Jejaring Sosial untuk Tangani Krisis

Jejaring Sosial untuk Tangani Krisis

Jejaring Sosial untuk Tangani Krisis

Jejaring Sosial untuk Tangani Krisis

Makin banyak kita temui korporasi-korporasi baik besar, menengah maupun kecil yang sangat antusias menggunakan jejaring sosial (social media) sebagai satu alat ampuh dalam menghadapi krisis yang melanda bisnis mereka.

Manajer komunitas SMWF Gold, Sheldon Levine, (melalui Y. Widodo dalam “Enterprise Era Web”) memiliki 5 poin penting dalam menggunakan jejaring sosial sebagai alat penanganan krisis. Berikut penjelasannya.

Persiapan Ajaklah tim kita untuk berdiskusi. Ini agar mereka mengerti apakah jejaring sosial bisa dileburkan dalam strategi yang akan disusun untuk memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan. Jika memang dirasa memungkinkan, tentukan peran dan bagikan tanggung jawab ke masing-masing anggota tim kita.

Lalu tidak lupa kita harus sepakati tentang pesan yang harus disampaikan kepada para fans/ pengikut. Akan lebih baik jika disertai kesepakatan tentang frekuensi dan kuantitas informasi yang akan disampaikan (misal berapa tweet per hari atau berapa status per hari).

Pemantauan Bersikaplah selalu waspada dengan melakukan tindakan pemantauan (monitoring) yang berkala. Jangan sampai kita lalai dalam jangka waktu yang terlalu lama karena masalah bisa muncul kapan saja. Dan untuk mencegah membesarnya masalah, kita bisa melakukan tindakan preventif dengan menemukan sinyal-sinyal negatif.

Pesan yang mengena Isi pesan yang tepat dan mengena harus disusun sebaik mungkin. Selama krisis, komunikasi bisa membantu tapi juga bisa merusak. Untuk itulah diperlukan sebuah template (contoh umum) yang bisa digunakan dalam kondisi-kondisi tertentu. Krisis sering mendorong orang menjadi reaktif, emosional. Itulah mengapa diperlukan sebuah nada pesan yang tepat. Menunjukkan empati dan kepekaan terhadap kesulitan yang dialami orang yang bersangkutan. Dan jika memungkinkan, tawarkan juga solusi alternatif yang bisa diambil.

Sikap informatif dan âringan tanganâ Saat kita harus menyusun pesan, masukkan informasi yang bisa membantu publik. Ketika krisis terjadi, audiens adalah pihak yang akan menyebarluaskan informasi, baik yang positif atau negatif bagi kita. Bantulah supaya publik memahami secara tepat apa yang tengah terjadi dan apa yang dilakukan oleh perusahaan untuk menyelesaikannya. Minta publik untuk menyebarluaskannya. (berbagai sumber/ *Akhlis)

Kejujuran Bagaimanapun juga kejujuran adalah pondasi bagi sebuah bisnis untuk mendapatkan kepercayaan dari pelanggan/ konsumennya. Jadi saat sebuah bisnis berupaya membangun citra dengan mengatakan yang tidak sebenarnya, cepat atau lambat hal itu akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Saat menghadapi masalah, biasanya orang ingin tahu, apakah berita itu benar atau hanya rumor tak berdasar. Tidak peduli di dunia online atau offline, ketidakjujuran merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Saat menyusun pesan, sampaikan kebenaran dengan cara yang santun dan tidak menyakiti pihak manapun. Di mata publik, kejujuran dan transparansi akan meringankan beban, meskipun itu bisa jadi murni kesalahan perusahaan.

Jejaring sosial bisa digunakan sebagai alat untuk menangani situasi sebelum informasi yang tidak mencerminkan kenyataan tersebar luas. Pesan bernada âKami tengah mencari solusi dan akan dengan senang hati memberikan jawaban jika sudah ditemukan solusinyaâ akan menunda penyebarluasan masalah atau krisis. Tetapi tidak menjawab atau menjawab dengan informasi yang salah juga memberikan risiko yang lebih serius terhadap kredibilitas perusahaan.

* 5 Langkah Memilih Software Bisnis (2013-05-24) * Ingin Situs Dikunjungi Banyak Orang (2011-03-20) * Cara Membuat Nama Domain yang Menarik (2013-02-03) * Strategi Menembus Pasar Luar Negeri Melalui Internet (2010-04-12)

Jejaring Sosial untuk Tangani Krisis | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *