Asese, Rendang Kering yang Gurih

Asese, Rendang Kering yang Gurih

Asese, Rendang Kering yang Gurih

Asese, Rendang Kering yang Gurih

Selasa, 25 Juni 2013 13:13

Ide untuk menjadikan rendang sebagai oleh-oleh akhirnya membuat wanita kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, bernama Eva Milza berinisiatif untuk membuka usaha rendang kering dengan merek Asese.

Pengalamannya membantu usaha kedai masakan padang milik orang tua, membuatnya banyak belajar tentang cara memasak rendang yang dijadikan dasar baginya untuk meracik resep rendangnya sendiri.

Dengan modal awal sekitar Rp 1 juta, pada tahun 2003, Eva mulai membuat produk rendang kering ini di Padang, Sumatera Barat. Menurutnya, selama ini oleh-oleh dari provinsi Sumatera Barat identik dengan kripik balado, maka dari itu dia membuka usaha pembuatan rendang kering agar juga bisa dijadikan oleh-oleh yang bertahan lama dan tidak cepat basi.

Rendang kering sendiri sebenarnya telah banyak diproduksi di wilayah Payakumbuh, namun untuk di kota Padang sendiri, menurut Eva masih sangat jarang yang memproduksi rendang kering seperti ini.

Awal produksi, Eva hanya membuat rendang paru dan rendang daging suwir dalam bentuk kering. Namun sekarang produksi rendangnya telah memiliki banyak varian, baik yang kering maupun basah.

Untuk rendang kering seperti daging daging suwir, rendang paru, rendang telur dan rendang singkong. Dan untuk rendang basahnya yaitu rendang daging, rendang paru, rendang ikan tuna. Untuk yang kering, Eva mengklaim rendang produksinya tersebut mampu bertahan hingga 3 bulan, sedang untuk yang basah hanya 3 minggu.

Harga jual rendangnya pun bervariasi, mulai dari Rp 17.000 hingga Rp 170.000 tergantung pada kemasannya, seperti kemasan 1kg, 1/2 kg, dan 1/4 kg. Tiap hari, Eva mampu memproduksi sekitar 50 kg rendang secara keseluruhan, dengan omzet per bulan berkisar Rp 50 juta.

Untuk pemasaran, Eva sendiri telah memiliki dua outlet yang berada di Kota Padang dan Jakarta. Selain di outlet miliknya, Eva juga menitipkan produknya tersebut ke beberapa toko oleh-oleh di Sumatera Barat.

Dia juga menerima pesanan dari pelanggannya di berbagai wilayah di Indonesia, baik hanya untuk konsumsi atau dijual kembali. Promosi yang dia lakukan pun terbilang sederhana, hanya dari mulut ke mulut atau melalui pameran yang dia ikuti.

“Produk saya ini sudah lumayan banyak dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia, biasanya mereka itu orang asli Sumatera Barat yang memang sudah jadi langganan. Tetapi permintaan paling banyak itu ke Jakarta, hampir 60%,” katanya seperti dilansir Liputan6.com.

Eva sendiri mengaku selama 10 tahun berbisnis rendang kemasan ini dirinya jarang menemui kendala. Namun sesekali dia terhalang pada sedikitnya pasokan paru karena terkadang untuk bahan baku seperti paru ini sulit ditemui dipasaran. Bila pun ada, biasanya dia harus bersaing dengan pemilik usaha lain seperti restoran atau catering.

Untuk penjualan yang terbanyak, lanjut Eva, terjadi pada momen Ramadan dan saat Idul Fitri. Sedang yang paling sepi biasanya terjadi pada awal tahun hingga sekitar bulan Maret. “Kalau saya perhatikan setiap tahun seperti itu. Mungkin pada awal tahun belum banyak ada pameran baik di Padang maupun di luar kota, seperti Jakarta. Makanya hanya mengandalkan penjual di outlet atau melalui pesanan,” jelasnya.

Kini, Eva telah memiliki 10 karyawan yang membantunya dalam produksi dan pemasaran. Ke depannya, dia ingin terus meningkatkan pemasaran dan juga menambah varian rasa dari produknya tersebut. (as)

* Evalube, Merek Oli Asli Indonesia (2013-06-21) * Essenza, Keramik Indonesia yang Mendunia (2013-06-18) * D’Cost Sukses Memainkan Strategi Promosi (2013-06-17) * Leker Klenger, Bisnis Makanan Tradisional Indonesia (2013-06-09) * Tempo, Majalah Berita Mingguan Indonesia (2013-05-30)

Asese, Rendang Kering yang Gurih | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *