Islam Dan Kedua Orangtua

Islam Dan Kedua Orangtua

Oleh: Ust. Nabiel Fuad AlMusawa

“RIDHA RABB ADA PADA RIDHA KEDUA ORANGTUA
DAN KEMURKAAN RABB ADA PADA KEMURKAAN ORANGTUA”

Takhrij Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh:
Al-Bukhari, dalam kitab Adabul Mufrad, dishahihkan oleh Albani dalam Ash-Shahihah hadits no. 515, dia (Albani) berkata hasan-mauquf dan shahih-marfu’.

KANDUNGAN HADITS

Islam memberikan sebuah penghormatan dan kemuliaan yang sangat tinggi kepada kedudukan kedua orangtua yang tidak dimiliki oleh sistem pemikiran manusia lain dalam dunia modern saat ini.

Kedudukan orangtua/parents dalam pemikiran masyarakat barat misalnya, adalah sebagai pengarah prilaku ketika anak masih kecil, dan sebagai teman ketika anak telah dewasa dan akan hilang nilainya jika ia telah tua dan jompo, sehingga banyak yang kemudian menghuni panti-panti jompo.

Didalam Islam, orangtua memiliki posisi yang sangat mulia baik ketika anak masih kecil maupun ketika ia sudah dewasa. Peran kedua orangtua saat anak masih kecil adalah mengarahkan dan mendidik. Dan ketika anak telah dewasa maka kewajiban anak kepada kedua orangtua untuk tetap memuliakan dan membalas kebaikan mereka.

Bahkan ketika keduanya telah tua renta dan jompo, maka semakin tinggilah kewajiban seorang anak kepada mereka, sebagaimana dalam Al-Qur’an: “… dan jika kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan pada mereka: AH! dan jangan kamu membentak mereka dan ucapkan pada mereka perkataan mulia. Serta rendahkan dirimu pada mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai RABB kami, kasihanilah mereka, sebagaimana mereka telah mendidik saya ketika saya kecil.” [QS Al-Isra: 23-24]

Demikian tinggi perhatian Islam pada orangtua sehingga ketika akan berjihad yang bersifat offensive (dan bukan defensive) maka haruslah meminta izin pada keduanya. Sebagaimana dalam hadits Nabi SAW:
“Seseorang datang kepada Nabi SAW yang berbai’at untuk berhijrah dengan meninggalkan kedua orangtuanya yang menangisi kepergiannya, maka kata Nabi SAW: Pulanglah kepada keduanya dan buatlah mereka tersenyum sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.” [Abu Daud, Kitabul jihad bab Fi Rajulin Yaghzu wa Abawahu Karihani; An Nasa’i, kitabul Bai’ah ‘alal Jihad, bab Al-Bai’ah ‘alal Hijrah; Ibnu Majah kitab al-Jihad, bab ar-Rajulu Yaghzu wa lahu Abawani.]

Hal yang sama juga berlaku bahkan ketika sang ORANGTUA adalah BUKAN MUSLIM, maka tetap ada kewajiban sang anak untuk menghormati kedua orangtuanya dan memberikan kasih sayang kepada mereka sebagaimana hadits nabi SAW:
“Asma binti Abubakar berkata: Dimasa Nabi SAW pernah ibuku mengunjungiku karena kangen. Lalu aku bertanya kepada Nabi SAW: apakah aku boleh menjalin silatulrahmi dengannya? Jawab Nabi SAW: tentu saja! lalu turun firman Allah SWT: ALLAH SWT TIDAK MELARANG KALIAN DARI ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMERANGI KALIAN KARENA AGAMA [QS Al-Mumtahanah: 8]

Yang dilarang Allah SWT hanyalah mengikuti perintah mereka jika perintah itu merupakan maksiat kepada Allah SWT, sebagaimana dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash ra sebagai berikut:
“Turun 4 ayat kepadaku, pertama, Ibuku telah bersumpah untuk tidak makan dan minum sampai aku meninggalkan agama Muhammad SAW, lalu ALLAH SWT menurunkan ayat: DAN SEKIRANYA MEREKA BERDUA MEMAKSA KAMU AGAR MENYEKUTUKAN-KU DENGAN SESUATU YANG KAMU TIDAK MEMILIKI PENGETAHUAN TENTANGNYA, MAKA JANGANLAH KAMU TAATI MEREKA BERDUA DAN PERGAULILAH MEREKA BERDUA DIDUNIA DENGAN BAIK [QS Luqman: 15]..”

Dan perbuatan baik kepada orangtua ini dalam Islam tidak hanya berhenti pada kehidupan di dunia saja, melainkan terus berlanjut hingga kelak dalam kehidupan yang kedua nanti di akhirat. OLEH KARENANYA BAGI MEREKA YANG MERASA BELUM CUKUP MEMBALAS KEBAIKAN ORANGTUANYA. ISLAM MEMBERIKAN KESEMPATAN YAITU MENJADI ORANG YANG BAIK LALU TERUS MENDOAKAN KEDUANYA, sebagaimana dalam hadits:
“Diangkat derajat mayat seseorang setelah wafatnya, lalu ia berkata: Wahai Rabbi, apa yang terjadi padaku ini? Lalu dikatakan: ANAKMU TELAH MEMOHON AMPUNAN UNTUKMU.” [Bukhari, dalam Adabul Mufrad dihasankan oleh Albani]

Lebih dari itu Islam yang sangat memperhatikan seluruh manusia dan menghargainya, juga telah memperluas cara berbuat baik pada orangtua kita itu, yaitu dengan berbuat baik kepada teman-teman karib kedua orangtua kita, sebagaimana dalam hadits:
“Sesungguhnya SILLATURRAHIM yang paling terpuji adalah MENJALIN SILLATURRAHIM DENGAN TEMAN KARIB AYAHNYA.” [Muslim, kitab al-Birru wash-Shilatul wal Adab, hadits no. 11-13]

Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Haris Satriawan
Selasa, 1 Maret 2005

Islam Dan Kedua Orangtua | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *