Irfan Anwar Tak Kenal Kata Menyerah

Irfan Anwar Tak Kenal Kata Menyerah

Irfan Anwar Tak Kenal Kata Menyerah

Irfan Anwar Tak Kenal Kata Menyerah

Kamis, 20 Juni 2013 14:02

Sorot matanya tajam. Gaya bicaranya lugas. Pemikiran-pemikirannya analitik. Ide-idenya argumentatif. Tak mengherankan jika saat pertama kali berbincang dengan pria yang satu ini, orang dengan mudah menemukan nada optimisme dari setiap kalimat yang dilontarkannya. Apalagi jika sudah berbicara tentang bisnis perkopian.

Begitulah Irfan Anwar, chief executive officer (CEO) PT Coffindo. Tak ada istilah pesimistis, apalagi menyerah dalam kamus hidupnya. Berbagai rintangan dan hambatan selalu dianggapnya sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Itu pula yang mengantarkannya menjadi salah satu pebisnis kopi tersukses di tanah Air yang produknya berhasil merambah puluhan negara.

“Dalam melihat bisnis kopi di Indonesia, jika orang menganggap persaingannya amat ketat, tentu akan terasa berat. Tapi bagi yang menyikapinya dengan cermat, selalu ada peluang,” ujar peraih penghargaan Asia Pacific Entrepreneurship Awards (APEA) 2011 kategori Outstanding Entrepreneurship Award ini di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi pengusaha muda kelahiran Medan, 20 Juli 1980 ini, meraih peluang bisnis tak melulu harus ditunjang modal berlimpah. Modal awal yang paling berharga justru kemampuan mengenali seluk-beluk pasar dan produk yang hendak dipasarkan.

âPengusaha yang punya modal besar tetap akan kesulitan bila tidak kenal pasar dan produk yang akan dipasarkannya,â tutur ketua umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI).

Itu sebabnya, sebelum menekuni bisnis kopi dan mengelola kerajaan bisnisnya lewat PT Coffindo, Irfan terlebih dahulu mendalami secara saksama berbagai hal tentang industri kopi, hingga masalah paling detail. Yang dipelajari Irfan bukan cuma jenis-jenis kopi, sentra produksi kopi, pasar kopi beserta teknologinya, tapi juga soal rasa, kualitas, hingga tradisi perkopian masyarakat Indonesia.

Irfan terus berupaya memahami dan menyelami karakter konsumen. Tak berhenti sampai di situ, ia juga mengedukasi mereka. âMengedukasi konsumen tidak kalah pentingnya, bagaimana agar konsumen tahu mana kopi yang baik, termasuk manfaat-manfaatnya bagi kesehatan manusia. Ini tantangan tersendiri bagi saya,â kata Irfan yang sejak tahun lalu menjabat sebagai ketua bidang perbankan dan investasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Sejatinya Irwan adalah seorang pembelajar. Ia terus mencoba mempelajari dan memahami apa yang dihadapinya sehari-hari, dari hal terkecil hingga hal terbesar. âBisnis kopi sangat dinamis. Karena itu, saya mesti belajar dan terus belajar,â tegas vice chairman Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) itu.

Dia juga selalu menganggap persaingan sebagai hal yang positif. Persaingan yang sehat justru membuat dirinya terus berkembang hingga seperti sekarang. âPersaingan adalah sesuatu yang biasa. Tanpa persaingan, kita tidak bisa memiliki aspek pendorong untuk maju. Soal ketat atau tidaknya suatu persaingan bisnis tergantung kita menyikapinya,â katanya.

Apa saja kiat yang diterapkan pria berusia 32 tahun itu dalam menekuni bisnis kopi? Mengapa ia terjun ke bisnis tersebut? Bagaimana ia mengelola perusahaannya? Apa obsesi yang dipendamnya? Berikut hasil wawancara dengannya seperti dikutip dari Investor Daily…

Bisa diceritakan kenapa Anda memilih bisnis kopi? Saat berusia 19 tahun, saya mulai menekuni bisnis kopi. Sebagai langkah awal, saya belajar tentang kopi selama dua tahun. Saya berkeliling ke daerah-daerah penghasil kopi di Indonesia, seperti Aceh, Lampung, dan Toraja. Banyak hal yang saya pelajari, mulai dari membedakan rasa kopi, kualitas, jenis, hingga tradisi minum kopi. Jadi, saat masuk ke bisnis ini, saya sudah dalam jalur yang benar, on the true track, bukan karena nyasar.

Bukankah keluarga Anda adalah pengusaha sawit? Sewaktu saya sekolah menengah atas, orangtua saya pernah mewanti-wanti untuk meneruskan bisnis keluarga, yaitu perkebunan sawit, khususnya minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Benar, saat itu, orangtua saya meminta, sehingga saya setuju saja.

Kenapa saya memilih bisnis kopi, karena bisnis ini memiliki tantangan yang besar. Sebagai anak muda, saya menyukai tantangan. Jika bisa mengatasi dan berhasil, ada kepuasan tersendiri. Masuk ke bisnis ini tidak mudah, ada tradisinya. Ratusan perusahaan bermain di bisnis kopi.

Reaksi keluarga setelah Anda berbisnis kopi? Ayah saya sudah almarhum, sedangkan ibu saya masih ada. Komentar orangtua pada akhirnya mendukung apa yang saya tekuni. Berbekal pengalaman saya itu, akan saya terapkan hal serupa kepada anak-anak saya kelak. Saya akan membebaskan bidang apa yang bakal mereka tekuni. Terpenting, mereka mau berusaha menjadi yang terbaik di bidangnya.

Apa kunci sukses Anda? Selama dua tahun saya mempelajari secara serius tentang bisnis kopi. Dari semula tidak tahu kopi yang enak bagaimana, hingga mengenali faedah kopi bagi kesehatan. Kopi banyak jenisnya, juga ada tradisi di dalamnya. Banyak tantangan dalam menekuni bisnis hasil bumi ini. Selain itu, saya mesti mengenali pasar secara mendalam. Bagaimana karakteristik pasar domestik dan pasar ekspor. Indonesia adalah negara ketiga terbesar penghasil kopi di dunia. Mayoritas produksi kita diekspor ke berbagai negara. Tahun lalu, Indonesia mengekspor sekitar 530.000 ton kopi senilai Rp 16 triliun. Kami saja sudah merambah lebih dari 20 negara.

Hanya itu? Langkah yang tak kalah penting adalah mengedukasi konsumen. Bagaimana agar konsumen kita tahu mana kopi yang baik, termasuk faedah kopi bagi kesehatan manusia. Ini tantangan tersendiri bagi saya. Selaku anak muda, tentu saya menyukai tantangan dan hal baru dalam berbisnis.

Jika konsumen lebih sehat, mereka tentu bisa lebih sejahtera dan daya belinya semakin tinggi. Edukasi idealnya didukung pemerintah lewat instansi terkait.

Anda selalu menganggap setiap masalah sebagai tantangan yang harus ditaklukkan? Saya menyukai tantangan. Tapi, sekalipun menyukai tantangan, saya tidak ambisius dalam menggapai sesuatu. Saya realistis. Cita-cita yang ditanamkan sebisa mungkin yang bisa digapai. Buktinya, bisnis saya mengalir begitu saja.

Saat awal, saya hanya mempekerjakan beberapa karyawan, terus berkembang hingga kini sekitar 300 karyawan, termasuk akhirnya pada 2012 saya juga bisa memiliki perkebunan kopi arabica sendiri seluas 2.600 hektare di Dairi, Sumatera Utara. Di bidang kopi, luas perkebunan ini termasuk cukup besar. Pengolahannya ada di Aceh dan Medan.

Anda juga seorang pembelajar? Ya. Saya terus belajar. Tiap hari, saya membaca banyak sumber informasi dan pengetahuan. Saat ini, misalnya, kami sedang belajar bagaimana membuat kopi instan yang banyak digemari konsumen ritel di dalam negeri. Ini ceruk terbesar di pasar kita. Pasar lokal menyerap sekitar 230.000 ton kopi per tahun. Kami baru membuat kopi setengah jadi (roasted) dan kopi jadi (powder), belum memproduksi kopi instan yang siap seduh. Persiapan dan belajar butuh dua hingga tiga tahun. Karena itu, saya mesti belajar dan terus belajar.

Saran Anda bagi para pebisnis muda? Anak muda mesti gigih menghadapi tantangan kalau mau sukses di dunia usaha. Memasuki bisnis kopi banyak tantangannya, mulai dari soal cuaca yang mempengaruhi hasil panen kopi, soal nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, hingga soal tradisi minum kopi di setiap daerah atau negara. Tantangan untuk menguasai semua itulah yang mendorong saya terjun ke bisnis perkopian.

Persaingan adalah sesuatu yang biasa. Tanpa persaingan, kita tidak bisa memiliki aspek pendorong untuk maju. Soal persaingan ketat atau tidak, tergantung kita menyikapinya. Buat saya sih biasa-biasa saja.

Apa obsesi Anda ke depan? Dalam jangka menengah-panjang, saya ingin Coffindo masuk pasar modal atau listing di bursa saham domestik. Sekarang masih dalam persiapan. Kami menata internal perusahaan terlebih dahulu. Perkiraan kami, butuh empat hingga lima tahun lagi untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Mengapa harus go public? Bagi kami, selain menjadi sumber pendanaan, pasar modal juga mendorong setiap perusahaan menjadi lebih transparan. Mereka yang masuk bursa saham adalah perusahaan yang kredibel dan menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). (bn)

* Sung Khiun Menjawab Ambisi Samsung Jadi Nomor Satu (2013-06-11) * Brata Rafly Punya PR Besar di Mandala Airlines (2013-06-10) * Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI (2013-05-28) * Agus Marto Berjanji Tak Akan Terima Suap (2013-05-24) * Ismed, Presiden Direktur BUMN Tanpa Fasilitas Mewah (2013-05-22)

Irfan Anwar Tak Kenal Kata Menyerah | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *