Dulang Rupiah dari Bisnis Perlengkapan Taman

Dulang Rupiah dari Bisnis Perlengkapan Taman

Dulang Rupiah dari Bisnis Perlengkapan Taman

Dulang Rupiah dari Bisnis Perlengkapan Taman

Jumat, 24 Mei 2013 13:12

Perceraian kedua orangtuanya justru membuat Bernardo semakin tangguh menjalani hidup. Terbiasa Mandiri karena jauh dari orangtua, menggiringnya ke arah sukses. Pada usia yang terbilang muda, Ardo sudah memiliki perusahaan produsen pot dan perlengkapan taman, dengan omzet puluhan juta per bulannya. Usaha ini dimulainya saat masih menjadi mahasiswa semester dua. Berawal dari kesukaannya mendesain pot dan tanaman di taman rumahnya, pria yang akrab disapa Ardo ini merasa yakin ada peluang bagus di bidang ini.

Dengan modal dari pengembangan tanaman yang ada di halaman rumahnya di perumahan villa Tamara, Ardo memulai bisnis ini. Dari hasil penjualan tanaman itu, sedikit demi sedikit dia membeli bahan untuk membuat pot.

Merasa cara pemasarannya kurang efektif, karena hanya mencakup sekitar kawasan perumahan, Ardo mulai memikirkan lokasi baru yang strategis untuk bisnisnya. Kurang dari setahun, pemuda asal Malang, Jawa Timur ini pun hijrah, setelah mendapatkan lapak di pasar tanaman hias di Jalan Mayjend Soeprapto.

âSaya juga melihat, barang yang saya jual nyambung dengan komoditas pedagang lain di kawasan ini,â katanya saat ditemui di gerai sekaligus pabrik potnya. Melihat pangsa pasar tanaman hiasnya lebih sempit di lokasi baru itu, dirinya lebih fokus memproduksi pot bunga dan hiasan pekarangan seperti air terjun buatan.

âTapi saya tidak meninggalkan tanaman hias. Hanya saya kurangi karena di sini sudah banyak yang jual,â katanya seperti dilansir Kaltim Post.

Terus berkembang karena makin tingginya pesanan, Ardo yang awalnya turut bekerja bersama dua rekannya, kini telah memiliki empat karyawan. Lulusan Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Samarinda ini, sekarang tak lagi berkutat langsung dengan produk-produknya.

âKeempat karyawan saya datangkan langsung dari Malang. Mereka sudah punya kemampuan di bidang ini, jadi tidak perlu diajarkan lagi,â ucap sarjana hukum ini. Kini, Ardo hanya rutin membuatkan desain untuk produk-produknya.

Jika dilihat di tempat usahanya, memang tak banyak pot ataupun water wall yang ada dan sedang dibuat. Itu karena perusahaannya lebih banyak memproduksi barang berdasarkan pesanan. âSaya hanya pajang seperlunya saja di lapak,â kata sulung dari empat bersaudara ini.

Dia menyebut, pemesan pot yang lebih banyak dari water wall, banyak datang dari instansi pemerintahan hingga Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Karya perusahaannya, sudah menembus pasar hingga Bontang dan Sangatta.

Dengan jangkauan bisnis yang mulai luas tersebut, Ardo sudah merencanakan pembukaan cabang di Bontang. âJadi biar saya yang menjemput pasar, supaya mereka tidak perlu jauh-jauh datang ke Samarinda,â katanya.

Selain usaha pekarangan ini, dia juga memiliki usaha bebek petelur, dengan omzet yang kadang sama besarnya. Kini, dia tengah merancang bisnis baru untuk diwaralabakan. âSaya mau buka kedai teh. Semua sudah siap, tunggu perlengkapannya datang saja lagi,â katanya.

Penyuka tembang-tembang Iwan Fals ini mengaku, sebagian besar pemasukan memang berasal dari pesanan-pesanan yang omzetnya kadang mencapai Rp 100 juta. âJarang ada yang seperti itu. Tapi, kata dia, paling sedikit, omzet per bulan perusahaan ini berkisar di angka Rp 40 juta.

Untuk pot atau tempat air, Ardo mematok harga antara Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu per unitnya. Sedangkan water wall, dihargainya paling murah Rp 4 juta rupiah. âHarga tergantung ukuran, bahan, dan tingkat kesulitan,â jelasnya.

Dia menerangkan, bahan produk memang tak semua berasal dari semen. Beberapa di antaranya ada yang dibuat dari batu sendi, yang didatangkan langsung dari Jawa Timur. âHarganya lebih mahal dari yang dari semen,â ucapnya.

Empat tahun berbisnis, kini Ardo mulai dihadapkan dengan masalah cukup berat. Bersama lima pengusaha tanaman hias di pasar tanaman hias tersebut, mantan teller bank swasta ini terancam digusur, karena lokasi mereka akan dijadikan pusat Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

âKami ditawari lokasi baru, tapi tempatnya kurang strategis. Kami bersedia pindah, karena ini memang lahan pemerintah, asal, tidak jauh-jauh dari sini,â ucapnya.

Lokasi yang dianggapnya sudah serasi dengan komoditasnya itu, tidak mudah didapatkan di tempat lain. âApalagi kondisi pasar sebentar lagi akan bagus karena masuk musim pilkada,â pungkasnya. (as)

* Makin Makmur dengan Kreasi Tas (2013-05-17) * Omzet Miliaran dari Bisnis Lilin (2013-05-14) * Eka Putra, Lulusan SMA yang Cetak Omzet Ratusan Juta (2013-05-14) * Raup Rupiah dengan Radio Jadul (2013-05-02) * Cetak Omzet Ratusan Juta Berkat Bisnis Kaus Anak-anak (2013-04-18)

Dulang Rupiah dari Bisnis Perlengkapan Taman | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *