Puspo Wardoyo, Semua Berawal dari Inspirasi

Puspo Wardoyo, Semua Berawal dari Inspirasi

Puspo Wardoyo, Semua Berawal dari Inspirasi

Puspo Wardoyo, Semua Berawal dari Inspirasi

Kamis, 13 Juni 2013 15:30

Puspo Wardoyo, merintis waralaba Ayam Bakar Wong Solo hingga menjadi sebesar sekarang ini dari titik paling bawah. Ia pernah menjajakan ayam bakar di kaki lima. Sejak kecil Puspo sudah terbiasa berurusan dengan ayam. Orangtuanya penjaja ayam. Pagi hari, Puspo kecil membantu menyembelih ayam untuk dijual di pasar.

Begitulah setiap hari. Siang sampai malam, ia membantu orangtuanya menjajakan menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan menu ayam lainnya di warung milik orangtuanya di dekat kampus UNS Solo.

Impian itu sendiri terinpirasi oleh cerita seorang pedagang bakso yang sukses mengarungi hidup di Medan. Ketika pria kelahiran 30 November 1957 itu tengah merintis usaha warung lesehan di Solo selepas mengundurkan diri dari pegawai negeri sipil, suatu saat pedagang bakso asal Solo tersebut bertandang ke tempat Puspo.

Dia bercerita bahwa peluang usaha warung makan di Medan sangat bagus. Pedagang bakso itu telah membuktikannya. Dalam sehari ia bisa meraup keuntungan bersih di akhir tahun 1990 itu sekitar Rp 300.000. Dari keuntungan berjualan bakso dengan gerobak sorong itulah teman Puspo ini bisa pulang menengok kampung halamannya di Solo setiap bulan.

“Dengan uang, jarak antara Solo Medan lebih dekat dibanding Solo Semarang, ” kata Puspoyo menirukan ucapan temannya tadi.

Wajar saja jika dengan pesawat terbang waktu tempuh antara Medan-Solo, berganti pesawat di Jakarta hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sementara dengan naik bis jarak antara Solo-Semarang ditempuh sekitar empat jam.

Cerita sukses temannya itu begitu membekas di benak Puspo.

“Saya bertekad bulat akan merantau ke Medan, ” pikirnya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, apa boleh buat, warung makan yang termasuk perintis warung lesehan di kota pusat kebudayaan Jawa itu pun ia jual kepada temannya. Uang hasil penjualan yang tak seberapa itu ia manfaatkan untuk membeli tiket bus ke Jakarta. Mengapa Jakarta? “Karena dengan uang yang saya miliki, bekal saya belum cukup untuk merantau ke Medan, ” katanya. (bn)

* Gagal Jadi Arsitek, Kini Jadi Juragan Steik (2013-06-10) * Rahasia Sukses Donat Kentang P-DO (2013-06-04) * Kisah Johan Yuniarto Jadi Juragan Abon (2013-05-31) * Raup Laba Berkat Kebab Buah (2013-05-27) * Peyek dan Geplak yang Mendatangkan Uang (2013-05-13)

Puspo Wardoyo, Semua Berawal dari Inspirasi | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *