Ada Rupiah Di Balik Bulu Perkutut Putih

Ada Rupiah Di Balik Bulu Perkutut Putih

Ada Rupiah Di Balik Bulu Perkutut Putih

Ada Rupiah Di Balik Bulu Perkutut Putih

Selasa, 25 Juni 2013 11:21

Sekitar lima tahun lalu, Bagya mulai merintis peternakan burung perkututnya hanya dengan 4 pasang indukan. Saat itu, dia bahkan belum tahu bagaimana menangkarkan anakan burung-burung perkutut, apalagi menghasilkan anakan burung perkutut yang memiliki warna putih.

Sekitar tahun 2009, Bagya akhirnya mulai melakukan riset sendiri, bagaimana membuat atau menghasilkan burung perkutut yang memiliki warna yang berbeda. saat ini kebanyakan burung perkutut hanya memiliki warna abu-abu. Bagya, akhirnya berfikir alangkah indahnya jika burung-burung perkutut itu berwarna putih, silver, hitam atau krem.

Langkah awal dalam risetnya, adalah silang sana, silang sini. Setelah proses saling silang-silang selama satu tahun, Bagya berhasil menemukan warna burung perkutut yang dia harapkan. Bahkan, diluar dugaan, dia berhasil memunculkan aneka varian warna burung perkututnya, seperti warna krem dan silver.

âSetelah generasi keempat barulah tampak anakan perkutut yang berwarna putih, meskipun warnanya belum sempurna. Dari dua anakan yang dihasilkan, satu berwarna abu-abu dan satunya putih. Dari pada generasi-generasi berikutnya, muncul warna yang dikehendaki.â Ungkap Bagya yang saat ini berdomisili di Desa Sambirombyong, Geneng, Ngawi ini.

Saat ini, Bagya sudah memiliki 800 pasang indukan yang produktif dimana setiap pasangnya bisa menghasilkan dua anakan. Tiap dua bulan, perkutut-perkutunya ini akan menghasilkan anakan 2 buah, dan jika ditotal tiap dua bulan, Bagya mampu memproduksi 1.600 anakan perkutut dengan bulu-bulu yang mempesona. Untuh harga sendiri, perkutut warna putih dijual sekitar Rp 250.000, sedangkan warna silver bisa mencapai Rp 500.000. Bisa dibayangkan omset yang didapat tiap dua bulan kan?

Pemasaran perkutut menurut Bagya termasuk mudah, karena biasanya para tengkulak dari Jakarta, Surabaya, Makasar, maupun Sumatera biasanya datang sendiri. Selain itu ada juga yang order via telepon maupun sms. Saat ini, memang sangat banyak sekali permintaan burung perkutut dengan bulu yang berwarna putih.

Meskipun di desa Geneng sudah ada 15 tempat penangkaran burung perkutut, namun menurut penuturan Bagya, masih tetap kewalahan dalam penyediaan stok. Untuk beternak atau budidaya burung perkutut tidak perlu tanah yang luas, halaman rumah pun sebenarnya bisa digunakan untuk kandang. Sistem kandang juga bisa menggunakan sistem baterai atau koloni.

Makanan burung perkutut, biasanya menggunakan biji-bijian juwawut, milet, ketan hitam, atau pakan tambahan dari olahan pabrik. Bagya mengaku, biaya operasional selama satu bulan untuk 800 pasang burung perkututnya ini, menghabiskan biaya sekitar Rp 1 juta rupiah.

Tak hanya anakan yang laris manis di pasaran, indukan di tempat budidaya perkutut milik Bagya juga laku keras. Bahkan, dari usahanya ini, Bagya sudah mampu membangun rumah yang bagus, membeli kendaraan roda empat, bahkan juga menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Tak ada yang menyangka memang, Bagya yang dulunya hanya pekerja kasar di pabrik tebu PG Soedono, kini telah menjadi seorang juragan burung perkutut yang berhasil. (bn)

* Inilah Peluang Bisnis untuk Pengusaha Pemula (2013-06-24) * Harga Naik, Bisnis Jengkol Kini Mulai Dilirik (2013-06-20) * Memulai Bisnis Dengan Modal Cekak (2013-06-06) * Manisnya Laba dari Kemitraan Cincaupuccino (2013-06-04) * Laba Terus Mengalir dari Bisnis Kuliner (2013-05-29)

Ada Rupiah Di Balik Bulu Perkutut Putih | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *