Manajemen Terbuka, Kunci Sukses Abdul Latief

Manajemen Terbuka, Kunci Sukses Abdul Latief

Manajemen Terbuka, Kunci Sukses Abdul Latief

Manajemen Terbuka, Kunci Sukses Abdul Latief

Abdul Latief dikenal sukses sebagai pengusaha toko serba ada yang menampung banyak tenaga kerja dan mempromosikan aneka produksi kerajinan rakyat. Kerja keras yang dimulainya dari bawah membuahkan kepercayaan dari mantan Presiden Soeharto yang mengangkatnya sebagai Menteri Tenaga Kerja tahun 1993-1998. Di masa kepemimpinannya UMR dan THR menjadi akrab di telinga pekerja dan pengusaha.

Kiprah suksesnya sebagai pengusaha toko serba ada Pasaraya Sarinah Jaya dikenal banyak orang. Gerai terbesarnya di kawasan Blok M dan Manggarai, Jakarta Selatan serta di Pluit, Jakarta Utara banyak menampung tenaga kerja Indonesia. Produk-produk lokal dan kerajinan tangan khas Indonesia mengisi sudut-sudut gedung perbelanjaannya. Pasaraya Sarinah Jaya menjadi identik pusat perbelanjaan elit kelas menengah atas bagi warga Indonesia, sekaligus pula sebagai toko serba ada standar maksimal bagi para wisatawan mancanegara yang wajib dikunjungi untuk menemukan barang-barang kerajinan khas Indonesia.

Abdul Latief, pria Minang kelahiran Banda Aceh 27 April 1940 ini memulai karir sebagai entrepreneur toko serba ada sungguh-sungguh dari bawah.

Ceritanya bermula ketika dia bekerja di Toserba Sarinah, milik pemerintah di bawah kendali Departemen Perdagangan. Sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayanan (Unkris), Jakarta. Ia juga dipercaya perusahaannya dengan  dikirim ke luar negeri mengikuti studi manajemen toserba di Grup Seibu, sebuah toserba terkenal dari Tokyo, Jepang pada tahun 1966. Antara tahun 1963-1971 Abdul Latief adalah Pimpinan Promosi dan Pengembangan Ekspor PT Departement Store Sarinah.

Sekembali di tanah Air, lulusan Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Departemen Perindustrian 1963 ini menyodorkan konsep baru tentang pemasaran untuk diterapkan di Toserba Sarinah yang didasarkan atas konsep pemasaran yang sudah ia pelajari di Negeri Matahari Terbit. Namun, idenya membangun konsep pemasaran toko serba ada yang modern kurang berkenan di hati pimpinan yang mengutusnya belajar ke Jepang.

Akhirnya ia berani mewujudkan idenya dengan membeli sebuah toko kecil di daerah Grogol, Jakarta Barat. Sebuah mobil yang dibawanya dari Jepang terpaksa dilegonya untuk membeli took itu. Di situlah untuk kali pertama, ia menyiapkan diri menjadi pengusaha.

Latief kemudian mengundurkan diri dari Sarinah dan mendirikan perusahaan sendiri PT Latief Marda Corporation tahun 1972, dibantu oleh adiknya Abdul Muthalib. Dua tahun kemudian, tahun 1974 berdiri lagi sebuah perusahaan miliknya PT Indonesia Product Centre Sarinah Jaya. Sekarang semua institusi bisnis Abdul Latief yang antara lain bergerak di bidang agrobisnis, buku, periklanan, asuransi, developer, konstruksi, eceran, dan media massa bernaung dalam sebuah nama bendera konglomerasi AâLatief Corporation.

Menguak kisah suksesnya, Latief menyebutkan dirinya menganut sistem manajemen terbuka dalam mengelola bisnisnya. Sebagai pengusaha yang berpengalaman dia paham tentang apa dan bagaimana seorang tenaga kerja yang terampil. (*/ dari berbagai sumber)

Manajemen Terbuka, Kunci Sukses Abdul Latief | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *