Contoh Peran Empati dalam Entrepreneurship

Contoh Peran Empati dalam Entrepreneurship

Contoh Peran Empati dalam Entrepreneurship

Contoh Peran Empati dalam Entrepreneurship

Jumat, 21 Juni 2013 10:08

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan yang dimiliki orang lain, juga merupakan satu keterampilan kunci bagi entrepreneur yang ingin membuat dampak positif di lingkungan sekitar mereka.

Tanpa keterampilan mendasar ini, kita akan menyakiti orang lain dan mengganggu ketertiban sosial. Dan sayangnya tidak ada aturan yang tertulis dan jelas yang bisa dirujuk jika kita ingin menjadi lebih berempati terhadap sesama kita. Semuanya hanya menjadi sebuah konvensi yang disepakati masyarakat secara otomatis. Tidak pernah terucapkan secara eksplisit tetapi banyak dilakukan dan dianut.

Setiap orang membutuhkan keterampilan empati untuk beradaptasi, membuat keputusan yang baik, berkolaborasi secara efektif dan berkembang. Penelitian di ilmu saraf kognitif telah menunjukkan korelasi yang kuat antara kesadaran dan kemampuan  untuk berempati. Stres, di sisi lain, mengaktifkan naluri bertahan hidup primitif dan menghambat kemampuan sosial manusia, dan pada gilirannya menghambat kemampuan untuk berempati dan berbelas kasih-dan bahkan membuat lebih sulit untuk menyerap informasi baru.

Namun, 2 entrepreneur berikut ini menunjukkan pada kita semua bahwa empati juga bisa menjadi nilai pondasi dalam berbisnis. Seperti apa ketiganya menerapkan empati dalam bisnis sosial mereka? Selamat menyimak.

Mary Gordon (Organisasi: Roots of Empathy) Roots of Empathy membantu anak-anak sekolah mengembangkan kompetensi emosional mereka. Dalam berbagai penelitian di sejumlah negara hal ini telah terbukti mengurangi tingkat agresi dan intimidasi. Sejauh ini, organisasi telah mencapai lebih dari 500.000 anak di seluruh dunia. Mary Gordon percaya bahwa akar empati adalah ikatan antara ibu dan anaknya.

Bagaimana cara kerjanya? Organisasi ini membawa bayi baru dan ibu ke dalam kelas siswa sekolah dasar. Selama kelas berlangsung, fasilitator terlatih meminta siswa untuk berinteraksi dengan bayi, dan memahami bagaimana rasanya. Untuk kelas yang beruntung ini, Mary Gordon sang pendiri berperan sebagai fasilitator. Dia bertanya pada siswa di kelas itu tentang bayi yang baru saja diajak masuk, “Bagaimana perasaan bayi tadi? Bagaimana kamu tahu? Apa yang menjadi pusat perhatiannya? Bagaimana perasaan Anda ketika dia sedih?”

Para siswa menjawab dengan jawaban yang jujur dan mengejutkan. Mereka berbicara tentang bagaimana kehadiran bayi tadi telah mempengaruhi mereka dengan cara lain yang belum pernah terpikirkan. Dari seorang siswa yang masih berusia 9 tahun, “Kita bisa tahu ketika seseorang sedih, dan kami tahu bagaimana rasanya. Kami telah belajar bagaimana untuk merasakan empati satu sama lain “.

Para siswa diminta menyatakan harapan dan impian mereka untuk sang bay yang bernama Abby. “Menjadi siswa pintar di sekolah,” “tumbuh besar dengan aman” dan “menjadi bahagia”. Program ini berjalan di 11 negara, dalam bahasa yang berbeda, dan seperti yang Mary Gordon tunjukkan, seseorang selalu mengatakan agar bayi itu menjadi bahagia. “Anak-anak di seluruh dunia tidak berbeda dengan harapan mereka untuk generasi berikutnya”.

Pada akhir kelas, kepala sekolah memberikan pengakuan positif atas upaya ini. “Ini adalah angkatan yang paling menantang di sekolah saat ini tahun lalu. Banyak anak mengalami kesulitan belajar. Setelah Roots of Empathy dimulai, semua orang telah melihat perubahan dramatis menjadi lebih baik. Kami akan meluncurkannya dalam dua kelas lagi pada awal tahun ajaran berikutnya “.

Sementara itu, program tersebut terus berkembang, menabur benih empati pada generasi berikutnya.

Lili Lapenna (Organisasi: MyBnK)

Dengan merancang program yang mengajarkan melek finansial, Lapenna membuka jalan bagi perbankan, pengeluaran dan investasi yang beretika. MyBnk adalah pelatihan anak-anak sekolah untuk membuat keputusan keuangan yang lebih bijak saat mereka tumbuh menjadi dewasa dan menghadapi tantangan pasar kerja yang semakin kompetitif.

“Empati memainkan peran penting dalam pekerjaan yang kita lakukan di MyBnk,” kata Lapenna. MyBnk melibatkan penasehat dewan yang masih berusia 16-35 tahun untuk merancang ulang program-program mereka untuk membuat mereka tetap relevan.

Proyek terbaru Lapennas adalah untuk membawa karya yang ia telah hasilkan bersama dengan anak-anak, ke segmen dewasa juga. Langkah pertama dalam merancang sebuah program adalah untuk mendapatkan umpan balik yang jujur dan mendalam dari audiens yang berbeda dan melibatkan mereka dalam proses.

Lily membina dan mendidik generasi muda yang akan menjadi warga yang bekerja dengan giat dan secara finansial dapat diberdayakan di masa depan. Tujuannya adalah  mengubah secara mendasar cara mereka menangani masalah keuangan, jasa keuangan, perusahaan, dan akhirnya sikap mereka untuk mencapai kehidupan terpenuhi. (virgin/*Akhlis)

* Social Entrepreneur yang Mengubah Wajah Dunia (2013-05-26) * Entrepreneur, Manfaatkan Kursus Online Gratis! (2013-04-24) * Bisakah Entrepreneur Sosial Menghasilkan Untung? (2013-04-23) * Pendidikan Apa yang Dibutuhkan Seorang Entrepreneur? (2013-03-22) * 10 Negara yang Paling Tidak Kondusif untuk Entrepreneurship di Dunia (2013-03-22)

Contoh Peran Empati dalam Entrepreneurship | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *