendapatkan kebutuhannya,â ucapnya detil.

Kemudian ia datang dan tinggal untuk bekerja di San Fransisco, yang menjadi tempat untuk mengerjakan desain, penjualan, kemitraan strategis dan pemasaran. Ada pula startup di luar sana yang mencoba membuat aplikasi. âKami mencoba untuk meluncurkan perusahaan game, jejaring sosial dan sebuah platform periklanan revolusioner. Kami mencoba untuk mengubah pendapat orang mengenai merek, badan amal dan game komputer,â jelas Dimitri.

Dimitri berpendapat hal yang paling berkontribusi dalam keberhasilan seorang entrepreneur ialah keyakinannya terhadap sesuatu melebihi uang dan kekayaan. Membantu mereka yang membutuhkan, tak seperti uang, menawarkan kepuasan batin bagi yang melakukan. Dimitri merasa lebih puas secara pribadi saat ia mengumpulkan lebih banyak sumbangan bagi âPartners in Healthâ yang memberikan vaksinasi kolera bagi penduduk Haiti yang rawan tertular penyakit mematikan itu.

Dimitri berbagi mengenai masih sulitnya orang awam untuk memahami inti bisnis yang ia bangun. âBanyak orang menganggap bisnis saya sebagai kasino gelap karena melihat banyaknya kartu poker tanpa mau menyaksikan apa yang ada di balik tumpukan kartu tersebut.â

Meski begitu, ia bertekad untuk memberikan pemahaman yang benar agar lebih banyak orang bersedia terlibat dalam entrepreneurship sosial yang dirintisnya.

âApa yang membuat saya terus berjuang meski banyak tantangan adalah peribahasa, âDoing well by doing goodâ. Kami mengetahui bahwa fokus kami pada bantuan pelajar dan badan amal akan membibing kami di jalan yang benar sebagai sebuah perusahaan yang berorientasi sosial,â tegas Dimitri yang mengaku banyak mengorbankan waktu tidurnya untuk mendirikan bisnis sosial Grantoo ini.

Berkenaan dengan visi dan misinya di masa depan, Dimitri mengatakan, Grantoo akan menjadi platform yang akan diadopsi di banyak universitas dan kampus besar. “Dalam 5 tahun, kami ingin menjadi sumber sumbangan utama dan bantuan beasiswa,â katanya.  

Rencananya, Grantoo akan mengeluarkan kupon dan hadiah bagi UKM lokal yang bermain game.

Dimitri mengaku harus menunda kuliahnya selama setahun saat berusia 18 tahun untuk mendirikan perusahaannya yang pertama: situs kencan online untuk pengguna di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah masa kuliah, ia memulai perusahaan baru lain, Lazeo. Uang yang ia peroleh di Lazeo, kemudian dipergunakan untuk mendanai Grantoo.

Bagi Dimitri, apa yang lebih berharga dari sekadar ambisi pribadi ialah menginginkan sesuatu kemudian bekerja keras untuk mencapainya tetapi hasilnya harus dikembalikan ke mereka yang membutuhkan. (SW/*AP)

Gambar:Granto.co

* Zainab Salbi, Dedikasikan Hidup untuk Perempuan Korban Perang (2012-04-01) * Berdayakan Warga Miskin dengan Kredit Mikro (2012-03-30) * George Galloway, Sang Aktivis Perdamaian (2012-03-16) * Kimura, Pahlawan Lingkungan Hawai (2012-03-09) * Kampanyekan Antiterorisme ke Seluruh Dunia (2012-02-29)

Granto, Gabungkan Game dengah Hibah Akademik | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *