Angkringan dan Gaya Hidup Etnisitas

Liberalisasi perdagangan sebagai suatu tuntutan dalam negeri di banjiri dengan beranekaragam produk baik barang maupun jasa yang ditawarkan produsen. Hal ini berarti konsumen di dalam negeri semakin memiliki banyak pilihan untuk memilih barang dan jasa dengan tingkat harga dan selera yang diiginkannya. Disisi lain pembangunan berbagai tempat konsumsi baru juga semakin mempermudah akses distribusi dan konsumsi barang maupun jasa tersebut. Hal ini bisa dilihat melalui pembangunan berbagai pasar swalayan, mal, dan tempat-tempat belanja baru yang disadari maupun tidak telah mendorong ke dalam budaya konsumsi baik pada tingkat individu rumah tangga maupun masyarakat.

Kemajuan ekonomi tersebut ternyata menyertai juga berkembangnya berbagai gaya hidup, sebagai fungsi dari diferensiasi sosial yang tercipta dari relasi konsumsi. Pilliang menyebutkan bahwa yang hidup dalam pengertiannya yang umum, berarti karakteristik seseorang yang dapat diamati, yang menandai sistem nilai serta sikap terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Karakteristik tersebut berkaitan dengan pola penggunaan waktu, ruang, uang, dan objek-objek yang berkaitan dengan semuanya, misalnya cara berpakian, cara makan, cara berbicara, kebiasaan di rumah, kebiasaan di kantor, belanja, pilihan teman, restoran, hiburan, tata ruang, tata rambut, busana dan sebagainya.[1] 

Salah satu gaya hidup yang berkembang di Indonesia sebagai akibat globalisasi ekonomi dan informasi sejak dua dekade terakhir ini adalah gaya hidup etnisitas dan subkultur. Adanya interaksi global serta regional yang berarti juga semakin mempermudah penyebaran pengaruh kebudayaan dan gaya hidup telah menimbulkan satu kecenderungan yang tidak dapat diragukan lagi yaitu kecederungan ke arah multikulturalisme. Hal ini seperti yang terjadi di negara-negara maju, di mana migrasi antar negara untuk tujuan peningkatan karir, waktu senggang dan bisnis, perpindahan profesional dan individual keluar batas-batas negara telah menjadikan setiap masyarakat menjadi lebih multi etnik dan multikultural. Dunia bergerak ke arah heterogenitas yang interaktif dan saling bergantung ketimbang homogenitas lokal atau regional, dimana keterasingan sebagai konsekuensinya. Sekarang orang dapat memilih dari deretan buku, kaset, video, disket, restoran, pakaian, dan komoditi lainnya yang membentuk aransemen gaya hidupnya sendiri secara aklektik maupun homolog. Seseorang dapat menikmati Mc Donnald sambil nonton wayang golek disebuah hotel lalu pulang ke rumah sederhana menggunakan taksi.[2] Demikian pula yang terjadi dalam pemilihan angkringan sebagai tempat konsumsi, angkringan tidak hanya menjadi tempat konsumsi kaum miskin kota yang melihatnya sebagai alternatif pilihan yang murah dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, kini angkringan telah pula menjadi pilihan tempat konsumsi bagi kaum elit kota. Mereka yang bermobil dan berduit juga dengan mudah kita temui sedang makan maupun sekedar nongkrong di angkringan.

Apa yang kemudian yang terjadi di sini benarkah telah berkembang gaya hidup etnisitas dan subkultur seperti yang telah dinyatakan oleh Pilliang? Ataukah hal ini merupakan bentuk kejemuan yang mulai melanda masyarakat kita akan semua hal yang berbau kapitalisme? Keduanya tampaknya bisa diterima secara bersama-sama untuk menjelaskan fenomena tersebut. Ketika masyarkat mulai dilanda kejenuhan akan hal yang berbau kapitalisme dan globalisasi, maka pilihan gaya hidup etnisitas dan subkultur menjadi berkembang dalam masyarakat. Seperti halnya yang di paradoksialkan oleh Pilliang, seseorang bisa saja pergi dari sebuah rumah mewah dengan mengendarai mobil keluaran terbaru, kemudian makan nasi kucing di angkringan sembari  jegang dan guyonan dengan penjual dan pelanggan angkringan yang lain.

               Pernyataan informan penelitian ini terkait dengan tingkat kejenuhan dan kebosanan mereka akan tempat-tempat makan yang sekarang banyak bertebaran, khususnya dalam bentuk kafe-kafe yang ada di kota Purwokerto, juga mengindikasikan telah terjadinya peralihan ke arah gaya hidup etnisitas dan subkultur ini. Padahal, melihat dari uang saku mereka maka bukan merupakan suatu hal yang susah untuk bisa mengakses tempat-tempat mewah tersebut.

Angkringan dan Gaya Hidup Etnisitas | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *