BAB 3: REFERENSI DAN INFERENSI

 

 
 

 
 

BAB 3: REFERENSI DAN INFERENSI

 
Kita tahu bahwa kata-kata tidak mengacu pada suatu apapun, oranglah yang mengacu. barangkali paling baik kita memikirkan tentang referensi sebagai suatu tindakan ketika seorang penutur atau penulis menggunakan bentuk linguistik untuk memungkinkan seorang pendengar atau pembaca mengenali sesuatu.

Bentuk-bentuk linguistik itu adalah ungkapan-ungkapan pengacuan, yang mungkin berupa nama diri (misalnya ‘Shakespeare’, ‘Chathy Reveuelto’), frasa nomina (misalnya ‘pengarang itu’, ‘penyanyi itu’), atau frasa nomina tidak tentu (misalnya ‘seorang laki-laki’, ‘sebuah tempat yang indah’) dan kata ganti orang (misalnya ‘dia laki-laki’, ‘miliknya’, ‘ini’, ‘mereka’). Pemilihan satu jenis ungkapan pengacuan dibandingkan dengan lainnya kelihatannya, dalam jangkauan yang luas didasarkan pada asumsi penutur terhadap apa yang sudah diketahui pendengar. Di dalam konteks visual yang diberikan, kata ganti yang berfungsi sebagai ungkapan deiksis (misalnya ‘ambil ini’, ‘lihatlah dia’) mungkin mencukupi untuk referensi yang berhasil, tetapi karena pengenalan tampaknya lebih sulit, frasa nomina yang lebih rinci boleh dipakai (misalnya: ingatkah laki-laki tua asing dengan topi yang lucu?).

Jadi, referensi dengan jelas terkait dengan tujuan (maksud) penutur (misalnya untuk mengenali sesuatu) dan keyakinan penutur (yaitu: dapatkah pendengar diharapkan untuk mengetahui sesuatu yang khusus?) dalam pemakaian bahasa. Agar terjadi referensi yang sukses kita juga harus mengenal peran inferensi. Karena tidak ada hubungan langsung antara entitas-entitas dan kata-kata, tugas pendengar adalah menyimpulkan secara benar entitas mana yang dimaksud oleh penutur. Tidaklah aneh bagi orang yang ingin mengacu pada beberapa entitas atau orang tanpa mengetahui dengan pasti ‘sebutan’ apa yang akan menjadi kata terbaik untuk digunakan. Bahkan kita dapat menggunakan ungkapan-ungkapan samar (misalnya: sesuatu yang berwarna biru; ah, siapa namanya; anu itu) berdasarkan kemampuan pendengar untuk menyimpulkan referen apa yang ada di dalam benak kita. Penutur bahkan menemukan nama-nama. Ada orang laki-laki yang mengirimkan paket ke kantor kami tidak tahu nama sebenarnya, tapi saya dapat menyimpulkan identitasnya ketika sekretaris menghubungkannya seperti dalam (1).
(1) Mister Aftershace is late today
(Tuan habis-cukur terlambat hari ini)

Contoh tersebut mungkin membantu untuk menggambarkan bahwa referensi tidak didasarkan pada suatu penamaan yang benar secara objektif, tetapi didasarkan pada beberapa pilihan ungkapan yang sukses secara lokal.
Kita mungkin juga memperhatikan dari contoh tersebut referenti yang sukses perlu kerja sama dengan kedua-duanya. penutur dan pendengar memiliki peran untuk memikirkan tentang apa yang sedang dipikirkan orang lain dalam benaknya.

sumber: buku Pragmatik (George Yule)

Informasi Terkait
Pemakaian Referensial dan Pemakaian Atributif

 

 

 

 

0 komentar:

 

Poskan Komentar

 

 

 
 

 

 

 

 
BAB 3: REFERENSI DAN INFERENSI | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *