GURU BK BUKANLAH TONG SAMPAH

Oleh Betric Feriandika

GURU BK BUKANLAH TONG SAMPAHBoleh diakui, jaman dahulu guru BK (Bimbingan Konseling) dipandang sebagai polisi sekolah. Jika seorang siswa dipanggil oleh guru BK, dalam fikirannya atau bisa jadi dalam fikiran teman-temannya yang muncul adalah sanksi atau hukuman, intinya pasti ada masalah. Sehingga jika ada siswa yang dipanggil guru BK layaknya dipanggil monster. Dan BK menganggap dirinya layaknya tong sampah yang hanya ditaruh  barang-barang jelek atau apa saja yang dianggap kurang baik.

Mari kita ubah paradigma mengenai guru BK. Saat ini guru BK harus proaktif mengarahkan anak-anak untuk mempunyai tujuan dalam hidupnya. Guru BK bukanlah lagi menghukum siswa, tetapi mengajak para murid untuk mempunyai  tujuan dalam hidupnya. Karena bagi anak-anak yang mempunyai tujuan dalam hidupnya, dia akan bisa berkembang dengan maksimal. Dan sebaliknya, bagi anak-anak yang tidak mempunyai tujuan dalam hidupnya, dia bisa terjerumus ke dalam berbagai perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Memang tidak bisa dibantah bahwa pelaksanaan pendidikan masih sering diwarnai dengan bullying, yakni adanya ancaman atau berbagai bentuk kekerasan lainnya. Namun, bagaimana bisa mengarahkan atau menyadarkan sebuah ancaman itu bisa diubah menjadi tantangan atau peluang untuk maju.

Salah satu tujuan guru BK adalah membimbing siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan menempuh pendidikan yang lebih tinggi seorang siswa tidak hanya bisa belajar ilmu yang lebih luas tapi juga menjadi anak yang mandiri sekaligus berbudi pekerti luhur. Guru BK saat ini mempunyai 3 peran : Sebagai guru di dalam kelas, teman di luar kelas, dan sahabat saat di ruang BK.

Terkait dengan bullying¸ bullying bukan hanya kejadian atau kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah saja tetapi juga di masyarakat. Ini juga terkait dengan self concept , pemahaman seseorang terhadap dirinya sendiri.  Misalnya, banyak pejabat sekarang  yang mempunyai masa kecil kurang bahagia. Ketika ia menjadi pejabat, ia ingin balas dendam dengan orang lain, yaitu korupsi atau menumpuk kekayaan tanpa peduli dengan penderitaan orang lain, dimana ia lakukan karena tak lepas dari masa lalunya yang buruk. Pengalaman masa kecil yang buruk terus membekas di dalam dirinya, dan ia merasa benar kalau meluapkan balas dendam itu kepada orang lain.  Inilah self concept yang tidak benar.

Kasus bullying sering terjadi di sekolah atau tempat kerja. Para korban bullying, bisa dideteksi dengan perubahan sikap dan perilakunya. Bisa jadi karena mendapat nilai jelek, dibentak guru, diejek teman atau bosnya, dan seterusnya. Orang tua yang terlalu mengutamakan nilai-nilai angka rapot kepada anak itu juga merupakan bullying. Orang tua sering tidak sadar telah mengusik perasaan anak ketika orang tua menuntut anak untuk selalu mendapat nilai tinggi.

Sedihnya, konsep pendidikan di Indonesia hanya menitikberatkan nilai atau angka. Pendidikan di Indonesia kurang memberi ruang kepada anak untuk secara benar menemukan self conceptnya.   Tugas pendidikan yang paling penting, baik itu pendidikan di sekolah maupun di rumah dan masyarakat adalah membangun self concept anak. Jika anak bisa membangun self concept dengan benar, maka di dalam dirinya akan tumbuh self –esteem dan self image secara benar juga.

Dengan memahami ketiga konsep self itu, anak bisa memahami dirinya sendiri dengan benar, mempunyai harga diri secara benar, dan menilai dirinya sendiri dengan benar dan proposional pula.  Jangan sampai ada anak yang bisanya hanya membanggakan orang lain, misalnya ayahku jadi ini, pamanku menjabat ini, adikku sebagai ini, temanku juara ini dan seterusnya. Anak didik harus dibangun untuk yakin bahwa saya adalah saya, bukan orang tuanya, bukan saudaranya, bukan keluarganya, bukan orang lain.

Jika seorang anak bisa membangun self conceptnya dengan benar., dia akan rendah hati, tidak sombong, pandai bergaul yang baik-baik dan dia merasa lebih bahagia menjalani hidupnya.

Kehidupan bahagia inilah yang harus menjadi target utama pendidikan, selain angka-angka di rapot.  Jadi bersama orang tua, guru BK juga bertugas membangun anak menemukan self concept yang benar. Guru BK bukanlah tong sampah, yang hanya tempat menampung hal-hal buruk. Tetapi sebaliknya, bagaimana perilaku yang kurang baik itu bisa didaur ulang, menjadi sehat sesuai dengan self concept yang benar.

GURU BK BUKANLAH TONG SAMPAH | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *