IMPLEMENTASI PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS

 

 
 

 
 

IMPLEMENTASI PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS

 
Oleh: Adityarini Kusumaningtyas (2101410001): Psikolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam berbahasa (Dardjowidjojo, 2005). Berkaitan dengan proses-proses mental tersebut, Chaer (2003: 6) mengatakan bahwa psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu. Dalam praktiknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah praktis, salah satunya pada masalah-masalah pembelajaran bahasa.
Dalam perkembangannya sampai sekarang, psikolinguistik telah banyak menghasilkan teori yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang tidak lepas dari peran psikolinguistik adalah aspek menulis. Implementasi psikolinguistik dalam pembelajaran keterampilan menulis dapat dilihat pada proses pembelajaran menulis permulaan dan pada pembelajaran keterampilan menulis lanjutan. Keterampilan menulis permulaan lebih memfokuskan keterampilan motorik anak, sebab pada masa ini anak dibelajarkan untuk dapat menuliskan huruf-huruf secara benar. Berbeda dengan keterampilan menulis permulaan, keterampilan menulis lanjutan lebih memfokuskan pada kemampuan kognitif, sebab dalam pembelajaran menulis lanjutan anak dituntut untuk menuangkan gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Dari perbedaan focus tersebut dapat dilihat adanya perubahan proses mental yang terjadi pada anak ketika belajar menulis, yaitu dengan adanya perubahan fungsi, dari upaya memahami untuk menulis menjadi menulis untuk menuangkan gagasan.
 
 
a.       Keterampilan menulis permulaan
Pada keterampilan menulis permulaan, pembelajaran menulis sangat erat kaitannya dengan pembelajaran membaca, oleh karena itu pengkajiannya pun tidak dapat dipisahkan. Sebelum mengenal tulisan, anak terlebih dulu mengenal bunyi dalam bentuk ujaran, sehingga hal pertama yang mereka alami adalah menyimak. Dalam menyimak, anak melakukan kegiatan mental, yaitu pemahaman. Sebagian besar bayi mulai memahami kata-kata pertama mereka ketika berusia sekitar 8 bulan dan jumlah kata yang dipahami perlahan-lahan bertambah hingga usia sekitar 12 bulan saat terjadi penignkatan mendadak dalam jumlah kosa kata. Antara usia 6 dan 12 bulan anak-anak menjadi lebih baik dalam mencerap perubahan-perubahan bunyi dalam bahasa asli mereka dan secara bertahap kehilangan kemampuan untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan yang tidak penting. Pemahaman bahasa juga dimulai pada waktu yang sama dengan terjadinya perubahan dari ahli bahasa universal ke pendengar bahasa ini muncul. Setelah menyimak mereka akan belajar menirukan ujaran-ujaran yang mereka dengar untuk dapat berkomunikasi. Proses yang terjadi dari anak menyimak sampai mereka dapat mencerna makna ujaran melibatkan kemampuan kognitif. Lalu ketika anak belajar berbicara, anak melibatkan kemampuan kognitif dan psikomotor, namun kemampuan psikomotor yang dilakukan anak sebatas pada pergerakan alat-alat ujar. Kegiatan produksi bahasa ini berkembang setelah pemahaman bahasa. Bayi mengekspresikan berbagai makna dengan hanya mengubah intonasi satu kata tunggal. Produksi kata meningkat secara bertahap sekitar akhir usia tahun kedua ketika terjadi ledakan kosa kata. Pada sekitar waktu yang sama, suatu perubahan kualitatif dalam penggunaan bahasa dapat dilihat ketika bayi mulai menggunakan frasa dua kata. Ucapan-ucapan dua kata atau wicara telegrafik memberikan makna komunikasi yang lebih efektif dan merupakan ciri universal perkembangan bahasa. Meski demikian anak masih harus sangat bergantung pada gesture, intonasi, dan konteks untuk menyampaikan makna. Setelah tahap wicara telegrafik dicapai, anak-anak usia dini berkembang pesat dari menghasilkan ucapan-ucapan dua kata ke penciptaan kombinasi-kombinasi tiga, empat, dan lima kata dan dengan demikian memulai transisi dari kalimat sederhana ke kalimat kompleks. Setelah anak mampu memahami dan memproduksi, barulah anak dapat belajar menulis. Pada pembelajaran menulis permulaan, ada dua proses yang harus dilakukan oleh anak, yaitu proses kognitif dan proses motorik. Proses kognitif sangat erat kaitannya dengan kemampuan membaca anak, namun karena kedua keterampilan ini memang sangat erat kaitannya maka untuk memperjelas proses pembelajaran menulis permulaan proses kognitif juga disertakan.
1)      Proses kognitif dalam pembelajaran menulis permulaan
Pembelajaran menulis dimulai setelah anak-anak dapat membaca beberapa huruf secara terpisah, yaitu dimulai dari huruf yangs paling mudah (Subana dan Sunarti, 2011). Setelah anak dapat menulis huruf secara terpisah, mereka diajari untuk merangkai huruf menjadi suku kata, lalu menjadi kata, dan selanjutnya membuat kalimat. Dalam kalimat, rangkaian huruf yang merupakan kata dengan huruf dirangkaikan menjadi kalimat.
Urutan pengenalan huruf kepada anak dari yang paling mudah ini merupakan salah satu implementasi teori psikolinguistik, yaitu teori pemerolehan bahasa yang meliputi pemerolehan fonologi dan pemerolehn sintaksis. Teori pemerolehan fonologi menyebutkan bahwa dalam pemerolehan bahasanya, anak pertama-tama akan memperoleh kemampuan fonologi, yaitu diwujudkan dalam bunyi-bunyi yang disebut cooing. Pada saat anak berusia sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi konsonan atau vokal … pada usia 6 bulan anak mulai mencampur konsonan dengan vokal sehingga membentuk apa yang dalam bahasa Inggris dinamakan babbling, yang telah diterjemahkan menjadi celotehan (Dardjowidjojo, 2005). Dalam bidang sintaksis anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata (atau bagian kata), kemudian dua kata, dan selanjutnya berkembang menjadi tiga atau lebih kata. Teori pemerolehan bahasa ini berlaku pada pemerolehan bahasa lisan, namun proses pemerolehan bahasa lisan tersebut dapat diterapkan juga pada pembelajaran keterampilan menulis permulaan.
Karena kalimat terdiri atas kata, kata terdiri atas morfem, morfem terdiri atas fonem, maka secara otomatis untuk dapat menulis kalimat, anak harus dapat menulis kata. Untuk dapat menulis kata anak harus dapat menulis fonem. Sehingga pengajaran menulis pada anak dimulai dari tingkat yang paling sederhana, yaitu fonem. Setelah anak menguasai bentuk-bentuk fonem dalam bahasa yang mereka pelajari (biasanya fonem-fonem yang diajarkan kepada anak merupakan huruf alphabet a-z), mereka diperkenalkan kepada penggabungan dua buah fonem. Setelah anak diajari menggabungkan dua buah fonem (menjadi satu suku kata), anak akan diajari menggabungkan tiap-tiap gabungan fonem itu (menggabungkan suku kata menjadi kata). Begitu selanjutnya sampai pada menulis kalimat
Dalam pembelajaran menulis permulaan cara seperti ini merupakan cara pembelajaran yang menggunakan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan harfiah, pendekatan suku kata, dan pendekatan kata. Pendekatan harfiah merupakan pendekatan menulis permulaan yang dimulai dengan mempelajari huruf-huruf. Di dalam pendekatan ini dikenal salah satu teknik yang disebut teknik bunyi. Pembelajaran yang menggunakan teknik bunyi beranggapan bahwa merangkaikan huruf b dengan i dengan dilafalkan: be-i=bi, ka-i=ki, dan seterusnya dirasakan sukar bagi anak-anak yang baru belajar membaca. Oleh karena itu, dengan memakai teknik bunyi, huruf itu diucapkan menurut bunyinya (Subana dan Surati, 2011). Pengenalan huruf kepada siswa dilakukan dengan mengeja huruf sebagaimana bunyinya, misalnya b-a=ba dilafalkan eb-a=ba. Cara lainnya adalah konsonan dilafalkan dengan diikuti letupan, misalnya b diucapkan beh, k diucapkan keh. Penggunaan teknik ini disesuaikan dengan penalaran otak anak untuk mempermudah anak menguasai kaidah menulis. Sebab dengan ejaan b menjadi be, d menjadi de, logisnya jika anak ingin menulis becak maka tulisan ‘bcak’ sudah melambangkan bunyi ‘becak’, sebab huruf b sudah mengandung fonem e. Hal ini tidak terjadi pada pengejaan huruf yang sesuai dengan namanya, misalnya eb atau beh, sebab dengan ejaan eb anak pasti akan mencari huruf e untuk melengkapi bunyi yang akan dibentuk, sehingga mereka akan menulis ‘becak’.
Pendekatan suku kata dilakukan setelah anak mampu menuliskan huruf-huruf secara benar. Teknik ini merupakan teknik kupas rangkai suku kata, yaitu teknik yang langsung menyusun kata-kata yang sudah dikupas menjadi suku kata. Untuk memperdalam penguasaan anak dalam keterampilan menulis, guru dapat melanjutkannya menggunakan metode kata. Dalam pembelajaran metode ini juga berkaitan erat dengan pembelajaran membaca. Setelah anak mampu membaca dan menulis beberapa kata, guru memberi anak kata yang sudah diurai menjadi suku kata. Kemudian suku kata itu diuraikan mejadi huruf sampai anak membaca setiap huruf yang ada di dalam kata itu. Huruf-huruf itu kemudian digabung lagi menjadi suku kata, lalu menjadi kata. Sebagai contoh:
Ini budi
I ni           bu di
I n I              b u d i
I ni       bu di
Ini budi
2)      Proses motorik dalam pembelajaran menulis permulaan
Keterampilan-keterampilan motorik halus melibatkan otot kecil yang memungkinkan fungsi-fungsi seperti menggenggam dan memanipulasi objek-objek kecil. Fungsi-fungsi seperti menulis, menggambar, dan mengenakan pakaian bergantung pada keterampilan-keterampilan motorik halus (Upton, 2012). Keterampilan-keterampilan ini melibatkan kekuatan, pengendalian motorik halus, dan kecekatan. Kemampuan bayi untuk meraih dan memanipulasi objek berkembang pesat dalam tahun pertama usianya. Meraih dan menggenggam secara sengaja biasanya berkembang pada usia tiga bulan. Sebelum ini bayi menyambar objek dalam bidang penglihatannya secara tak terkoordinasi, kerap tidak berhasil dan jarang dapat meraih objek yang dilihatnya. Munculnya tindakan meraih dan menggenggam menandai pencapaian signifikan dalam kemampuan bayi untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Pada usia empat atau lima bulan, bayi mampu memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lainnya dan reflex gengaman telapak tangan berganti dengan genggaman tulang hasta secara sengaja. Meski kaku dan mirip cengkraman, namun genggaman ini meningkatkan kemampuan untuk melakukan eksplorasi objek melalui perabaan. Secara bertahap, diperoleh keahlian yang lebih tinggi dalam memanipulasi objek sehingga pada akhir tahun pertama usianya, bayi mampu melakukan genggaman yang jauh lebih unggul yaitu genggaman menjepit. Ini merupakan perkembangan penting dalam hal kecekatan, karena genggaman jari dan ibu jari ini menjadi dasar bagi keterampilan-keterampilan manual kita yang lebih canggih seperti menulis, menggunakan gunting dan alat pemotong, membalik halaman buku, dan sebagainya. Sepanjang tahun kedua usianya, bayi menjadi semakin cekatan dan terkoordinasi. Pada usia 16 bulan bayi mampu memegang pensil dan membuat coretan-coretan dasar. Pada usia 24 bulan mereka mampu menggambar garis vertical atau horizontal sederhana. Balok-balom susun, kancing, tombol-tombol, dan objek-objek lain juga dapat dimanipulasi dengan mudah oleh balita berusia 24 bulan. Sealan dengan teori system-sistem dinamik, bayi telah memiliki kendali atas gerakan-gerakan sederhana dan secara bertahap mengorganisasikan ulang gerakan-gerakan tersebut menjadi system-sistem yang semakin kompleks (Fentress & McLeod dalam Upton, 2012).
Genggaman menjepit menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk mengambil objek-objek kecil merupakan tonggak perkembangan yang penting, menunjukkan bahwa otak bayi, otot-otot dan system syaraf menjadi sangat sinkron dan mampu melakukan koordinasi yang semakin canggih. Genggaman menjepit baru benar-benar sempurna pada akhir tahun pertama usia bayi. Setelah koordinasi jari telunjuk dan ibu jari ini bekerja, anak-anak mulai mengangkat dan meletakkan benda-benda dengan akurat, sehingga melatih kecekatan yang akan mereka butuhkan untuk menyusun teka-teki potongan gambar, menggambar, menulis, dan bahkan membalik halaman-halaman buku.
Terdapat bukti-bukti bahwa perkembangan motorik memiliki peran yang jauh lebih besar dalam perkembangan keterampilan-keterampilan kognitif. Studi-studi pada anak yang mengalami masalah belajar spesifik telah menunjukkan terjadinya masalah-masalah motorik dan bahasa secara bersamaan yang menunjukkan bahwa masalah-masalah motorik dan bahasa memiliki dasar mekanisme neurokognitif yang sama. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa secara structural serebelum berfungsi sebagai perantara bagi integrasi keberfungsian kognitif dan motorik. Serebelum bertanggung jawab untuk mengoordinasi gerakan, perencanaan, aktivitas-aktivitas motorik, belajar dan mengingat keterampilan-keterampilan fisik.
Karena keterampilan menulis permulaan juga melibatkan kemampuan psikomotor maka kemampuan motorik anak juga harus dikembangkan. Melalui proses yang sama dengan proses kognitif, kemampuan motorik pun juga dimulai dari kemampuan yang paling mudah, yaitu dengan belajar menulis huruf satu per satu. Setelah anak berhasil menulis huruf satu per satu, anak kemudian diajari menggabungkan beberapa huruf menjadi satu suku kata. Setelah itu anak diajari menggabungkan suku kata menjadi satu kata. Proses pembelajaran menulis ini juga disertai perbdaan bentuk huruf. Pertama anak diajari menulis dengan ukuran huruf yang besar, hal ini karena kemampuan motorik anak belum terlalu lues untuk dapat menulis dengan ukuran huruf yang normal. Setelah anak lancar menulis dengan huruf yang besar, perlahan-lahan anak dibimbing menulis menggunakan huruf yang lebih kecil, sampai mencapai ukuran normal. Selain perbedaan bentuk huruf, proses belajar menulis juga disertai dengan jarak penulisan huruf. Semula anak menulis dengan jarak yang longgar, kemudian secara bertahap anak diajari menulis dengan kerapatan yang wajar antarhuruf dan antarkatanya. Pembelajaran menulis permulaan ini harus dilakukan secara rutin, sebab kemampuan menulis merupakan sebuah keterampilan yang hasilnya akan semakin baik jika sering dibiasakan.
Selain metode tersebut, ada juga metode lain yang dapat menunjang dalam pembelajaran keterampilan menulis. Metode-metode ini menghasilkan strategi-strategi pembelajaran menulis. Strategi-strategi yang digunakan di dalam pembelajaran menulis hampir sama dengan strategi yang digunakan dalam pembelajaran membaca. Namun, dalam pembelajaran menulis, anak-anak juga membutuhkan keterampilan-keterampilan motorik halus, yang dapat berkembang melalui aktivitas-aktivitas bermain yang melibatkan manipulasi objek. Misalnya seperti seni dan kerajinan tangan, adonan mainan, teka-teki potong gambar, balok-balok susun, dan sebagainya.
b.      Keterampilan menulis lanjutan
Keterampilan menulis lanjutan merupakan ketrampilan menulis tingkat lanjut. Dalam hal ini pembelajaran keterampilan menulis difokuskan pada pengertian menulis sebagai kegiatan berkomunikasi berupa penyampaian pesan secara tertulis kepada pihak lain. Sebagai keterampilan berbahasa menulis merupakan kegiatan yang kompleks karena penulis dituntut untuk dapat menyusun dan mengorganisasikan isi tulisannya serta menuangkannya dalam formulasi ragam bahasa tulis dan konvensi penulisan lainnya (Suparno dan Yunus, 2008). Sama dengan keterampilan menulis permulaan, dalam pembelajaran ketrampilan menulis lanjutan keterampilan menulis juga tidak dapat dipisahkan dari keterampilan berbahasa lainnya meliputi keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca. Apa yang diperoleh melalui menyimak, membaca, dan berbicara akan memberi masukan berharga untuk kegiatan menulis.
Implementasi psikolinguistik dalam pembelajaran keterampilan menulis lanjutan dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut internal manusia dan dari sudut eksternal manusia. Dari sudut internal, implementasi psikolinguistik berkaitan dengan teori-teori menulis yang berhubungan dengan proses mental. Dari sudut eksternal, implementasi psikolinguistik berkaitan dengan modelpembelajaran kontekstual dan metode-metode pembelajaran menulis.
 
1)      Implementasi psikolinguistik ditinjau dari faktor internal manusia
Psikolinguistik meliputi proses kognitif yang bisa menghasilkan kalimat yang mempunyai arti dan benar secara tata bahasa dari perbendaharaan kata dan struktur tata bahasa, termasuk juga proses yang membuat dapat dipahaminya ungkapan, kata, tulisan, dan sebagainya (Subyantoro, 2012). Proses kognitif tersebut tidak lepas dari proses mental yang ada di dalam otak manusia. Beberapa contoh implementasi psikolinguistik dalam hal ini adalah adanya teori-teori mengenai pengembangan paragraf yang meliputi pengembangan induktif dan deduktif. kedua pengembangan paragraf tersebut dibuat untuk mempermudah orang memahami tulisan yang dibuat, sebab seperti pola pengembangan paragraf tersebut, cara berpikir manusia pun biasanya mengggunakan pola pengembangan yang sama, yaitu induktif atau deduktif.
Pengembangan paragraf secara induktif berarti pengembangan paragraf yang mengikuti pola pikir secara induktif, yaitu disamakan dengan proses berpikir otak yang menerima informasi secara acak terlebih dahulu kemudian akhirnya menggeneralisasikan pengetahuan-pengetahuan yang acak tersebut. Dalam pengembangan paragraf induktif, gagasan utama diletakkan di akhir paragraf. Kalimat-kalimat penjelas dituliskan terlebih dulu pengembangan paragraf secara deduktif berarti pengembangan paragraf yang mengikuti pola piker yang deduktif, yaitu gagasan utama berada di awal, kemudian diikuti oleh kalimat-kalimat penjelas yang dapat menjelaskan secara lebih luas isi gagasan utama.
2)      Implementasi psikolinguistik ditinjau dari faktor eksternal manusia
Beberapa teori psikolinguistik yang melibatkan proses pembelajaran di antaranya adalah teori-teori mengenai pembelajaran penemuan, belajar kolaboratif, dan belajar kooperatif. Pendekatan yang didasarkan pada prinsip Piagetian berpendapat bahwa anak-anak belajar tentang dunia sekeliling mereka melalui penjelajahan lingkungan secara aktif (Upton, 2012). Bagi anak dengan usia lebih dini, belajar melalui penemuan mencakup penjelajahan langsung dan manipulasi objek-objek, serta melakukan eksperimen-eksperimen. Seiring keterampilan kognitif berkembang, kemampuan anak juga mencakup penemuan topic-topik dan belajar berbasis masalah di mana pembelajar mengerjakan soal-soal dan kontroversi-kontroversi kehidupan nyata dan abstrak. Dalam pendekatan belajar kolaboratif, anak-anak bekerja sama untuk menggali suatu masalah, menjawab suatu pertanyaan atau menciptakan suatu proyek. Devinisi sederhananya, ini merupakan suatu kelompok belajar yang bekerja dalam satu tugas yang sama. Belajar kooperatif merupakan jenis spesifik kolaboratif. Dalam pembelajaran kooperatif, anak-anak bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dalam suatu aktivitas terstruktur. Mereka bertanggung jawab secara perorangan atas pekerjaan mereka, sedangkan pekerjaan kelompok sebagai suatu kesatuan juga dinilai.
Pembelajaran keterampilan menulis lanjutan dapat menerapkan teori-teori tersebut untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Sebagai contoh implementasi pembelajaran menulis menggunakan model pembelajaran kooperatif yang diadopsi dari teori psikolinguistik tentang pendekatan kooperatif yang juga menggunakan pendekatan kontekstual. Dalam membelajarkan anak untuk menulis suatu karangan narasi, guru dapat mencari tema yang dekat dengan kehidupan anak. Tema-tema yang dekat dengan kehidupan anak tentu berkaitan dengan pengalaman anak, sehingga guru dapat menggunakan pengalaman pribadi anak untuk dijadikan tema karangan. Selanjutnya, untuk memberi pengalaman, tentu guru perlu mengajak anak untuk melakukan pengalaman tersebut. Misalnya guru bisa mengajak anak bertamasya ke suatu tempat yang dekat dengan sekolah. anak dibiarkan bereksplorasi dengan alam. Setelah selesai, anak dipandu untuk membuat suatu pola atau kerangka karangan berdasarkan perjalanan yang telah dilakukan oleh anak, bisa menggunakan metode mind mapping. Metode mindmapping ini sebenarnya juga salah satu teori yang kemunculannya tidak lepas dari ilmu psikolinguistik. Mind mapping merupakan pemetaan pikiran, siswa diajak menuliskan pokok-pokok yang ingin diceritakan, setelah itu baru siswa diajak menentukan alurnya, pokok mana yang akan diceritakan terlebih dulu dan pokok mana yang akan diceritakan berikutnya. Setelah menentukan alur, anak diajak untuk mengembangkan karangan mereka. Setiap pokok yang ingin diceritakan dijadikan satu paragraph, sampai anak dapat membuat sebuah karangan yang lengkap berisi narasi perjalanan mereka berjalan-jalan yang telah dilakukan tadi. Setelah itu anak-anak dimasukkan ke dalam beberapa kelompok. Di dalam kelompok itu anak-anak disuruh bekerja sama mencari persamaan karangan mereka untuk merumuskan sifat-sifat dan ciri-ciri karangan naratif. Setelah itu setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka. Setelah diskusi selesai, guru memberi penguatan dan memberi konfirmasi mengenai karangan naratif.
Dalam contoh pelaksanaan pembelajaran menulis tersebut, guru menggunakan pendekatan kontekstual atau pendekatan pembelajaran penemuan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget, yaitu anak-anak bereksplorasi dan bereksperimen. Kemudian guru juga menggunakan pendekatan kooperatif, yaitu dengan mengelompokkan siswa untuk merumuskan ciri-ciri dna sifat karangan naratif. Selain itu, guru juga menggunakan metode mind mapping untuk membimbing siswa dalam menggeneralisasikan gagasan mereka.
Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa aplikasi psikolinguistik dalam pembelajaran keterampilan menulis dapat dilihat dari pembelajaran keterampilan menulis permulaan dan keterampilan menulis lanjutan. Keterampilan menulis permulaan merupakan keterampilan menulis tahap awal, yaitu ketika anak untuk kali pertama belajar menulis, sehingga focus pembelajaran adalah bagaimana supaya anak dapat menulis huruf-huruf dengan benar, dapat menggabungkannya, dan membuat kalimat-kalimat yang benar. Ketreampilan menulis lanjutan merupakan keterampilan menulis tahap lanjut, focus pembelajaran tidak lagi pada bagaimana anak harus bisa menulis huruf dengan benar tetapi bagaimana anak bisa menuangkan ide atau gagasannya secara baik ke dalam tulisan. Aplikasi psikolinguistik dalam pembelajaran keterampilan menulis permulaan dapat dilihat dasri dua proses, yaitu proses kognitif dan proses motorik. Proses kognitif yaitu proses yang terjadi ketika anak belajar menghafal bentuk-bentuk tulisan dan memahami hubungan jika huruf-huruf itu digabungkan, proses motorik terjadi ketika anak belajar menggunakan tangan mereka untuk mebuat tulisan dengan benar. Aplikasi psikolinguistik dalam pembelajaran menulis tingkat lanjut dapat dilihat dari dua sudut, yaitu dari sudut internal manusia yang melibatkan proses mental manusia dan sudut eksternal yang melibatkan hal-hal dari luar diri manusia. Ditinjau dari sudut eksternal, aplikasi psikolinguistik menghasilkan beberapa metode atau teknik dalam pembelajaran menulis.


Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Subana dan Sunarti. 2011. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia: Berbagai Pendekatan, Metode, Teknik, dan Media Pengajaran. Bandung: Pustaka Setia.
Subyantoro. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik dan Implementasinya. Semarang: Rumah Indonesia.
Suparno dan Muhammad Yunus. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.
Upton, Penney. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
 
 
 

 

 

 

 

3 komentar:

  1.  

    artikelnya lengkap banget yah… salam kenal. tambahkan saya kembali di google + ya.. 🙂

    Balas

    Balasan

     
     

  2.  

    Salam kenal Nove, nanti saya coba, saya masih belum begitu paham dengan google + 🙂

     
     
  3.  
    Balas
     

     
  4.  

    gabisa di copast 🙁

    Balas

     
     
Tambahkan komentar
 
 

 

 

 
 

 

 

 

 
IMPLEMENTASI PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *