DEIKSIS PERSONA DALAM PRAGMATIK

 

 
 

 
 

DEIKSIS PERSONA DALAM PRAGMATIK

 
Untuk mempelajari ungkapan-ungkapan deiksis, kita harus menemukan pergantian percakapan tiap-tiap orang dari kedudukannya sebagai ‘saya’ menjadi ‘kamu’ secara konstan. Semua anak kecil mengalami sebuah tahapan dalam proses belajar mereka, ketika perbedaan ini tampak problematis dan mereka mengatakan sesuatu seperti ‘bacalah kamu suatu cerita’ (sebagai ganti ‘saya’) sambil menyerahkan sebuah buku kesukaannya. 

Deiksis persona dengan jelas menerapkan 3 pembagian dasar, yang dicontohkan dengan kata ganti orang pertama ‘saya’, orang kedua ‘kamu’, dan orang ketiga ‘dia lk’, ‘dia pr’, atau ‘dia barang’. Dalam beberapa bahasa kategori deiksis penutur, kategori deiksis lawan tutur dan kategori deiksis lainnya diuraikan panjang lebar dengan tanda status sosial kekerabatan (contohnya, lawan tutur dengan status sosial lebih tinggi dibandingkan dengan lawan tutur dengan status sosial lebih rendah). ungkapan-ungkapan uang menunjukkan status lebih tinggi dideskripsikan sebagai honorifics (bentuk yang digunakan untuk mengungkapkan penghormatan). Pembahasan tentang keadaan sekitar yang mengarah pada pemilihan salah satu bentuk ini daripada bentuk lain kadang-kadang dideskripsikan sebagai deiksis sosial.
 
Salah satu contoh yang cukup terkenal tentang perbedaan sosial yang dikodekan dalam deiksis persona adalah perbedaan antara bentuk yang dipakai untuk lawan tutur yang sudah dikenal dibandingkan dengan bentuk yang dipakai untuk lawan tutur yang belum dikenal dalam beberapa bahasa. Bentuk tersebut dikenal sebagai perbedaan T/V, dari bentuk bahasa Perancis ‘tu’ (dikenal) dan ‘vous’ (tidak dikenal), dan dijumpai dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Jerman (‘du’/’sie’) dan bahasa Spanyol (‘tu’/’usted’). Pemilihan salah satu bentuk saja tentu akan menginformasikan sesuatu (yang tidak secara langsung dikatakan) tentang pandangan penutur mengenai hubungannya dengan lawan tutur. Dalam konteks sosial pada saat individu-individu secara khusus menandai perbedaan-perbedaan antarstatus sosial penutur dan lawan tutur, penutur yang lebih tinggi, lebih tua, dan lebih berkuasa akan cenderung menggunakan versi ‘tu’ kepada lawan tutur dengan status lebih rendah, lebih muda, dan lebih tidak berkuasa, dan akan disapa dengan bentuk ‘voos’ dalam jawabannya.
 
Ketika perubahan sosial terjadi, misalnya di Spanyol modern, saat seorang wanita pengusaha muda (status ekonomi lebih tinggi) sedang bicara dengan perempuan pembersih rumahnya yang lebih tua (status ekonomi lebih rendah), perempuan yang lebih tua menggunakan ‘tu’ dan perempuan yang lebih muda menggunakan ‘usted’ karena perbedaan usia lebih berpengaruh daripada perbedaan ekonomi.
 
Di dalam istilah deiksis, orang ketiga bukanlah yang terkait secara langsung dalam interaksi dasar karena sebagai orang luar, tentu saja lebih jauh. Oleh karena itu kata ganti orang ketiga adalah bentuk-bentuk distal dalam istilah deiksis persona. Penggunaan bentuk orang ketiga, di mana penggunaan orang kedua juga dimungkinkan, adalah salah satu cara berkomunikasi (dan tidak akrab). hal ini bisa terjadi dalam bahasa Inggris untuk suatu tujuan ironis atau humor seperti ketika seseorang, yang sangat sibuk di dapur menyindir orang lain yang sangat malas, seperti dalam contoh (2)
 
(2) Would his higness like some coffee?
(apakah Yang Mulia menginginkan kopi?)
 
Jarak yang dihubungkan dengan bentuk-bentuk orang ketiga itu juga dipakai untuk membuat dakwaan yang tepat. (contohnya: Kamu tidak membersihkan) lebih tidak langsung, seperti dalam (3a), atau untuk membuat suatu persoalan pribadi yang bukan pribadi, berdasarkan pada aturan umum, seperti pada (3b).
 
(3a) Somebody didn’t clean up after himself.
(Seseorang tidak membersihkannya setelah menggunakannya)
 
(3b) Each person has to clean up after him or her.
(siapa saja harus membersihkannya setelah memakainya)
Ekslusif dan inklusif dalam penggunaan deiksis:
1. Ayo pergi (seseorang mengatakan kepada beberapa teman)
2. Mari kita pergi (seseorang mengatakan kepada orang yang sudah mencakup di dalamnya penutur dan teman-temannya)
Tindakan bepergian termasuk inklusif (penutur dan lawan tutur termasuk di dalamnya) pada tuturan pertama, dan termasuk eksklusif (penutur ditambah orang lain dengan meniadakan lawan tutur) pada tuturan kedua.
Sumber: Pragmatik terbitan Pustaka Pelajar (George Yule: 15-19)
 
 

 

 

 

0 komentar:

 

Poskan Komentar

 

 

 
 

 

 

 

 
DEIKSIS PERSONA DALAM PRAGMATIK | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *