Bisnis Perbankan Tak Terganggu Dengan Kasus Investasi Emas Bodong

Bisnis Perbankan Tak Terganggu Dengan Kasus Investasi Emas Bodong

Bisnis Perbankan Tak Terganggu Dengan Kasus Investasi Emas Bodong

Bisnis Perbankan Tak Terganggu Dengan Kasus Investasi Emas Bodong

Minggu, 05 Mei 2013 21:06

Penipuan investasi emas tidak berdampak ke bisnis emas bank syariah. Bahkan, kasus yang merebak setahun terakhir itu justru mendatangkan berkah bagi bank pemilik layanan ini.

BNI Syariah misalnya. Manajemen anak usaha Bank BNI ini mengaku kasus investasi bodong tidak berdampak apa-apa. “Malah, nasabah  mencari tempat yang aman, terutama di bank syariah,” ujar Imam Teguh Saptono, Direktur Bisnis BNI Syariah.

Menurut dia, dengan terungkapnya penipuan itu, masyarakat belajar dari pengalaman. Mereka semakin peka jika ada tawaran emas yang mampu memberikan return tetap setiap bulan.

“Lagipula, harga emas seperti di GITS lebih tinggi. Sementara kami tidak ada skema semacam itu. Nyicil, ya, nyicil saja sesuai dengan harga emas hari pertama pembelian,” jelas Imam.

Berkaca pada situasi itu, manajemen semakin optimistis, target tahun ini tercapai. BNI Syariah menargetkan mampu menjual emas senilai Rp 300 miliar. Adapun realisasi saat ini Rp 17 miliar. Terbilang kecil, memang. Maklum, pembiayaan emas atawa murabahah BNI Syariah baru meluncur tiga minggu lalu.

Manajemen mengklaim, bisnis ini berisiko kecil. Soalnya, investasi emas bersifat jangka panjang. Paling pendek hanya dua tahun. Tenor pendek menyulitkan gerak-gerik spekulan yang sering ‘keluar masuk’ demi keuntungan instan. “Jadi ini murni investasi, bukan spekulasi,” tukas imam.

Sekadar informasi, manajemen membatasi pembiayaan emas maksimal Rp 150 juta, sesuai peraturan Bank Indonesia (BI). Selama ini, yang paling laris adalah emas 10 gram, 50 gram, dan 100 gram.

Bank Mega Syariah juga optimistis dengan bisnis emas. Bank syariah yang terafiliasi CT Corp ini menargetkan pembiayaan gadai emas tahun ini Rp 750 miliar. Adapun realisasi sepanjang 2012 berkisar Rp 450 miliar, naik 50% dibanding 2011. Jika dihitung hingga Februari lalu, outstanding gadai emas Rp 500 miliar.

Benny Witjaksono, Direktur Utama Mega Syariah, mengaku sempat galau dengan maraknya kasus wanprestasi emas. Tapi, manajemen langsung mengantisipasi dengan meningkatkan lagi kepercayaan nasabah. “Indikatornya bisa dilihat dari tidak adanya nasabah yang melakukan withdrawal (penarikan) besar – besaran,” imbuh Benny.

Bank Syariah Mandiri (BSM), yang namanya sempat dicatut GTIS, menargetkan omzet gadai emas di 2013 naik 57,8 persen ke Rp 6 triliun. Untuk menggenjot omzet, BSM bekerjasama dengan PT Pos Indonesia. “Ini tentu berpotensi mempercepat pertumbuhan bisnis gadai BSM,” ucap Direktur Utama BSM Yuslam Fauzi, Kamis (21/3/2013).

Kerjasama ini juga untuk memperbaiki bisnis emas BSM yang sempat anjlok akibat aturan BI. Jika pada 2011 gadai emas meraih omzet sebesar Rp 12,5 triliun, pada 2012 produk ini hanya sanggup mengeruk Rp 3,8 triliun. Adapun outstanding di 2012 sebanyak Rp 1,4 triliun.  “Memang ada penurunan tapi ini membuat pertumbuhan lebih sehat karena tidak lagi spekulasi,” ujar Yuslam Fauzi.

Tahun ini, BSM bakal membuka konter gadai emas di 50 outlet kantor pos.  Kemudian, pada tahun 2015 ada tambahan 100 outlet. “Potensi gadai emas di tahun 2015 mencapai Rp 300 triliun. Sedangkan saat ini baru terserap Rp 100 triliun,” ujar dia. (bn)

* Ada 6 BUMN Bermasalah dengan Outsourcing (2013-05-03) * BPK Laporkan 26 Perusahaan Tambang ke Mabes Polri (2013-05-02) * Terkendala Regulasi, Foxconn Cemas Berinvestasi (2013-01-08) * Terkait Hambalang, KPK Geledah Kantor Biro Perjalanan (2012-11-01) * Peredaran Uang Palsu Rp 1 M Digagalkan (2012-10-10)

Bisnis Perbankan Tak Terganggu Dengan Kasus Investasi Emas Bodong | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *