Akhirnya PAN Jatuh ke pelukan Jokowi

PAN bergabung dengan Jokowi

(oleh : Muhammad Mualimin, Ketua Umum HMI Komisariat Universitas Al Azhar Indonesia, Ketua DPC PERMAHI Jakarta Selatan, anggota FLP Jakarta)

Jika kepentingan yang menjadi dasar ikatan, maka tunggulah kehancuran suatu relasi. membelotnya PAN ke kubu Koalisi Indonesia Hebat adalah ancaman bagi kekuatan penyeimbang Demokrasi.

Dalam dunia demokrasi, peran oposisi sangat strategis. Selain menjadi mata pengawas yang kritis, dia juga menjadi pencegah lahirnya kesewenang – wenangan rezim penguasa. Dan semua itu kini menjadi utopia. Demokrasi yang dibangun sejak reformasi kembali lagi dari nol ketika keteguhan hati para pemimpin PAN goyah karena rayuan politik yang keluar dari bibir manis seorang Jokowi.

Aku fikir rakyat Indonesia tidak bodoh. Alasan demi kepentingan bangsa dan negara adalah alasan terkonyol yang pernah diucapkan seorang pimpinan partai. Kontribusi dan pengabdian pada bangsa tidak hanya lewat ‘’perkawinan’’ dengan rezim, hanya orang – orang munafik yang dengan mudahnya menghianati komitmen demi keuntungan materi – kekuasaan.

Lepasnya Partai PAN dari Koalisi Merah Putih harus ditangisi oleh para pejuang demokrasi. Kini kekuatan Pro – Kapitalis semakin perkasa dan gagah. Tunggu hingga BUMN – BUMN kita habis dijual dan kekayaan alam bumi pertiwi ludes tak tersisa.

Presiden Amerika Serikat ke – 47 Richard Nixon berkata ‘’tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi’. Dan prinsip itu sudah mendarah daging ditubuh PAN. Pandangan politik diatas sangat tidak mencerminkan nilai – nilai keislaman.

Jika kepentingan yang menjadi dasar kebijakan atau sikap, tidak ada pejabat yang menyantuni anak yatim jika tidak ada wartawan. Tidak ada Calon Presiden yang bersilaturahmi (blusukan) ke rumah orang miskin jika tidak masuk Televisi. Tidak ada om – om yang ‘’merawat’’ janda muda jika tidak ada keinginan kawin lagi. Tidak mungkin seorang pemuda berkunjung ke gubuk kakek tua jika si kakek tidak punya cucu yang cantik.
Setiap perbuatan ada motif tertentu, salah satunya adalah pencitraan.

Harusnya bukan kepentingan yang menjadi titik acuan, tapi Keikhlasanlah yang mendorong perbuatan itu lahir. Kebijakan partai diambil berdasarkan pertimbangan kebenaran, bukan pragmatisme bagi – bagi jatah. Zaman sekarang ini, komitmen mudah sekali dicampakkan bak pelacur murahan.

Janji tak ubahnya bak kantong plastik, sekali dipakai untuk tujuan tertentu lalu menjadi sampah yang membusuk. Kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan para pahlawan dengan darah dan nyawa, kini diinjak – injak oleh elit politik. Para penghianat bangsa seperti mereka tidak pantas makan dan digaji dari uang rakyat.

Bergabungnya PAN ke dalam ketiak rezim Jokowi – JK akan menjadi ‘’bedak’’ yang menutupi ‘’jerawat’’ ketidakbecusan pemerintahan kabinet kerja. Rupiah anjlok, daya beli rakyat turun, subsidi dicabut, impor merajalela, utang menggelembung dan segudang keburukan rezim ini perlahan akan tertutupi oleh bertambahnya dukungan orang – orang dari ‘’gerbong’’ partai PAN.

Suara – suara kritis Dewan Perwakilan Rakyat akan terdengar kecil bak ‘’jangkrik upil’’ ditengah sawah. Tidak ada lagi perlawananna yang berarti. Kini jubah kekuasaan Jokowi semakin tebal dan kokoh. Peta kekuatan check and balances akan jomplang. Maka akan lahir masa dimana negara dijalankan sesuai kehendak aristokrasi dan Jokowi sebagai ‘’Kaisarnya’’.

Jika wakil rakyat sudah tidak bersedia menjadi ‘’pelayan’’ rakyat. Maka kita yang masih benar – benar sebagai rakyat yang akan mengambil alih operasional negara ini. Dan Reformasi jilid II semakin mempunyai alasan yang jelas untuk digulirkan. Presiden bertanggungjawab atas kenyang tidaknya perut kita. Bersiaplah wahai rakyat yang ‘’asli’’, hak harus direbut, bukan ditunggu kawan!.

Akhirnya PAN Jatuh ke pelukan Jokowi | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *