Angkringan Bukan Sekedar Warung

Studi mengenai pemaknaan angkringan oleh para mahasiswa ini berhasil bahwa angkringan dengan bergam makanan yang dijajakannya serta harganya yang relatif murah membuat konsumen senang datang dan makan di angkringan. Selain murah, suasana santai di angkringan adalah gaya tarik utama. Di angkringan orang boleh duduk berlama-lama tanpa harus khawatir mendapat usiran dari penjualnya, santai sambil ngobrol bersama-sama teman dan sebagai tempat refreshing untuk melepaskan semua persoalan.

Terkait dengan pemaknaan terhadap angkringan, ternyata angkringan tidak hanya dimaknai sebagai tempat makan. Angkringan kini juga dimaknai sebagai tempat nongkrong, tempat berinteraksi, bahkan juga tempat refreshing bagi konsumennya yang dalam hal ini adalah mahasiswa.

Studi ini juga tidak mencoba membuat generalisasi atas semua pemaknaan maupun motivasi mahasiswa terhadap angkringan. Temuan yang ditampilkan di sini hanyalah sebuah bentuk pengamatan penulis terhadap angkringan yang ada di sekitar Unsoed. Walaupun warung angkringan merupakan salah satu sektor informal yang berskala kecil tetapi mampu bersaing karena punya satu kekhasan tersendiri, kekhasan itu antara lain bahwa di angkringan, pembeli dan pengunjung leluasa untuk nongkrong sambil ngobrol membicarakan berbagai hal mulai dari masalah politik (negara), ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya, bahkan humor. Angkringan sering pula menjadi salah satu sumber informasi terbaru dan juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas orang, mulai dari mahasiswa, tukang becak, pekerja, dan lain sebagainya. Suasana inilah yang membuat angkringan kemudian tidak hanya dimaknai sekedar tempat makan, melainkan juga dijadikan tempat nongkrong, tempat refreshing, tempat kenangan, dan arena diskusi, Dimana hal ini dilekatkan pada setiap angkringan yang ada di sekitar Unsoed.

Angkringan Bukan Sekedar Warung | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *