Buntoro dan Obsesi Tentang Motor Nasional

Buntoro dan Obsesi Tentang Motor Nasional

Buntoro dan Obsesi Tentang Motor Nasional

Buntoro dan Obsesi Tentang Motor Nasional

Selasa, 04 Juni 2013 13:16

Bila mengingat dominasi motor Jepang di Indonesia, rasanya muskil bila ada merek lokal yang berani tampil. Namun, MAK dengan gagah berani unjuk diri sebagai motor nasional pertama.

Industri kendaraan roda dua di negeri kita saat ini didominasi oleh merek-merek dari Jepang. Di luar Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki, praktis tidak ada merek lain yang beredar di pasaran. Beberapa waktu lalu memang pernah muncul merek-merek dari China. Namun, itu hanya bertahan seumuran jagung dan lalu hilang dari pasaran.

Salah satu faktor kegagalan merek-merek motor China adalah tidak siapnya mereka dalam membuat layanan purnajual. Singkatnya, mereka hanya bernafsu berjualan saja tanpa pernah berpikir untuk membangun merek. Ini tentunya merupakan sebuah pelajaran berharga bagi para pemilik merek.

Mungkin sudah banyak yang bertanya mengapa tidak pernah ada motor nasional di Indonesia. Pertanyaan yang bisa jadi juga telah ada sejak puluhan tahun lalu. Ternyata, jawabannya sudah ada saat ini. Mengejutkan lagi, motor buatan anak bangsa ini lahir di kota yang berjuluk Kota Pelajar, alias Yogyakarta.

Pembuatnya adalah PT Mega Andalan Kalasan yang bergerak di bisnis perlengkapan rumah sakit. Mereka kemudian mendirikan perusahaan baru yang khusus untuk membuat sepeda motor, yaitu  PT Mega Andalan Motor Indonesia (MAMI), yang meluncurkan motor dengan merek MAK. Tidak tanggung-tanggung, sejak awal tahun ini sudah diproduksi varian motor bebek dalam dua jenis, yakni Vipros 100cc dan ViprosX 125cc.

âIndonesia harus memiliki industri kendaraan roda dua yang tidak kalah dengan negara lain karena potensi pasar motor kita besar sekali. Di sisi lain, pada dasarnya bangsa ini bisa membuat motor sendiri. Namun, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan para produsen motor yang sudah ada,â kata Buntoro, Chairman PT Mega Andalan Kalasan.

Memang, nasib motor nasional tidak seberuntung mobil nasional. Meskipun sekarang mobil nasional juga sudah tidak bergema gaungnya, setidaknya proyek itu pernah dirintis. Sebut saja merek Timor yang kini entah ke mana.

Kemudian, motor nasional susah tumbuh disebabkan oleh sulitnya mengakses komponen pokok dari motor, yaitu mesin. Terlebih lagi dari pelaku industri motor yang ada di dalam negeri. Sehingga, diakui Buntoro, MAK saat ini menggunakan mesin buatan pabrikan motor asal China. âKita tidak perlu under estimate buatan China. Kualitas mereka sebenarnya tidak kalah dengan mesin bikinan Jepang. Mesin adalah satu-satunya komponen yang kami impor karena di dalam negeri tidak ada yang jual,â tegas Buntoro.

Komponen MAK sekarang ini 70 persen CKD. Dari angka tersebut, 30-40 persennya sudah bisa diproduksi sendiri oleh MAMI. Komponen itu antara lain frame body, semua komponen plastik, tangki bensin, stand, dan lainya. Pokoknya, semua non-common part di luar mesin sudah dibuat sendiri di pabrik MAK.

Buntoro perlu waktu belajar lima tahun untuk bisa membuat non-common part. Karena komponen ini memang tidak bisa dibeli di mana pun. Sedangkan komponen common part yang tidak diproduksi sendiri adalah shock breaker, velg, ban, rantai, accu, dan lainnya.

âUntuk common part masih kita beli. Namun, tetap dibeli dari produk yang dibikin di dalam negeri. Toh, merek-merek motor lain pun tidak memproduksi sendiri common part ini. Yang dipilih tentunya merek yang sudah terpercaya kualitasnya,â jelas Buntoro dengan mantab.

Buntoro berkeyakinan bahwa setelah memenuhi skala ekonomi, nantinya dimungkinkan dibuat mesin di dalam negeri. Sehingga, akan semakin mantab disebut sebagai motor nasional. Walaupun, sekarang ini saja MAK sudah pantas menyandang predikat motor nasional dengan komponen lokal 70 persen.

Belajar dari Mocin

Mengenai pemasaran, Buntoro sudah memiliki rencana yang lain daripada yang lain. Salah satunya adalah membuka akses kepada semua orang untuk melihat pabrik pembuatan motor ini di daerah Kalasan, Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk menepis keraguan apakah motor ini built up atau benar-benar dirakit di sini.

Buntoro juga sudah menyiapkan perusahaan khusus yang nantinya akan memasarkan merek MAK. Namanya adalah PT Mega Andalan Motor Industri Factory Outlet (MAMI FO). Konsep yang diusung adalah sebuah outlet lengkap. Di dalamnya tidak hanya ada showroom, sales counter, dan bengkel, tapi juga disediakan fasilitas untuk test drive.

Bengkelnya pun tidak sekadar bengkel pada umumnya. Karena selain untuk servis, di tempat itu juga dapat dilakukan uji coba dan test motor. Khusus untuk bengkel ini Buntoro mengadopsi konsep rumah sakit. Jadi, sebelum dilakukan proses perbaikan harus ada diagnosa yang tepat. Sehingga, penanganan tidak melebar ke mana-mana. âMisalnya, kalau didiagnosa penyebabkan rewel motor itu adalah karburator, ya, hanya itu yang ditangani.â

Lalu, Buntoro juga menyiapkan layanan call center 24 jam. Ini adalah yang pertama kali terjadi dalam sejarah pelayanan purnajual di industri motor Indonesia. Dengan adanya layanan ini, jika motor mengalami kerusakan di mana pun, akan didatangi oleh tim servis MAK.

Mengingat Buntoro akan benar-benar membangun merek yang andal dengan layanan purnajual yang istimewa, ia tidak terlalu buru-buru dalam melakukan ekspansi pasar. Kini sudah ada satu MAMI FO di kabupaten Sleman. Dalam tahun ini, akan dibangun tiga outlet lagi di kabupaten-kabupaten lain di wilayah provinsi DIY.

âTujuan saya adalah membangun brand MAK sebagai motor kebanggaan Indonesia. Serta memberikan value lebih pada pemiliknya. Jadi, kami tidak sekadar menjual komoditas, tapi juga memberikan sesuatu yang berguna, memiliki nilai ekonomi, dan tidak merepotkan,â tandas Buntoro.

Buntoro menegaskan bahwa kualitas MAK tidak kalah dengan merek-merek yang beredar sekarang ini. Bahkan, harganya sangat kompetitif karena dibanderol di bawah Rp 10 juta. âSoal target penjualan, saya yakin dalam lima tahun bisa menyamai merek-merek lain. Dukungan masyarakat Indonesia untuk menggunakan merek asli dalam negeri tentunya juga menjadi faktor penting,â kata Buntoro penuh optimistis. (bn)

  //


Another articles:

* Kisah Sukses Deddy Kembangkan Bisnis Pakaian Anak (2013-05-27) * Dulang Rupiah dari Bisnis Perlengkapan Taman (2013-05-24) * Makin Makmur dengan Kreasi Tas (2013-05-17) * Omzet Miliaran dari Bisnis Lilin (2013-05-14) * Eka Putra, Lulusan SMA yang Cetak Omzet Ratusan Juta (2013-05-14)

Buntoro dan Obsesi Tentang Motor Nasional | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *