Endro Purwanto: Mantan Jurnalis yang Sukses Berwirausaha Kuliner

Endro Purwanto: Mantan Jurnalis yang Sukses Berwirausaha Kuliner

Endro Purwanto: Mantan Jurnalis yang Sukses Berwirausaha Kuliner

Endro Purwanto: Mantan Jurnalis yang Sukses Berwirausaha Kuliner

Kamis, 28 Februari 2013 17:30

Penampilannya santai dan gaya bicaranya lugas dan lantang. Itulah sosok Endro Purwanto yang memiliki latar belakang jurnalistik sebelum menekuni wirausaha kuliner unik. Produknya berupa pisau ulir yang kemudian menggabungkan kentang dan sosis dan ia namai âTwister Dogâ.

Ia berfokus pada bagaimana mengolah makanan yang biasa saja seperti kentang dan sosis agar tampil lebih menarik di mata konsumen. âInilah inovasi baru dan di pasaran lebih bagus dan ini menjadi langkah berikutnya setelah saya meluncurkan kentang ulir,â jelas Endro. Ia merancang Twister Dog sebagai produk berikutnya yang akan mengobati kebosanan dengan kentang ulir.

Trik dalam usaha kulinernya cukup sederhana. âDengan membuat Twister Dog, konsumen ditawari makanan yang sedikit lebih mahal tetapi sudah ada dagingnya serta berpenampilan lebih menarik,â paparnya.

Saat ditanya Ciputraentrepreneurship.com dalam sebuah wawancara, Endro mengaku mendapat inspirasi produk kuliner kentang ulirnya dari negeri ginseng Korsel. Berawal dari sana, produk itu merambah ke mana-mana hingga ke Singapura, Malaysia, Australia, dan sebagainya.

Respon masyarakat terhadap kentang ulir relatif bagus, jelas Endro. Terbukti pihaknya telah memproduksi dan menjual pisau ulir untuk membuat kentang ulir sebanyak 600 unit lebih sejak tahun 2011.

Dalam bisnis ini, Endro tidak menerapkan konsep kemitraan, atau waralaba, dan sejenisnya. âSaya hanya menerapkan sistem jual putus,â tuturnya.

Ia menjual produk pisau ulir seharga Rp 1,5 juta. âSaya menganggap usaha saya ini sebagai sebuah upaya transfer teknologi,â terang pria berkumis ini. Semua pembeli tanpa terkecuali dapat membuat pisau ulir sendiri dan jika rusak mereka dapat menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitarnya. Mereka tidak harus menggunakan suku cadang khusus dari Endro. Ia menggunakan bahan pralon, penjepit kentangnya ia ambil dari blender, tusukan kentang juga dibuat dari jari-jari sepeda motor, pisaunya jenis cutter (yang dapat dibeli di toko) dan sebagainya. âBarang-barang yang saya pakai ini mudah dijumpai di lapangan. Saya juga tidak keberatan jika di-copy paste. Silakan saja karena justru saya senang karena berarti akan ada makin banyak orang yang mendapatkan manfaat dari usaha seperti ini,â tegasnya.

Meskipun terlihat sederhana dan bermodal rendah, keuntungan berjualan kentang ulir dan Twister Dog tidak bisa dipandang sebelah mata. âDengan hanya modal Rp 2000, labanya bisa Rp 8000. Margin keuntungannya cukup menjanjikan,â ia menjelaskan. Mereka yang sudah mencoba berjualan produk ini di akhir minggu, kata Endro, bercerita bahwa dalam satu hari berjualan saja, omsetnya sudah bisa mengalahkan gaji mereka menjadi karyawan dalam sebulan. Mereka rata-rata berjualan di tempat ramai seperti ruas jalan protokol saat momen hari bebas kendaraan bermotor. Karenanya usaha kulinernya itu cocok bagi mereka yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan di samping pekerjaan utama. Ia tertarik untuk mengajak para pekerja kantoran yang memiliki waktu luang untuk menafaatkan waktu dengan lebih produktif, caranya dengan mulai berbisnis kecil-kecilan.

Endro bercerita awal mula berkecimpungnya dalam dunia jajanan ini terjadi di tahun 2010. Sebelumnya ia sudah memperkenalkan produk âes krim gorengâ. Dan sebelum itu ia juga pernah mengecap pengalaman sebagai wartawan dan fotografer di harian Pos Kota. Kesukaannya pada fotografi dan desain grafis membuatnya tidak merasa aneh saat harus mengerjakan semua materi promosi bisnisnya sendiri. Ia sudah terbiasa dan bahkan menyukai itu semua.

Menurutnya, usaha makanan seperti ini cocok juga diadopsi bagi mereka yang mau mencicipi dunia wirausaha tetapi belum memiliki banyak modal. âSaya lebih suka memberikan orang kesempatan untuk berusaha dulu daripada berteori tentang kapan akan mencapai titik impas, dan sebagainya. Banyak yang belum mulai apa-apa sudah menanyakan ini itu dan malah tidak jadi mulai,â katanya.

âNamanya usaha itu harus dijalani dulu. Jangan ngomong BEP (titik impas) atau apa. Baru setelah tahu asam manisnya, bisa berpikir lebih lanjut untuk meningkatkannya lebih baik lagi,â sarannya pada mereka yang mau berbisnis tetapi masih ragu karena terlalu banyak pertimbangan. Apalagi dengan perbedaan dalam berbagai faktor, seorang entrepreneur perlu merasakan sendiri bagaimana menjalankan bisnis dan kemudian melakukan analisisnya sendiri. Tanpa terjun dulu, ilmu dan analisis itu tidak akan tercapai. Analisis itu haruslah didapatkan dari pengalaman entrepreneur itu sendiri, bukan berdasarkan data eksternal milik pihak lain yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang ia hadapi. âMisalnya saja di sini saya jualan laku, tetapi di daerah lain, belum tentu,â ia memberikan contoh sederhana.

Selama berbisnis, Endro tidak merasakan adanya kendala berarti karena yang utama ia melakukan semua itu berdasarkan niat yang tulus untuk membantu sesama yang ingin menyejahterakan diri dan orang lain. âSaya tidak mau menerapkan sistem franchise karena rasanya tidak tega untuk memungut biaya tetapi saya tidak ikut langsung berusaha di dalamnya,â jelasnya.

Ia juga menyinggung tentang ampuhnya memberikan kesan misterius pada nama produk makanan yang dijual. âItulah misteri nama. Misalnya pada produk es krim goreng yang banyak mendapatkan sambutan masyarakat. Hal itu karena promosi yang bombastis dan konsumen sudah heboh duluan karena belum mengetahui secara jelas dalam benaknya seperti apa bentuk dan cita rasa es krim goreng,â ujar Endro. Ada bisnis-bisnis yang sebenarnya kita hanya berjualan nama produk.

Selain itu, ia juga membeberkan rahasia sukses meluncurkan produk makanan. Setelah memberikan nama yang menarik perhatian dan unik, kita harus menempatkan produk itu sebagai menu utama, bukan sebagai sub menu atau menu pelengkap. âItu salah, jadikan produk itu sebagai raja,â ungkap Endro. Di sini cara menjual sangat menentukan kesuksesan produk, dan itu hanya didapatkan dari pengalaman terjun langsung di pasar. (*Akhlis)

* Social Entrepreneurship ala Saptuari (2013-02-22) * Titik Winarti, Sang Pemberdaya Penyandang Cacat (2013-01-31) * Jatuh Bangun Bambang Krista, Bos Ayam Kampung Super (2013-01-28) * Winsen Setiawan Ekspor Batu Alam via Online (2012-11-21) * Berdayakan Masyarakat dan Selamatkan Lingkungan dengan Bisnis Sosial (2012-10-11)

Endro Purwanto: Mantan Jurnalis yang Sukses Berwirausaha Kuliner | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *