Berpindah MLM, Apakah Salah?

Berpindah MLM, Apakah Salah?

Sering disebut, orang yang pindah-pindah MLM tidak akan bisa berhasil. Di lain pihak, kadang-kadang dirasakan prestasi kita rasanya sudah berat untuk dimajukan. Lalu harus bagaimana? Sebuah hal paling sederhana yang perlu dipahami adalah konsep antara “pindah MLM” dengan “pindah-pindah MLM” atau yang sering disebut “kutu loncat”.

Memilih MLM ibarat memilih pasangan (pacar). Awalnya kita memilih-milih MLM, lalu bergabung, seperti kita mulai berpacaran. Selama berpacaran, ada kalanya kita suka tidak suka harus menyadari bahwa dia bukan untuk kita, sehingga berakibat putus dan harus mencari pacar baru.

Ada kemungkinan kita melihat pacar kita begitu baik dan cocok dengan kita sehingga kita menikahinya (analogi MLM: jadi leader besar yang tidak mungkin pindah lagi). Tidak pernah ada pacar yang mau diduakan (dimadu), sama halnya dengan MLM, di mana belum pernah ada distributor MLM yang berhasil (jadi top leader) yang mendua MLM. Walaupun demikian, sudah merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam berpacaran kita kadang juga harus putus dan berganti pacar baru.

Kutu Loncat : Adalah sebuah hal yang berbahaya kalau kita bergonta-ganti MLM, karena orang akan menjauhi kita. Hari ini bilang MLM A adalah yang terbaik, besok bilang MLM B yang terbaik, besoknya lagi bilang MLM C, dst. Terus mau merekrut kita ke berbagai MLM yang dia ikuti. Yang bangkrut? Downline-nya. Uangnya habis untuk bergabung tanpa hasil. Akhirnya, kalau dia bilang MLM Z adalah yang terbaik, orang sudah tidak percaya.

Sama halnya bila berganti-ganti pacar. Sekali ganti, orang masih bersimpati dan mendukung. Dua kali masih oke. Berkali-kali? Itu namanya playboy dan orang akan berpikir, “Paling-paling sebentar juga ganti lagi…”

Perlukah Berpindah?

Itu kembali pada diri masing-masing. Saya pribadi bergabung di beberapa MLM. MLM pertama terlalu berat, terjadi persaingan harga yang tidak sehat, dan akhirnya saya rugi karena terlanjur stok barang (sebuah kesalahan distributor MLM). Saya sangat tidak matang di sini, dan itu penyebab kegagalan saya.

MLM kedua saya hanya sekedar gabung, karena kebetulan mau pakai produknya. Modal saya kembali, karena sempat jual 1 kali. Setelah itu, karena tidak ada upline yang membantu, saya quit juga.

Di MLM ke-3, saya bertahan 2 tahun dan menjalani pendidikan yang mengubah hidup saya. Tapi tidak ada kemajuan berarti dalam sisi bonus dan peringkat, dan saya akhirnya frustrasi. Sehingga ujung-ujungnya saya berpindah di MLM ke-4 yang saya geluti sekarang.

Bukankah seorang pemenang tidak pernah menyerah??? Pepatah mengatakan: Bila anda menyerah, anda pasti kalah. Bila anda terus berjuang, ada kemungkinan anda menang. Lalu mengapa berpindah MLM? Saya teringat sebuah kata-kata Robert Kiyosaki di bukunya Retire Young Retire Rich. Seorang pemenang tahu kapan dia kalah, dan dia akan berusaha untuk menang di tempat lain. Orang yang kalah ngotot terus sehingga makin kalah. Ini yang terjadi di meja judi, sehingga banyak yang bangkrut, karena tidak terima dia rugi, dan ingin menebus kerugiannya, sehingga malah rugi lebih banyak.

Sebuah hal sederhana meyakinkan saya untuk pindah. Saya menghitung potensi penghasilan saya di tempat lama, berdasarkan data para top performers (jangan melihat data prestasi orang malasnya) di MLM lama. Ternyata tidak terlalu tinggi. Perlu waktu yang lama atau perjuangan ekstra berat. Saya tidak sanggup presentasi 16 jam per hari non-stop secara konsisten untuk berhasil. Saya tidak sanggup bila penghasilan saya tetap di bawah Rp.5 juta per bulan selama 1-2 tahun berikutnya, bila saya ingin beli rumah dan mobil. Sehingga saya ambil kesimpulan: kalau saya fight, hasilnya masih tetap tidak seberapa. Lebih baik quit.

Di MLM baru, saya pun tidak serta-merta bergabung. Saya cek dulu top dan average performers, potensi pendapatan mereka, business plan-nya, dsb, baru saya memutuskan untuk gabung. Hasilnya luar biasa. Dengan modal minimal, bulan pertama bonus saya hanya Rp.44 ribu (masih belajar lagi), dan melonjak jadi Rp.5 juta lebih di bulan kedua! (Bulan ketiga masih berjalan).

Pemenang bisa kalah di sebuah MLM, tetapi bila dia terus berjuang, dia bisa jadi pemenang di MLM (walaupun MLM yang lain).

Mulai Dari Nol?

Ini yang paling ditakuti semua orang, termasuk saya. Ternyata tidak demikian di MLM, dan ini adalah keindahan MLM. Ketika saya pindah, saya ajak downline dan mantan downline saya. Kriteria pemilihan downline yang diajak sifatnya kasuistis: apakah memilih yang aktif atau yang pasif? Saya pribadi memilih yang pasif dulu, karena saya mengerti perasaan frustrasi mereka, dan mengajak mereka berjuang lagi di sini, juga supaya tidak kehilangan muka di mata yang aktif (tidak kehilangan integritas).

Biarkan yang aktif jalan dulu di tempat lama, sambil memberi bonus pada saya di MLM lama (double-income). Tetapi bisa jadi kita memilih yang aktif dulu, karena 1 orang aktif nilainya berkali-kali lipat orang pasif. Kita bisa langsung tancap gas. Itu sebabnya saya bilang sifatnya kasuistis dan biarkan kebijaksanaan anda yang menentukan. Hanya anda yang tahu jawabannya.

Dengan saya memilih yang pasif dulu, saya membuktikan: saya besar bukan semata-mata karena downline aktif saya, tetapi karena kapasitas pribadi saya yang sudah meningkat (terbukti saya naik peringkat dengan bonus besar di bulan ke-2). Downline aktif bisa lebih respek ketika diajak pindah.

Kapan Berpindah?

Ini juga kasuistis. Tetapi ada beberapa panduan yang bisa saya berikan, dan jangan diikuti mentah-mentah.

  1. Pertama-tama, konsultasikan dulu pada upline sekarang, mengapa kok tidak maju-maju. Jangan bilang mau pindah, karena pasti tidak boleh. Tanyakan apa yang harus dilakukan agar bisa maju, selidiki dulu apa yang salah, dsb.
  2. Bila sudah dijalankan dengan baik selama 2 tahun atau lebih, bonus belum mencapai Rp.5 juta, belum naik peringkat ke tingkat prestisius, bisa mulai dipertimbangkan untuk pindah.

Waspada! : Ketika ada orang yang tahu kita ingin pindah, tentu saja dia akan menawarkan sebuah opportunity pada kita.

Yang perlu kita perhatikan :

1. Hati-hati pada MLM yang menjanjikan hasil besar dengan usaha minimal atau bahkan tanpa usaha.
2. Hati-hati terhadap money game. Lebih aman memilih MLM anggota APLI / terdaftar.
3. Hati-hati terhadap business plan yang memberi bonus besar di depan, tapi kecil di belakang (biasanya persentase-nya besar di downline level 1, tapi kecil di level-level berikut. Ingatlah: kita mendapat hasil terbesar justru dari kedalaman, bukan level 1.
4. Hati-hati terhadap iming-iming dan janji palsu yang tidak rasional.
5. Pilihlah yang business plan-nya lebih mudah untuk memperkecil tingkat drop out, support system lengkap dan matang, dan produk yang memang berkualitas.
6. Hati-hati terhadap tawaran tanpa tutup point, karena pendapatan leader MLM sebagian besar berasal dari tutup point downline, bukan hanya dari new distributor yang kedalamannya makin dalam dan akhirnya di luar jangkauan anda.
7. Bila memungkinkan, selidiki dulu kantor MLM yang menawarkan diri, yang terletak di luar negeri, bukan hanya yang di Indonesia. Ini untuk memastikan klaim-nya benar.

Jangan Berpindah bila :
1. Belum menjalankan sistemnya dengan benar secara konsistem selama minimal 6 bulan.
2. Alasan anda hanya karena upline sponsor tidak kompeten. Anda bisa cari upline di atasnya lagi.

Jangan terburu-buru memutuskan anda gagal. Berjuanglah dulu minimal 6 bulan, analisa hasilnya, baru putuskan.

Berpindah MLM, Apakah Salah? | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *