INDAHNYA BAHASA AL QURAN

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Dalam al Quran surat al Maidah ayat 3, ada dua kata yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama dalam bahasa Indonesia, yaitu akmaltu (أكْمَلْتُ) dan atmamtu (أتْمَمْتُ). Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku bagimu…”. Agar terlihat berbeda makna, biasanya dalam terjemahan Indonesia untuk yang kedua diganti menjadi “… Aku cukupkan nikmat-Ku..”, namun terasa masih belum bisa mewakili kata atmamtu.

Dalam bahasa Arab, dua kata tersebut meskipun sekilas memiliki makna yang sama, namun sesungguhnya maknanya berbeda. Perbedaan itu dapat kita lihat dari segi penggunaannya dalam kalimat. Apabila kita lihat dalam kamus, kata akmala biasa dipakai dalam konteks seperti -أكمل الموظف عمله, pegawai menyempurnakan pekerjaannya-, – أكمل نصف دينه, ia telah menyempurnakan separuh dari agamanya-. Dalam al al Quran, selain ayat di atas, ada juga penggunaan pada ayat yang terkait dengan puasa, yaitu : -ولتكملوا العدة, dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan itu-.

Sementara apabila kita perhatikan penggunaan kata atamma, dalam kamus biasanya digunakan dalam konteks seperti -أتم الله النعمة على الناس, Allah menyempurnakan nikmat untuk manusia-. Dalam al Quran, selain ayat di atas Allah juga menggunakan dalam ayat-ayat yang lain seperti: -تم أتموا الصيام إلى الليل, kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam-. Tentang masalah haji, Allah berfirman: -وأتموا الحج والعمرة لله, dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah-.

Apabila kita perhatikan penggunaan dua kata tersebut, baik dalam kamus maupun dalam al Quran, dapat kita simpulkan bahwa kata akmala berarti menyempurnakan sesuatu secara bertahap, ada jeda waktu antara satu tahap menuju tahap yang lain. Sementara kata atamma berarti menyempurnakan sesuatu dengan cara terus menerus, tidak ada jeda mulai dari awal hingga akhir pelaksanaan suatu pekerjaan.

Dalam kasus penyempurnaan agama atau ayat-ayat al Quran yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad saw, kita sama-sama mengetahui bahwa al Quran diturunkan oleh Allah secara berangsur-angsur atau bertahap, ada jeda waktu antara turunnya suatu ayat dengan ayar berikutnya, bahkan kadang-kadang jeda itu cukup panjang, hingga keseluruhannya membutuhkan waktu sekitar 23 tahun lamanya. Sementara nikmat Allah yang disempurnakan untuk manusia tentunya berjalan terus menerus dan tidak pernah terputus sama sekali, karena memang manusia selalu membutuhkan nikmat itu secara terus menerus. Nikmat Allah itu tidak pernah putus selamanya, meski hanya satu detik sekalipun.

Dalam kasus menyempurnakan hitungan hari puasa juga demikian, redaksi ayat menggunakan pilihan kata akmala, berarti dalam pelaksanaan puasa itu ada jedanya, tidak boleh puasa dilakukan berkelanjutan mulai dari siang hingga malam, puasa hanya dilakukan pada siang hari dan ada jeda pada malam harinya untuk berbuka. Sementara kasus pelaksanaan puasa di siang hari harus dilakukan terus-menerus selama sehari penuh, tidak boleh ada jeda walau sebentar saja, karena itu redaksi al Quran menggunakan pilihan kata atamma dalam firmannya – kemudian sempurnkanlah puasa hingga malam-.

Kawan…
Begitulah ketika kita mentadabburi ayat-ayat al Quran, kita akan dapatkan maknanya yang sangat dalam dan indah, semakin dalam kita mentadabburinya, semakin banyak keindahan yang kita dapatkan. Bukan hanya itu, pilihan kata-kata dalam al Quran juga dilakukan dengan sangat tepat. Dari situlah kita dapat memahami bahwa petunjuk yang dibawa oleh al Quran itu dapat muncul dari berbagai sisi. Petunjuk al Quran itu bisa muncul dari ketepatan pilihan kata yang biasa disebut dengan i’jaz lughawi atau kemu’jizatan bahasa.

Dan sesungguhnya tidak berlebihan jika kita katakana bahwa i’jaz lughawi al Quran itu hanya bisa diungkapkan dengan menggunakan bahsa Arab. Karena itu, tepat sekali ketika Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci al Quran. Selamat mentadabburi al Quran, betapa indahnya bahasa itu!. Wallahu a’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

INDAHNYA BAHASA AL QURAN | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *