Leker Klenger, Bisnis Makanan Tradisional Indonesia

Leker Klenger, Bisnis Makanan Tradisional Indonesia

Leker Klenger, Bisnis Makanan Tradisional Indonesia

Leker Klenger, Bisnis Makanan Tradisional Indonesia

Minggu, 09 Juni 2013 14:41

Mencoba menghidupkan kembali makanan tradisional asli Indonesia dan prihatin melihat kuliner asing seperti burger, kebab, atau crepes lebih diminati masyarakat mendorong Aling melahirkan âLeker Klengerâ. Bila kuliner tradisional ini tidak dilestarikan, bukan tidak mungkin anak cucu kita kelak tidak tahu adanya jenis makanan asli Indonesia ini.

Leker merupakan makanan tradisional yang sering disajikan orang Indonesia dulu kepada penjajah Belanda. Nama “Leker” sendiri muncul ketika orang Belanda ingin menggambarkan rasa enak dari kue ini. Makanan ringan ini dulu juga sering dijajakan di depan sekolah, tetapi akhirnya mulai hilang dan berganti dengan makanan seperti burger, tempura, atau makanan lainnya yang lebih modern.

Belakangan “Leker Klenger” mulai menyadarkan para pelaku bisnis kuliner untuk memulai sebuah usaha yang bukan saja untuk faktor ekonomi semata, tapi juga sebuah usaha untuk pelestarian cita rasa asli Indonesia. Dengan maraknya kampanye “100% INDONESIA” yang sedang digalakkan oleh pemerintah, “Leker Klenger” seperti ingin ambil bagian juga dalam bidang kuliner.

Aling pun sadar akan harus adanya modifikasian bentuk makanan tradisional ini agar dapat diterima kembali. Ia pun membuat kue leker ini lebih besar dari biasanya. Bayangkan saja jika biasanya kue leker dibuat dengan diameter sekitar 10 cm saja, “Leker Klenger” membuatnya dengan besar diameter 35 cm.  “Klenger” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang diartikan makan sampai kekenyangan. Seakan-akan seperti hendak menggeser paradigma kue leker sebagai makanan ringan, menjadi sebuah makanan yang mengenyangkan untuk menyaingi superioritas burger, piza, crepes, atau kebab sebagai makanan pengganti nasi.

Belum lagi dari segi rasa yang beragam. Bila kue leker identik dengan rasa manis buah pisang dan cokelat, maka lain halnya dengan “Leker Klenger” yang menyajikan beraneka rasa manis lainnya seperti strawberry, vanila, durian, blueberry, dan kopi. Sajian leker modern seperti leker chillie dog, kornet, pizza, serta saus bolognaise juga disajikan bagi yang ingin menikmati kue leker tapi tidak suka pada makanan berasa manis.

Dari segi pengembangan bisnis, “Leker Klenger” juga patut diacungi jempol. Aling merasa sia-sia jika kampanye makanan tradisionalnya hanya berada di satu tempat. Ia pun mengemas usahanya dengan bentuk waralaba dan merancangnya menjadi sebuah bentukan fast food yang sehat. Dengan tidak ingin membebankan calon mitra dengan modal besar, “Leker Klenger” hendak membantu para wirausahawan pemula untuk menumbuhkan kecintaan terhadap produk asli Indonesia dengan modal bisnis sekitar Rp 5 juta saja. Saat ini “Leker Klenger” dapat dijumpai dibanyak tempat. (bn)

* Tempo, Majalah Berita Mingguan Indonesia (2013-05-30) * Mustika Ratu, Tradisi Kecantikan Keraton (2013-05-27) * Chatime, Baru Tiga Tahun Sudah Buka 28 Gerai (2013-05-21) * Kesuksesan Bakmi GM Tak Hadir Dalam Sekejap (2013-05-18) * Dowa, Dari Yogyakarta Untuk Dunia (2013-05-17)

Leker Klenger, Bisnis Makanan Tradisional Indonesia | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *