Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI

Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI

Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI

Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI

Selasa, 28 Mei 2013 09:23

Passion (gairah) untuk menggeluti industri teknologi informasi (TI) selalu berkobar dalam jiwa Harry Surjanto. Passion itu pula yang telah mengantarkannya menduduki posisi puncak sebagai presiden direktur PT Computrade Technology International (CTI).

Harry Surjanto memulai semuanya dari nol. Dengan kerja keras, kegigihan, dan gairah yang menggebu-gebu, ia membangun CTI. Hasilnya, hanya dalam tempo 10 tahun, CTI tumbuh dan berkembang menjadi salah satu perusahaan TI terkemuka di tanah Air. CTI bahkan telah sukses melahirkan enam anak usaha.

Salah satu kunci kesuksesan Harry Surjanto adalah menghilangkan ketergantungan karyawan pada seseorang, terutama dirinya, dan membuang jauh-jauh “superman” dari perusahaan.

âSuatu perusahaan, apalagi dengan banyak karyawan, tidak bisa dikelola oleh satu orang. Tidak ada superman. Makanya, orang-orang di level bawah harus dikasih kesempatan untuk tumbuh. Jika karyawan diberi kesempatan memiliki karier yang baik, maka perusahaan pun akan tumbuh dengan baik,” kata Harry Surjanto di Jakarta, belum lama ini.

Banyak cara mendorong karyawan di level bawah untuk terus tumbuh dan berkembang. “Yang paling penting, saya harus terbuka, memberi mereka kesempatan, rela jika mereka berbuat salah, dan berani memberikan wewenang kepada mereka,â ujar dia.

Harry Surjanto bukanlah tipe atasan yang otoriter. Ia percaya, mendengarkan orang lain, termasuk karyawan di level bawah, bisa menyerap hal-hal positif yang dapat membesarkan perusahaan.

Harry juga menjunjung tinggi dua hal, yakni integritas dan kerendahan hati. âIntegritas merupakan hal utama. Yang kedua, rendah hati. Rendah hati adalah asal-muasal ilmu pengetahuan. Dengan rendah hati, kita bisa mendengarkan orang lain,â tuturnya. Berikut wawancara dengan Harry seperti dinukil dari Investor Daily:

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda? Tidak ada grand plan yang demikian hebat. Saya menempuh pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, jurusan teknik elektro, lulus pada 1989. Kemudian saya bekerja di bidang TI sampai saat ini. Awalnya, saya memang ingin bekerja di bidang teknik. Saya masuk PT Multipolar Corporation Tbk pada awal 1990. Saya bekerja di perusahaan ini selama hampir 14 tahun.

Kemudian, mulai mengembangkan usaha distributor Multipolar, dari 2001 sampai 2002. Multipolar tidak pernah jauh dari bidang distributor chip. Namun, perusahaan ini mulai bergerak ke arah jasa konsultan TI. Akhirnya berdirilah PT Computrade Technology International (CTI), saya menjabat sebagai presiden direktur CTI sejak 2003 sampai sekarang.

Bagaimana perkembangan bisnisnya? Sejak 2003, CTI meneruskan model bisnis Multipolar yang sudah ada. Terdapat dua merek utama yang kami distribusikan, yakni Oracle untuk produk peranti lunak (software) dan IBM untuk produk peranti keras (hardware). Pada prosesnya, kami terus mengembangkan jaringan distribusi ini.

Saat ini CTI sudah memiliki enam anak perusahaan, yaitu Blue Power Technology (BPT) yang fokus menyediakan produk software dan hardware IBM, Central Data Technology (CDT) sebagai perusahaan yang fokus menyediakan software dan hardware dari Oracle, dan Virtus Technology Indonesia (VTI) yang menyediakan solusi network. Tiga anak usaha CTI ini merupakan perusahaan yang paling matang.

Selanjutnya, karena para mitra bisnis membutuhkan tenaga ahli TI, kami melihat peluang tersebut dengan mengembangkan bisnis outsourcing. Maka berdirilah Xsis Mitra Utama (Xsis) yang fokus pada outsourcing sumber daya manusia (SDM). Dua anak usaha CTI lainnya, XDC Indonesia, menyediakan infrastruktur TI untuk perusahaan skala menengah, dan Niaga Prima Paramitra (NPP) fokus pada layanan jasa TI. Perusahaan ini fokus melakukan implementasi TI secara end-to-end.

Ada kesulitan bekerja dari teknis ke sales? Ya, saya akui pada awalnya sedikit sulit. Orang marketing itu harus banyak komunikasi. Tapi saya berupaya menyesuaikan diri.

Apa saja tantangan menjalankan bisnis TI? Tantangannya berbeda-beda. Dari awal, kami harus membangun perusahaan untuk bisa diterima. Saat sudah mulai berdiri, strateginya pun berbeda. Sekarang CTI sudah berusia 10 tahun, sudah cukup dikenal orang. Kalau dulu kami mulai dengan 20 orang karyawan, sekarang total hampir 500 orang.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana bisa terus bertumbuh. Selain itu, bagaiamana terus mengenal pasar. Kini kami juga fokus, bagaimana memberikan kesempatan kepada 500 orang karyawan untuk bisa berkarier dengan baik. Kalau mereka bisa berkarier dengan baik, perusahaan ini pasti akan berkembang.

Menurut saya, perusahaan yang tidak sehat itu adalah perusahaan yang tidak bisa memberikan kesempatan karier yang baik bagi karyawannya. Ada banyak perusahaan yang mengangkat karyawan, tanpa diperlukan. Hal ini bisa berakibat fatal, karena bisnis perusahaan tidak bertumbuh. Aturan ini sering dibuat sendiri oleh para pemiliknya.

Oleh karena itu, saya pun tidak pernah membuat aturan secara sembarangan. Saya selalu bicara kepada para karyawan. Kita harus tumbuh dengan cara yang substantiaded, supaya saya bisa memberikan kesempatan berkarier bagi para karyawan.

Model kepemimpinan apa yang Anda terapkan? Kuncinya, semua orang harus sadar perusahaan ini perlu terus naik. Caranya yaitu dengan mempromosikan seseorang karena memang berkemampuan, bukan mempromosikan orang karena dia sudah tua dan sebagainya. Kami ingin memberikan kesempatan kepada semua untuk tumbuh bersama. Dan, ini perlu pemikiran bersama.

Pada 2011, ketika karyawan kami 300 orang, dan pertama kali menembus revenue Rp 1 triliun, saya bilang perusahaan ini sudah besar. Pada awal 2012, saya bilang, saya tidak bisa lagi berkontribusi sesignifikan yang dulu. Saya mengajak para mitra untuk ikut berkontibusi. Kalau tidak, kami akan tersendat.

Satu lagi, Kami selalu menerima kembali orang yang sudah resign dari perusahaan dengan baik-baik, untuk bekerja di tempat kami lagi. Paling tidak, dua direksi di CTI pernah keluar dan kemudian kembali lagi. Bahkan, di level bawah jumlahnya lebih banyak. Ini menunjukkan, Kami hanya mencoba memberikan kesempatan kepada karyawan untuk melihat dunia luar. Tapi dengan catatan, mereka bisa kembali bergabung dengan CTI kalau keluar dengan baik-baik.

Cara Anda mengelola karyawan? Pertama, tidak bisa dikerjakan oleh satu orang, tidak ada superman. Oleh karena itu, orang-orang di level bawah harus dikasih kesempatan untuk tumbuh. Untuk mendorong mereka mau tumbuh, ya kami harus terbuka, memberi mereka kesempatan, berani merelakan kalau mereka berbuat salah, berani memberikan wewenang kepada mereka. Kami harus berani melakukan itu semua.

Karyawan di level bawah akan berhubungan dengan atasannya. Mereka sudah jarang bertemu saya. Paling sering, mereka bertemu atasan di level manager.

Pada awal berdiri CTI, saya fokus mengenai eksistensi perusahaan, bagaimana bisa bertahan. Pada saat itu mungkin orang melihat one man show. Proses membangunnya sekitar dua sampai tiga tahun. Momen penting setelah itu, perusahaan ini seperti anak remaja, yakni menentukan arah mau dibawa ke mana. Dan, ini terlihat dari grafik perusahaan selama 10 tahun. Pertumbuhan awal naik, lalu sedikit agak datar, kemudian naik lagi. Kalau saya menyebut ini sustainability model. Kami perlu waktu dua sampai tiga tahun menemukan definisi sustainability model.

Kedua, saya mulai masuk ke tahap pendelegasian. Tim inti mulai dibangun, karena saya tidak bisa sendirian lagi.

Saya baru menyadari, sebelum CTI dipecah jadi enam, sebenarnya kami sudah fokus mengembangkan usaha. Kesadaran ini membantu kami dalam tahap pendelegasian, yakni hanya membuat model bisnis yang sama pada beberapa divisi, tapi sisanya adalah pintar-pintarnya setiap divisi mengembangkan model bisnisnya. Setelah dipecah jadi enam, pertumbuhan bisnis ternyata bisa lebih cepat. Nah, sekarang kami kembali pikirkan lagi ke arah mana perusahaan ini bakal bergerak.

Bagaimana dengan go regional? Go regional memang sudah lama kami rencanakan. Idenya seperti ini, pertama model bisnis kami yang tradisional mulai menampakkan uniqueness. Para prinsipal kami juga meminta menerapkan ini di regional. Di Indonesia, pemain asing sudah masuk semua. Banyak orang bilang, mereka menjadi kuat dan besar karena mereka main di beberapa negara. Lalu kenapa kami tidak seperti itu?

Di Indonesia, perusahaan TI yang sudah besar, jarang ekspansi ke luar. Berbeda dengan Singapura, perusahaan kecil di sana sudah ekspansi ke luar negeri. Akhirnya, kami percaya diri untuk memutuskan ekspansi ke regional, dengan pertimbangan perusahaan sudah mature dan ruang gerak bisa lebih luas. Negara yang disiapkan untuk ekspansi CTI yaitu Malaysia. Model bisnisnya akan seperti tiga anak perusahaan CTI yang sudah mature.

Apa filosofi hidup Anda? Saya selalu mengatakan kalau Anda ingin orang lain berbuat baik kepada Anda, maka Anda harus berbuat baik kepada orang lain. Jika Anda tidak ingin orang lain berbuat jahat kepada Anda, maka jangan berbuat jahat juga kepada orang lain.

Itu juga berlaku di perusahaan? Untuk di perusahaan, hal yang utama adalah integritas. Yang kedua yaitu rendah hati, saya lebih menggaris bawahinya sebagai tidak sombong, mau mendengarkan orang lain. Saya yakin setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan merasa menjadi chief executive officer (CEO) adalah menduduki jabatan yang paling tinggi, lalu merasa paling pintar.

Dengan mendengarkan orang lain, kita bisa belajar banyak. Rendah hati adalah asal ilmu pengetahuan, karena kita bisa mendengarkan orang. Intinya adalah keinginan untuk terus menggali. Nilai selanjutnya yang dipakai di perusahaan adalah selalu ingin lebih baik. Saya berharap, nilai-nilai ini tidak akan bertentangan dengan keyakinan apa pun karena sifatnya universal. Harapan saya, nilai-nilai tersebut bisa diterapkan setiap orang di perusahaan. Kalau nilai ini dipakai, individu akan tumbuh, dan perusahaan juga akan tumbuh.

Banyak orang bertanya, kenapa perusahaan TI punya value seperti ini. Menurut kami, perusahaan TI berbeda dengan perusahaan manufaktur yang punya pabrik. Kunci perusahaan TI itu people. Jadi ini penting sekali.

Obsesi Anda yang belum tercapai? Obsesi saya bukan tentang pendapatan yang tinggi. Tapi, saya ingin orang-orang punya value, saya membanyangkan organisasi itu seperti orang yang berjalan. Menyenangkan sekali, saya berinteraksi dengan para karyawan, namun bukan sebagai leader. Contohnya, saya selalu menjalankan rencana pada satu protokol. Saya selalu bertanya kepada karyawan mengenai apa yang sedang mereka kerjakan. Kenapa saya bertanya seperti ini, karena setiap orang punya prioritas dan pekerjaannya sendiri.

Ketika ingin memberikan sebuah tugas, saya pun ikut menimbang, lebih penting tugas yang akan saya berikan atau tugas yang sedang mereka kerjakan. Saya harap prinsip ini ada di setiap karyawan. Di dalam perusahaan, lingkungan seperti ini bisa cukup menyenangkan.

Kalau obsesi yang boleh dibilang “lucu-lucuan” adalah saya ingin suatu saat nanti, bila pergi ke negara-negara di ASEAN, ada seseorang yang menjemput dan menyambut saya. Lebih dari itu, harapan saya, perusahaan ini jangan hanya tergantung pada satu figur. (as)

* Agus Marto Berjanji Tak Akan Terima Suap (2013-05-24) * Ismed, Presiden Direktur BUMN Tanpa Fasilitas Mewah (2013-05-22) * Sudhamek Menduniakan Bisnis Garudafood (2013-05-19) * Peter Sondakh Selalu Jeli Melihat Peluang Bisnis (2013-05-12) * Didiek Hadjar Berhasil Kembangkan Kloning White Tea (2013-05-10)

Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *