Guratan Pena Hati

Guratan Pena Hati

http://kaderisasi.pks.or.id/?op=isi&id=137

Bila malam telah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah isteri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi gurat-gurat kepenatan, karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejab, Jikalau tidak ada air wudhu’ yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tiada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih isteri Anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan najis tiada habisnya. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi kencing lagi. Padahal tangan isteri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda fikirkan tentang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng, sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi isteri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai isteri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban isteri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja. Jangan sampai Anda membiarkan isteri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak.

Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang isteri salehah memang tidak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi isteri salehah tetap manusia yang memerlukan perhatian.

Ia juga perlu diakui, meski tidak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, sediakan telinga yang selalu setia untuk mendengar.

Kalau kegelisahan jiwanya tidak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tidak pernah Anda akui kewujudannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan isteri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, isteri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tidak mau mendengar, melainkan semata-mata karena dibakar api cemburu. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan.

Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang.

Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan fikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apapun dia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski dia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah isteri Anda yang terbaring letih itu. Lalu fikirkankah sejenak, tidak adakah yang bisa kita lakukan sekadar untuk mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang?

Boleh dengan kata yang berbunga-bunga, boleh juga tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk isteriku. Perlukah aku antarkan untuk itu?”

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekadar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, Mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tidak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarnya ke sekolah, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata-mata karena mencari ridho Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tidak ada artinya apa yang kita lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah.

Allaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah kepada Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih…

Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tidak ada airmata duka yang menitis dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tidak ada lagi isteri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tidak didengar.

Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak isteri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”

Sesudah engkau puas memandangi isterimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh isterimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak habisnya oleh perubahan.

Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang isteri kita.
“Wahai manusia, sesungguhnya isteri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah, “kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus isteri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.”

Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya, ataukah kita mengabaikannya sehingga gurat-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya?

Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isteri? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami, saya sudah cukup baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata isteri.

Saya hanya berharap isteri saya benar-benar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk isteri Anda.

Pengirim: Aidil Heryana

Milis Sabili
Dikirim oleh: Ummu Ja’far
Selasa, 25 Juli 2006

Guratan Pena Hati | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *