Strategi Koji Pertahankan Nama Baik Sony

Strategi Koji Pertahankan Nama Baik Sony

Strategi Koji Pertahankan Nama Baik Sony

Strategi Koji Pertahankan Nama Baik Sony

Kamis, 27 Juni 2013 11:18

Merek Sony sudah menjadi âmerek saktiâ di bisnis produk elektronik maupun teknologi informasi. Kualitas produknya sudah tidak diragukan lagi. Sony pun menjadi kampiun di berbagai kategori, dari tape recorder, televisi, kamera digital, camcorder, komputer jinjing, sampai konsol game. Perusahaan elektronik yang berkantor pusat di Tokyo ini sudah merambah di berbagai belahan dunia dengan identitas globalnya.

Sony Indonesia juga sukses dalam menggarap pasar. Banyak orang berasumsi bahwa kesuksesan perusahaan-perusahaan Jepang didukung oleh semangat dan nilai-nilai kultural Jepang yang dibawa oleh para petingginya. Tapi, Sony sebagai perusahaan global menegaskan kesuksesan itu didukung erat oleh nilai-nilai dan kultur korporat yang selama ini dibangun di tubuh Sony sendiri.

Tapi, tak disangkal kesuksesan Sony Indonesia ini pun tidak lepas dari strategi dan gaya kepemimpinan Koji Wakaizumi, Presiden Direktur PT Sony Indonesia yang notabene orang Jepang tulen. Lelaki kelahiran Tokyo, 16 September 1963 dan akrab disapa dengan Waka-san ini menegaskan Sony sejak awal selalu mengusung suatu yang unik dan terdepanâlepas dari kultur Jepang sebagai negeri asal Sony. Passion for innovation, partisipasi sukarela, dan transparansi menjadi tiga faktor kesuksesan debut Sony di dunia.

Berikut cuplikan wawancaranya seperti disarikan dari marketing :

Bagaimana sejarah singkat Sony Indonesia? PT Sony Indonesia beroperasi di Indonesia sejak September 1995. Pada awalnya, Sony menggarap produk-produk audio video saja. Tapi, sejalan dengan waktu, Sony Indonesia pada tahun 2006, mulai dipercaya untuk menambah VAIO. Jadi menambahkan IT. Kemudian pada Oktober 2009, kita menambah dengan produk PlayStation. Intinya, Sony mengembangkan diri dengan produk dari audio video, IT, sampai perkakas games.

Sebagai merek dari Jepang, apakah ada pengaruh kultural Jepang pada kirprah bisnis Sony di Indonesia? Bila Sony tampak berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain di Indonesia, itu bukan karena Sony merupakan perusahaan asal Jepang. Tapi, karena kultur Sony sangatlah unik. Bahkan, di Jepang sendiri, Sony cukup berbeda dibanding perusahaan Jepang di sana. Kultur yang dibangun Sony tidak melekat atau dipengaruhi oleh kultur Jepang. Secara global, Sony sudah ada di beberapa negara. Sudah menjadi kultur tersendiri. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi saya untuk bergabung dengan Sony karena tak sama dengan perusahaan lainnyaâdi Tokyo sekalipun.

Apakah nilai-nilai budaya prinsipal berpengaruh pada perusahaan ini, termasuk dalam pengembangan konsep strategi marketing? Sejak Sony Corporation didirikan pada 1946âsesudah Perang Dunia IIâkulturnya tidak berubah. Pada dasarnya, dari dulu slogan Sony adalah something new, something different; one and only; like no other. Sony selalu mengusung sesuatu yang unik dan terdepan. Yang menjadi prinsip budayanya adalah passion pada inovasi. Jadi, itu yang selalu melekat pada Sony.

Apa yang dimaksud dengan passion for innovation di Sony? Kalau kita bicara soal passion pada inovasi tersebut, biasanya orang menganggap inovasi di riset dan pengembangannya atau produk marketingnya. Padahal, inovasi yang ada di Sony tidak sekadar mencakup dua area itu. Tapi, juga area-area seperti SDM, manajemen, distribusi, logistik, dan sebagainya. Sony telah memperkenalkan beberapa terobosan baru di area itu yang pernah menjadi pionir di Asia.

Seberapa besar kultur korporat menunjang kesuksesan bisnis keseluruhan? Nilai-nilai itu sangat besar pengaruhnya. Di era digital seperti sekarang ini, dunia semakin mengecil. Kita mendapatkan informasi dengan sangat mudah dan cepat dari berbagai media di internet. Intinya, perusahaan-perusahaan semakin mudah untuk mendapatkan teori-teori, strategi-strategi, maupun benchmark baru dari perusahaan lain. Ini semuanya sangat berbeda dengan 20 tahun silam. Mempunyai ide atau strategi yang baik saja tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana menerapkan ide-ide yang baik itu. Ini semua tergantung juga pada SDM yang ada. Yang memengaruhi orang-orang tidak lain adalah kultur korporat itu sendiri. Bila karyawan ini dipengaruhi oleh sebuah kultur perusahaan yang baik, achievement maupun penerapan strategi yang dipilih akan jauh lebih mudah.

Sony belum lama ini merilis slogan baru. Apa pesan di balik slogan baru tersebut? Memang benar. Pada September 2009, Sony merilis slogan globalnya yang baru. Kita menegaskan lagi apa yang mendasar dari Sonyâpassion untuk inovasi tersebut. Ini diterjemahkan dalam slogan baru Sony, yakni make.believe (baca: make dot believe). Ini menggambarkan kultur Sony di mana yang menjadi dasar adalah keingintahuan (curiosity). Keingintahuan ini merupakan kunci kreativitas. Itu yang dimaksud dengan kata âmake.â Sedangkan âbelieveâ mengacu pada percaya apa pun yang kita bayangkan bisa kita realisasikan. Terkait yang tadi, di Sony, pengaruh budaya Jepang tidak kental sama sekali. Boleh dikatakan nilai-nilai Sony unik dan sudah membaurâmelting pot.

Bagaimana Anda membaca karakter pasar Indonesia? Setelah mempunyai pengalaman di berbagai negara, sebelum di Indonesia, saya pernah ke Afrika Selatan, Eropa, dan sebagainya. Menurut saya, konsumen Indonesia tidak terlalu banyak menuntut. Karena konsumen Indonesia mempunyai pengetahuan yang luas. Dalam arti, ketika mau membeli suatu produk elektronik, mereka sudah tahu tempat-tempat mencari informasinyaâvery information minded. Mereka menganalisis sebuah produk sebelum melakukan pembelian. Konsumen Indonesia sangat menghargai merek dan sejarah merek tersebut. Termasuk servis dari merek tersebut. Intinya, konsumen Indonesia tidak kalah dengan konsumen negara lain.

Apakah ada perlakuan khusus? Kalau mau melihat sedikit perbedaan soal karakter konsumen ini, bisa dilihat dari sisi penjualan laptop VAIO di sini. Perlu diketahui bahwa Sony tidak menjual VAIO di semua market. Sony hanya memilih negara-negara tertentu yang bisa mengelola merek VAIO ini. Termasuk seri-seri yang dibawa ke Indonesia, tidak selalu sama dengan seri-seri yang dibawa ke negara lain. Konsumen Indonesia senang dengan variasi warna. Penjualannya pun boleh dikatakan seimbang untuk warna-warna yang diminati. Beda dengan negara-negara lain. Watak konsumen Indonesia menyukai warna-warna karena mereka biasanya mempunyai keinginan yang lebih. Strategi warna di Indonesia boleh dibilang sukses.

Seri seperti apakah yang paling diminati? Penjualan dari seri-seri sangat imbang. Tidak menonjol pada seri tertentu dengan harga tertentu pula. Bahkan, di Indonesia, Sony justru bisa menjual seri tertinggi paling banyak di Asia Pasifik. Ini yang membuat Sony tetap optimistis. Ini mungkin pengaruh dari diversifikasi gaya hidup orang Indonesia. Tidak seperti di negara Jepang, gaya hidupnya hampir sama.

Apa kunci sukses Sony dalam memasarkan notebook seperti VAIO tadi? Ada enam pendekatan yang selama ini dilakukan Sony. Enam pendekatan itu antara lain, aktivitas hubungan masyarakat yang baik, strategi pameran dan ekspo, iklan melalui internet, display produk toko, pusat informasi, maupun tenaga sales yang semuanya sudah terintegrasi satu sama lain.

Apa prinsip-prinsip yang dipegang Sony dan itu terkait dengan gaya kepemimpinan Anda? Karena Sony Indonesia menjadi bagian dari Sony Global Corporation, kita harus mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh kantor pusat. Tidak hanya itu, kita tetap membuat suatu yang unik di sini. Ada dua prinsip yang saya terapkan di sini, yakni partisipasi sukarela dan transparansi.

Manajemen Sony memperhatikan kecenderungan orang Indonesia yang tak segan atau sungkan untuk mengekspresikan opini mereka di depan publik. Bila diberi sebuah assignment, mereka tidak bertanya untuk apa. Yang kita arahkan di sini adalah membuat setiap karyawan sadar dan paham. Tidak sekadar manajemen memberikan kepada mereka. Tapi, mereka boleh âmenantangâ kembali. Di Sony, kecenderungan top down itu dibalik. Kita meminimalisirnya di sini. Sejak 2007, saya mencoba memperkenalkan sistem semacam ini pada seluruh tim. Sudah banyak proyek yang berhasil berkat sistem ini. Itulah gambaran dari partisipasi sukarela.

Bagaimana dengan prinsip transparansi dan apa benefit-nya bagi gerak bisnis perusahaan? Prinsip kedua adalah transparansi. Jepang boleh dibilang, seperti saya sebut tadi, cukup uniform, baik dari gaya hidup maupun wataknya. Berbeda dengan Indonesia yang sangat beragam. Kadang-kadang, keragaman ini bisa menimbulkan kesalahpahaman satu dengan yang lainnya. Kecenderungan ini, di Sony, diminimalisir dengan membangun kultur transparansi. Lalu memberi informasi yang selalu update kepada karyawan tentang kondisi perusahaan ini, baik bila sedang sukses maupun sebaliknya. Transparansi ini juga kami terjemahkan dalam ruang kerja yang terbuka. Mereka bisa merasakan sendiri detak jantung dari perusahaan ini. Oleh karena itu, membangun komunikasi internal menjadi penting. Ini dilakukan dengan berbagai media intranet maupun gathering setiap bulan. Inilah kultur yang dibangun Sony sendiri!

Kalau dikatakan âSony wayâ, apa perbedaannya dengan âwayâ yang lainnya? Mungkin perbedaannya, bisnis modul mereka sudah sangat terbukti dan sukses dan tidak ada alasan untuk berubah. Mungkin ada perubahan meskipun dasarnya selalu diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Sangat beda dengan Sony. Kita tidak bisa mengandalkan satu sistem dan model saja. Bisnis Sony sangat dinamis. Kita harus selalu mengikuti arus perubahan. Mengingat dunia juga cepat berubah. Orang-orang di Sony juga tidak bisa menerapkan sesuatu yang sama terus-menerus. Itu mungkin yang membedakan Sony dengan yang lainnya. (bn)

* Irfan Anwar Tak Kenal Kata Menyerah (2013-06-20) * Sung Khiun Menjawab Ambisi Samsung Jadi Nomor Satu (2013-06-11) * Brata Rafly Punya PR Besar di Mandala Airlines (2013-06-10) * Kunci Sukses Harry Surjanto Kembangkan Perusahaan TI (2013-05-28) * Agus Marto Berjanji Tak Akan Terima Suap (2013-05-24)

Strategi Koji Pertahankan Nama Baik Sony | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *