Asal Mula Sayyid Di Cikoang

  1. 1.      Asal Mula Sayyid Di Cikoang

Sayyid di kalangan Masyarakat Cikoang merupakan panggilan bagi keturunan Sayyid Jalaluddin. Sayyid dan Al-Aidid digunakan sebagai tanda pengenal atau atribut, bahwa mereka berasal dari kaum terhormat keturunan anak cucu Nabi Muhammad SAW. Masyarakat sangat patuh dan hormat pada kaum Sayyid. Sayyid dan Al-Aidid digunakan sebagai tambahan nama depan dan belakang untuk kaum pria dan nama panggilan wanita Sayyid disebut Syarifah (Yuliana, 2004).

Kehadiran kaum Sayyid di Cikoang tidak lepas dari keberadaan golongan Sayyid di Hadramaut. Hadramaut adalah sebuah daerah kecil yang ada di Arab Selatan. Hadramaut merupakan daerah pantai di antara desa-desa nelayan dan sebagian daerahnya pegunungan. Di sepanjang pantai hanya terdapat bukit-bukit atau dataran tinggi yang sangat luas. Pemandangan sepanjang jalan terlihat gersang, banyak dijumpai padang rumput dan pohon berduri. Penduduk Hadramaut dibentuk dari empat golongan yang berbeda, yakni golongan Sayyid, suku-suku, golongan menengah, dan golongan budak (Van Den Berg, 1989).

Golongan Sayyid adalah keturunan al-Husain, cucu Muhammad. Mereka bergelar Habīb bagi anak laki-laki dan anak perempuan bergelar Habābah. Kata Sayyid (maskulin: Sādah, feminin: Syarifah) yang hanya digunakan sebagai atribut atau keterangan (Van Den Berg, 1989). Golongan Sayyid adalah penduduk terbesar jumlahnya di Hadramaut. Mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati. Secara moral mereka sangat berpengaruh pada penduduk. Semua Sayyid diakui sebagai pemimpin agama oleh penduduk yang tinggal di sekitar kediamannya. Selain itu, Sayyid juga dianggap sebagai penguasa daerah tersebut. Para Sayyid selalu mempertahankan kekuatan hukum Islam. Bagi Sayyid, hukum dan agama Islam merupakan satu kesatuan. Lemahnya hukum dikawatirkan berakibat hilangnya penghormatan rakyat dan lunturnya kepercayaan rakyat terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW.

Nenek moyang golongan Sayyid di Hadramaut adalah seorang yang bernama Ahmad bin Isā yang dijuluki al-Muhājir dan menurut tradisi telah menetap di negeri itu selama 10 Abad. Ia berasal dari Bassora dan pindah bersama nenek moyang ke-80. Genealogi Sayyid Ahmad adalah demikian. Bin Isā, bin Muhammad an-Naqib, bin Ali al-Uraidi, bin Ja’far as-Sadiq, bin Muhammad al-Baqir, bin Ali Zain al-Abidin, bin al-Husain (Van Den Berg, 1989). Di antara keluarga itu ada yang sudah keluar dari Hadramaut dan membuka pemukiman baru. Kemungkinan dari mereka yang hijrah itu di antaranya adalah  keluarga Sayyid Jalaluddin.

Golongan Sayyid di Hadramaut memiliki satu kebiasaan yang telah lama dilakukan secara turun-temurun, yakni kebiasaan berziarah ke makam-makam suci yang terdapat di Hadramaut. Makam-makam itu dianggap sebagai makam leluhur mereka. Seperti  makam nabi Hud, makam nabi Saleh di Lembah Sarr, makam Ahmad bin Isā, makam Sayyid Ahmad bin Muhammad al-Habsyī, makam Aidid, makam Bājalhabān di dekat Sibbī, makam al-Aidrūs, dan sebagainya (Van Den Berg, 1989).

Kebiasaan Sayyid di Hadramaut berziarah kubur ternyata memiliki kemiripan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh kaum Sayyid di Cikoang. Pada umumnya kaum Sayyid di Cikoang memiliki kebiasaan berziarah ke makam-makam leluhur. Satu hal yang sangat menarik adalah kepercayaan masyarakat Cikoang terhadap tempat pemakaman jera’ paletteka matteke’. Masyarakat Cikoang percaya, apabila ada anggota masyarakat meninggal dunia dan jenasahnya dimakamkan di tempat itu, maka ruh si jenasah langsung masuk surga tanpa melalui siksaan. Tempat pemakaman itu masih tetap diyakini oleh warga Cikoang sampai saat ini (Yuliana, 2004).

Golongan Sayyid di Cikoang dibagi dalam empat strata sosial diantaranya adalah sebagai berikut (Yuliana, 2004):

  1.  Sayyid Opu

 Sayyid Opu adalah Sayyid yang memiliki kedudukan tertinggi di antara para Sayyid. Sayyid Opu biasa pula disebut Karaeng Opua apabila ia terpilih sebagai Opu atau pemimpin kaum Sayyid. Gelar Opu diperoleh dari garis keturunan ibu yang berdarah Buton dan gelar Karaeng di peroleh dari garis keturunan Jafar Sadik setelah diangkat menjadi Karaeng. Gelar Karaeng merupakan gelar kehormatan yang diturunkan dari Jafar Sadik setelah menjadi penguasa di daerah itu. Karaeng Opua merupakan pewaris Maudu’ Lompoa yang bertanggung jawab meneruskan ritual ini. Opua memiliki kekuasaan absolut yang kelak akan digantikan oleh penerusnya apabila telah wafat.

  1. Sayyid Karaeng

Sayyid Karaeng adalah Sayyid yang memiliki pertalian darah dengan bangsawan Makassar. Gelar Karaeng diperoleh dari garis keturunan ibu sebagai bangsawan Makassar dan garis keturunan ayah sebagai Sayyid. Artinya keturunan Sayyid  menikah dengan putri keturunan Karaeng.

  1. Sayyid Massang

Sayyid Massang adalah Sayyid yang masih terhitung sebagai kerabat Karaeng Opua. Sayyid Massang biasa dipanggil dengan sebutan Tuan. Mereka masih satu garis keturunan dari Jafar Sadik. Dari sembilan anak Jafar Sadik hanya satu yang diangkat sebagai pemimpin dan yang lain menjadi Sayyid Massang. Garis kepemimpinan Karaeng tersebut yang telah diwariskan kepada Karaeng Opua. Saudaranya yang lain hanya memperoleh status sebagai Sayyid Massang karena tidak pernah menduduki satu jabatan.

  1.  Sayyid biasa

Sayyid biasa adalah Sayyid yang memiliki garis keturunan dari Sayyid Massang. Sayyid biasa seperti orang kebanyakan yang tidak memegang peranan. Mereka telah memiliki percampuran darah dengan rakyat biasa. Kebanyakan dari mereka hanya menjadi pengikut dari para anrongguru di Cikoang. Sayyid biasa tidak hanya hidup di Cikoang, tetapi mereka sudah hidup menyatu dengan anggota masyarakat di luar Cikoang.

 

Asal Mula Sayyid Di Cikoang | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *