Lilik Oetama Kibarkan Nama Dyandra di Indonesia

Lilik Oetama Kibarkan Nama Dyandra di Indonesia

Lilik Oetama Kibarkan Nama Dyandra di Indonesia

Lilik Oetama Kibarkan Nama Dyandra di Indonesia

Jumat, 26 April 2013 11:35

Industri jasa penyelenggara pertemuan, insentif, konferensi, dan ekshibisi (meeting, incentive, conference and exhibition/MICE) semakin marak seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan kian terintegrasinya Indonesia dengan negara-negara di forum internasional. Indonesia belakangan ini menjadi salah satu tujuan MICE dunia.

Menyikapi kondisi ini, PT Dyandra Media International (DMI) yang sudah berada di industri ini sejak 19 tahun lalu terus berbenah diri. Bagian dari kelompok bisnis Kompas Gramedia, Dyandra yang membawahi 35 anak perusahaan strategis ini menyediakan jasa MICE yang terintegrasi. Dyandra kini menguasai 80 persen pangsa MICE di Indonesia. Dyandra didukung empat pilar bisnis utamanya, yakni professional exhibition/event organizer, hotels, convention centers, dan exhibition/event supports.

Guna meningkatkan kinerja dan semakin memperkuat posisi industri MICE Indonesia di kawasan, Dyandra segera menawarkan saham di Bursa Efek Indonesia bulan Maret ini. Dyandra menjadi industri MICE pertama di Indonesia yang tercatat di bursa saham.

Seperti apa prospek industri MICE dan langkah strategis Dyandra ke depan, berikut petikan wawancara dengan Chief Executive Officer Dyandra Media International Lilik Oetama, yang ditemui di Jakarta, Jumat (15/2/2013). Lilik ditemani Danny Budiharto, Direktur Operasional Dyandra.

Apa tujuan dari IPO nanti?

Demi pertumbuhan yang lebih baik, Dyandra perlu membangun properti-properti sendiri. Kita akan memanfaatkan leverage yang didapatkan dari dana masyarakat sebaik mungkin sekaligus masyarakat akan memanfaatkan kelayakan tata kelola perusahaan. Hasil IPO akan digunakan untuk 30 persen modal kerja, 30 persen belanja modal, dan 30 persen untuk bayar utang.

Bisnis MICE ke depan?

Sangat baik. Contoh, waktu pertama bikin pameran mobil (Indonesia International Motor Show/IIMS) tahun 2000 butuh areal pameran 5.000 meter persegi. Tahun 2012 butuh areal 70.000 meter persegi. Tahun ini diminta areal 100.000 meter persegi. Jadi terus berkembang.

Santika Premiere Dyandra Hotel and Convention di Medan mempunyai convention center. Mulai tahun lalu juga sudah digelar pameran mobil di sana. Dyandra juga memiliki Nusa Dua Convention Center. Di Surabaya ada Gramedia Expo. Dyandra juga akan bangun hal serupa di Makassar karena pasarnya besar. Dyandra sedang membangun

Indonesia International Convention and Exhibition Center di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Untuk tahap pertama dibangun seluas 200.000 meter persegi di atas lahan 25 hektar.

Tahun lalu, wisatawan asing ke Indonesia 8 juta orang. Tahun ini ditargetkan 9 juta. Singapura tahun lalu 14 juta dan Malaysia 20 juta orang. Kita punya Bali, Lombok, dan Medan yang unggul dibanding negara lain. Prospek MICE masih tinggi.

Bagaimana perbandingannya dengan di luar negeri?

Bisnis ini menarik. Di Indonesia, Dyandra menjadi perusahaan MICE pertama yang akan listing. Di luar negeri sudah ada yang listing. Pemain global juga banyak dengan kapitalisasi pasar besar. Di Asia Tenggara, industri MICE masih rendah. Gedung di Indonesia paling hanya menawarkan areal 2.000-3.000 meter persegi. Dyandra nantinya akan membawa Bali untuk bersaing dengan Hongkong dan Singapura di industri MICE ini.

Bagaimana peta kompetisi bisnis ini di Indonesia?

Sejumlah event organizer asing masuk ke Indonesia. Modal dan pengetahuan mereka besar. Mereka jadi pesaing utama. Kita harus tetap menjadi raja di negeri sendiri. Ekonomi Eropa lagi turun, ekonomi AS stagnan. China dan India relatif jenuh. Saat ini, semua melirik ke Indonesia,

Tetapi, kami tak khawatir karena Dyandra adalah perusahaan MICE terintegrasi. Dyandra punya hotel, gedung konvensi, dan perusahaan pendukung. Kami lebih percaya diri menghadapi pemain global. Dengan bergabung dalam grup Kompas Gramedia juga keunggulan tersendiri. MICE terintegrasi menjadi keunggulan.

SDM cukup memadai?

Kami sudah berpengalaman. Namun, Dyandra tetap menyekolahkan karyawan dengan bidang manajemen acara ke Jerman dan Inggris. Kami juga membentuk usaha patungan dengan perusahaan besar.

Keunggulan lain yang ditawarkan di bidang hospitality?

Kami konsisten dan presisten di EO (event organizer). Event dan pameran yang dipegang Dyandra selalu memuaskan dan terus dipakai. Semuanya hasil pengembangan sumber daya manusia di dalam negeri dan luar negeri. Kini muncul perkembangan lain, misal peluncuran mobil saat pameran. Dari tahun ke tahun penjualan mobil saat pameran ikut meningkat.

Kinerja keuangan?

Tahun lalu mencatat pendapatan Rp 800 miliar. Tahun ini diperkirakan menjadi Rp 1,2 triliun. Pertumbuhan Dyandra rata-rata 20 persen pada lima tahun terakhir. Sejauh ini 70 persen pendapatan disumbang event seperti pertemuan APEC, WTO, dan pameran IIMS. Tahun 2014 ditargetkan jadi 50-50 persen. Dyandra terus merger dan akuisisi pada setahun terakhir untuk dorong pendapatan.

Kamar hotel yang dimiliki?

Saat ini ada 1.001 kamar. Tahun ini buka empat hotel dengan 500 kamar. Sampai akhir tahun 2013, target 3.000 kamar dan akhir tahun 2015 ada 5.000 kamar. Kami lebih banyak di hotel budget. Nilai kembalinya (return on investment) lebih bagus.

Regulasi di bisnis MICE?

Sejauh ini pemerintah mendukung. Tantangan bisnis ini adalah keamanan dan politik. Jangan ada bom lagi. Tetapi kini Indonesia aman, artis asing pun berdatangan. Konser ramai. Dyandra, misalnya, bisa mendatangkan Jennifer Lopez dan David Foster. (bn)

* Adrie Subono, Sang Raja Konser (2013-04-23) * I Nyoman Londen, Dari Pemulung Kini Jadi Pengusaha Kafe (2013-04-21) * Tung Desem Waringin, Sang Inspirator Ulung (2013-04-13) * Andrie Wongso: Kungfu Mengajarkan Saya Cara Berbisnis (2013-04-11) * Kontribusi Mochtar Riady Memajukan Perekonomian Indonesia (2013-04-06)

Lilik Oetama Kibarkan Nama Dyandra di Indonesia | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *