Kisah Sukses Uniqlo di Pasar Ritel Pakaian Dunia

Kisah Sukses Uniqlo di Pasar Ritel Pakaian Dunia

Kisah Sukses Uniqlo di Pasar Ritel Pakaian Dunia

Kisah Sukses Uniqlo di Pasar Ritel Pakaian Dunia

Kamis, 13 Juni 2013 15:09

Jaringan bisnis ritel pakaian dari Jepang, Uniqlo, membuat cemburu dan iri para pengusaha ritel di seluruh dunia. Perusahaan ini telah ‘meledak’ dalam satu dekade terakhir dengan menjadi peritel pakaian terbesar di Asia. Dan pemimpin Uniqlo memiliki tujuan ambisius untuk membuat mereknya bertengger sebagai pemimpin dalam dunia ritel di seluruh dunia, menurut The Wall Street Journal.

Uniqlo berfokus pada dasar-dasar pakaian jadi terjangkau yang diproduksi secara massal dalam puluhan warna. Bisnis ini dimulai di pinggiran kota Jepang. Kurang dari 20 tahun kemudian, toko-tokonya tersebar di sepanjang jalan yang dipenuhi perbelanjaan megah di kota-kota besar dunia.

Apa cerita di balik kesuksesan perusahaan tersebut?

Awalnya Uniqlo dibuka di Hiroshima, Jepang pada tahun 1984. Perusahaan ini adalah sebuah divisi dari perusahaan induk ritel Jepang Fast Retailing, dengan Tadashi Yanai sebagai pimpinannya.

Perusahaan ini pada awalnya disebut “Unique Clothing Warehouse.” Kata Uniqlo muncul setelah semua kata itu digabungkan.

Pada awal 1990-an, perekonomian Jepang mengalami kemerosotan besar. Dan pakaian Uniqlo yang murah meriah pun sangat digemari.

Menurut Karlee Weinmann dari laman Business Insider, krisis ekonomi Jepang sering disebut “Resesi Hebat” dan berlangsung selama satu dekade penuh. Hal itu menjadi cerita buruk bagi negara secara keseluruhan. Namun, Uniqlo menuai untung besar dengan melayani warga yang mencoba untuk memangkas pengeluaran tetapi masih ingin berpakaian bagus.

Pada tahun 1994, sepuluh tahun setelah toko pertama dibuka, 100 gerai Uniqlo telah beroperasi.

Uniqlo besar karena didorong daya beli konsumen di berbagai pinggiran kota Jepang tempat toko-toko Uniqlo terletak di pinggir jalan ramai.

Perusahaan ini alami kenaikan popularitas setelah peluncuran kampanye pakaian bulu pada tahun 1998, demikian menurut website-nya.

Tapi segera setelah itu, Uniqlo menghadapi masa kelam. Keuntungan dan penjualan menurun. Perusahaan pun melakukan reorganisasi dan mendirikan bagian khusus lini pakaian wanitanya, dan mencoba pulih. Setelah itu mereka juga mulai fokus pada toko yang lebih besar.

Uniqlo menghadapi beberapa kendala dalam perjalanannya. Ketika pertama kali ekspansi ke luar negeri, terlalu banyak toko dibuka dalam waktu yang terlalu cepat. Akibatnya, toko-toko itu juga banyak yang harus ditutup.

Perusahaan tersebut membuka 21 toko di Inggris pada tahun 2002, tetapi hanya delapan yang tetap buka pada tahun 2006. Eksekutif Fast Retailing mengatakan mereka gagal membangun “identitas merek” sebelum mendirikan toko dan belajar dari kesalahan mereka.

Meskipun Uniqlo dimulai sebagai sebuah rantai pinggiran kota, sekarang memiliki lebih dari 800 toko di seluruh dunia, banyak berlokasi di pusat-pusat perkotaan di seluruh dunia.

Sebagian besar toko Uniqlo berlokasi di Jepang, tetapi juga memiliki lokasi di Amerika Serikat, Perancis, Singapura, Malaysia, Filipina, China dan Taiwan, dan sebagainya.

Lokasi utama meliputi jalan-jalan perbelanjaan utama di New York, London, dan Paris.

Uniqlo telah menjadi bisnis jaringan penjual pakaian ritel terbesar di Asia. Namun eksekutif perusahaan mengatakan mereka ingin Uniqlo menjadi “merek pakaian kasual nomor 1 dunia.”

Pada akhir 2012, perusahaan ini adalah pengecer terbesar keempat di bawah Gap, H & M dan Zara-pemilik Inditex, menurut Forbes.

Sejauh ini, hanya ada tujuh toko di AS tetapi ada rencana untuk membuka 1.000 Uniqlos di Amerika, menurut Forbes.

Sejauh ini, ada empat lokasi di New York, dua di New Jersey dan satu di San Francisco. Toko SoHo adalah yang pertama dibuka tahun 2006.

Slogan Uniqlo adalah “dibuat untuk semua,” dan toko mereka terkenal karena pakaian santai berwarna-warni untuk kaum pria, wanita dan anak-anak.

Sebagian besar pakaian yang diproduksi massal dalam setiap warna ini digemari semua pembeli. Beberapa orang menyebut Uniqlo sebagai “jawaban Jepang atas Gap.”

Uniqlo memiliki rencana untuk membuka toko terbesarnya di Shanghai pada 2013 nanti.

Meskipun Uniqlo adalah sebuah perusahaan Jepang, sekitar 70% dari pakaian yang diproduksi di China. Kenyataan ini menyebabkan beberapa masalah baru karena protes anti-Jepang di China. Tapi Yanai tidak memiliki rencana untuk pindah, dan mengatakan ia ingin membuka ratusan toko lagi di China.

Langkah Uniqlo untuk tetap bertahan di China ini juga membuat harganya tetap murah karena mereka membeli produk langsung dari pemasok. Dan Uniqlo dapat membeli secara massal karena berfokus pada pakaian yang tidak keluar dari tren gaya terkini dalam berbagai warna.

Dilaporkan bahwa Uniqlo mengaku tetap memajang pakaian di rak lebih lama daripada kebanyakan saingannya, dan kadang-kadang akan membuat satu item dalam hingga 50 warna.

Yanai, pendiri Uniqlo, adalah salah satu orang terkaya di Jepang. Kekayaannya diperkirakan mencapai $ 15500000000.

Dalam peringkat Forbes terbaru, dia tercatat sebagai orang terkaya di Jepang dan nomor 66 pada daftar miliarder di seluruh dunia. Yanai sudah menikah dan memiliki dua anak.

Ia mengatakan telah banyak belajar dari Gap dan menggunakan perusahaan Amerika sebagai dasar untuk model bisnisnya.

Pada akhir 2011, nilai perusahaan ini ditaksir setara dengan ¥ 1400000000000 ($ 14 milyar), menurut Bloomberg.

Dan Yanai ingin meningkatkan valuasi perusahaannya sampai 5 triliun yen (US sekitar $ 65 milyar) pada tahun 2020, menurut Bloomberg.

Beberapa fitur bisnis Uniqlo menonjol di antara pengecer lain. Misalnya, Yanai telah mengusulkan sistem gaji global di mana manajer di seluruh dunia akan menerima upah yang sama.

Ia percaya “jumlah yang sama pekerjaan layak upah yang sama.”

Dan Yanai kepada Forbes bahwa Uniqlo menempatkan dirinya terpisah dengan tidak mengejar tren terkini. Sebaliknya, mereka fokus pada pakaian-pakaian yang selalu dikenakan orang tak peduli waktu dan tempat, seperti kemeja Oxfords dan kaos polos, dan membuat produknya lebih terjangkau.

Uniqlo hampir tak tersentuh resesi dan malah menikmati kenaikan keuntungan sebesar 17% antara tahun 2009 dan 2010. Mereka mungkin mendapat untung dari penurunan daya beli masyarakat dunia, karena mereka membidik konsumen mencari pakaian murah.

Dan itu belum berhenti. Laba melonjak 13% dalam enam bulan terakhir, menurut Wall Street Journal, dan penjualan di luar negeri terus meningkat pesat.

Penjualan perusahaan masih hanya setengah Zara, tetapi Uniqlo terus mencetak untung.

Jika pertumbuhan yang cepat Uniqlo terus berlanjut, rencana ambisius untuk menjadi pemimpin ritel di AS dan seluruh dunia bisa menjadi kenyataan. (BI/*Akhlis)

* Nivea: Brand dengan Resep Rahasia Berusia Seabad (2013-06-11) * Produk-Produk Amerika Yang Sukses Di Pasar Global (2013-06-03) * Starbucks: Jaringan Kedai Kopi AS yang Mendunia (2013-05-28) * Webvan: Mengapa Tumbuh Terlalu Pesat Bisa Hancurkan Bisnis (2013-05-24) * Sejarah Kinokuniya, Jaringan Toko Buku Dunia dari Jepang (2013-05-14)

Kisah Sukses Uniqlo di Pasar Ritel Pakaian Dunia | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *