ISLAM, NASIONALISME, DAN BELA NEGARA

Oleh: Dr. Yusuf Hanafi, M.Fil.I

(Dosen PAI Universitas Negeri Malang)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الإِيمَانِ، وَزَيَّنَ فِي قُلُوبِنَا حُبَّ الأَوْطَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى مَا أَكْرَمَنَا بِهِ مِنْ سَعَةِ الْعَيْشِ وَالاِطْمِئْنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, الرَّحِيمُ الرَّحْمَنُ، الْمَلِكُ الدَّيَّانُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ وَخَلِيلُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أما بعد: فيآ أيها الحاضرون الكرام اتقوا اللهَ ما استطعتم بفعلِ المأموراتِ واجتنابِ المنهياتِ إن الله لا يُخْلِفُ الميعاد. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاْ}.

Ma’asyiral hadirin…

Beberapa hari lalu, Pemerintah Republik Indonesia memutuskan mengambil langkah untuk membubarkan dan melarang kegiatan yang dilakukan sebuah organisasi kemasyarakatan di Tanah Air. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) RI mengatakan, kegiatan ormas tersebut terindikasi kuat bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang dasar (UUD) 1945, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Ormas.

Dalam keputusan tersebut, Pemerintah memaparkan tiga alasan pembubaran ormas tersebut. Pertama, sebagai ormas berbadan hukum, ormas tersebut tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional. Kedua, kegiatan yang dilakukannya terindikasi kuat bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan UUD Republik Indonesia tahun 1945. Ketiga, aktivitas yang dilakukan ormas tersebut dinilai telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI.

Ma’asyiral hadirin…

Ideologi ormas tersebut, yang menjadi pertimbangan utama Pemerintah untuk membubarkannya, adalah keinginannya untuk mendirikan Khilafah Islamiyah, yang tentunya akan menafikan bangunan kenegaraan dan kebangsaan yang selama ini telah dibangun. Ideologi transnasional yang mengusung paham anti kebangsaan (anti nation state) tersebut secara sistematis dan terstruktur mengikis rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah air berbagai elemen bangsa, khususnya generasi muda. Akibatnya, belakangan kian marak kampanye anti Pancasila dan anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lewat propaganda “negara Islam”, kampanye “negara khilafah”, dan sejenisnya.

Ma’asyiral hadirin…

Berbicara tentang nasionalisme dan cinta tanah air, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan manusia dengan fitrah cinta kepada bumi tempat kelahirannya: tempat ia dibesarkan, dimana ia makan dari kebaikannya, bernaung di bawah langitnya, dan dibesarkan dalam adat istiadat masyarakatnya. Sehingga, nafasnya tidak dapat dilepaskan dari tumpah darahnya, dan ia tidak kuasa untuk berpisah jauh darinya. Kalaupun ia terpaksa meninggalkannya, maka di perantauan ia akan senantiasa merindukan tanah airnya. Ini merupakan sunnatullah yang tidak dapat ditentang.

Dalam bahasa Arab, tanah air seringkali dipadankan dengan kata dâr (yang biasa diartikan rumah/tempat tinggal), serta wathan (yang berarti tanah air/tanah kelahiran).

Al-Jurjani dalam bukunya at-Ta’rifat pernah menyebut tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya dengan istilah al-wathan al-ashli.

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ

 “Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.”

Ma’asyiral hadirin…

Tempat tinggal merupakan keperluan alamiah (thabi’i). Seluruh manusia, bahkan juga binatang, meniscayakan kebutuhan yang satu ini. Karenanya, mencintainya adalah bagian dari mencintai kebutuhan primer manusia yang memang sangat dijunjung tinggi oleh syariat. Tidak salah, bila para ulama mengatakan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman (hubbul wathan minal iman).

Hal ini pulalah yang dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW—sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam hadis berikut ini:

وَكَانَ النَّبِيُّ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ

أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

“Nabi Muhammad SAW bila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi Kota Madinah, beliau mempercepat jalan untanya. Bila menunggang hewan lain,beliau memacunyalebih kencang, karena kecintaan dan kerinduannya kepada Kota Madinah”.

Ma’asyiral hadirin…

Para ulama berpendapat, apa yang dirasakan Nabi di atas merupakan ekspresi cinta negara, merindukan sekaligus membelanya saat terancam. Memang, cinta tanah air itu selalu mengalir dalam darah, perasaan, dan pikiran. Keunggulan tanah air akan terus hidup di dalam hati, karena kita menghirup udaranya, meminum airnya, dan berjalan di atas hamparan tanahnya. Tanah dari tempat kelahiran itu bagaikan obat, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis:

بِاسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

“Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga penyakit kami tersembuhkan atasseizin Tuhan kami”.

Ma’asyiral hadirin…

Berpijak atas paparan normatif di atas, sungguh beruntung orang yang mencintai negaranya, bekerja dan berkarya untuknya, berjuang untuk menjunjung tinggi citra dan martabatnya, serta berdoa dengan hati dan ucapan untuk kebaikan tanah airnya, seperti doa Nabi Ibrahim AS dalam Q.S. Ibrahim: 35:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Makkah ini negeri yang aman”.

Ma’asyiral hadirin…

Untuk menguatkan keabsahan cinta tanah air dan bela negara, khatib ingin tambahkan di sini: meski Nabi Muhammad SAW dalam perantauannya ke Madinah telah memiliki kehidupan yang sangat baik dan menyenangkan, namun cinta beliau kepada negeri asalnya, Makkah, tidak pernah luntur. Hal itu tercermin dalam pernyataan beliau dalam hadis riwayat at-Turmudzi berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لمكة :” ما أطيبكِ من بلد ، أُحِبُّكِ إليَّ، ولولا أنّ قومي أخرجوني منكِ ما سكنْتُ غيرَكِ “

Rasulullah SAW berujar kepada negeri Makkah: “Sungguh engkau adalah bumi Allah yang paling baik. Alangkah besarnya cintaku padamu! Kalaulah bukan karena penduduknya mengusirku, maka pasti aku tidak akan pernah meninggalkanmu”.

Bahkan di awal kedatangannya di Madinah, Rasulullah SAW berdoa:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, cintakanlah Kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau membuat kami jatuh cinta kepadaKota Makkah, bahkan buatlah kami lebih mencintainya! (HR. Bukhari, Malik dan Ahmad).

Ma’asyiral hadirin…

Belajar dari kecintaan Rasulullah SAW kepada tanah airnya di atas, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sepatutnya kita semua juga bangga kepada negeri ini. Kita beruntung memiliki negara yang utuh dan damai, gemah ripah loh jinawi, yang mampu membingkai kebhinekaan dan kemajemukan masyarakatnya.

Ironisnya, di tataran global, kini banyak negara yang justru sedang gelisah, galau, dan resah. Toleransi mereka terkoyak, solidaritas mereka terbelah, ketertiban sosial mereka terganggu, seperti yang kita saksikan di Timur Tengah, Afrika Utara, dan belahan dunia lainnya. Indonesia tidak butuh referensi baru dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Justru Indonesia dapat menjadi referensi bagi negara-negara lain.

Ma’asyiral hadirin…

Kita semua, khususnya generasi muda, harus mewaspadai ideologi-ideologi transnasional radikal yang mewabah belakangan ini—yang justru mengajak untuk menafikan bangunan kebangsaan yang telah dirajut dan diwariskan oleh para ulama leluhur kita. Kampanye dan propaganda yang tidak bertanggung jawab seperti ini jelas tidak dapat dibiarkan, karena berpotensi menjadikan bangsa Indonesia sebagai “kelinci percobaan” bagi eksperimentasi politik yang belum tentu mampu menjamin kemaslahatan bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Ringkasnya, eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai sebuah bangsa terlalu mahal untuk dipertaruhkan demi eksperimentasi-eksperimentasi politik baru.

Pada titik ini, kegiatan bela negara sangat terasa urgensinya. Melalui kegiatan bela negara, jiwa nasionalisme dan patriotisme warga negara dipupuk, dan pada gilirannya mereka dapat memproteksi dirinya secara mandiri dari godaan ideologi-ideologi transnasional radikal.

Ma’asyiral hadirin…

Di akhir khutbah Jum’at ini, khatib ingin menegaskan bahwa Allah telah mengaruniakan kepada kita kehidupan yang baik di negara tercinta Indonesia ini. Buminya lapang dan hijau; langitnya biru bagaikan selimut; udaranya segar; kebudayaannya membanggakan, dan rakyatnya hidup rukun dan toleran. Kesemuanya ini mengingatkan kita pada sabda Nabi Muhammad SAW:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ, فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian memasuki waktu pagi: dirinyamerasa aman,jasmaninya sehat, dan ia memiliki makanan yang cukupuntuk hari itu, maka seolah-olah ia diberi karunia dunia dengan berbagai kenikmatannya” (HR. At-Tirmidzi).

Ma’asyiral hadirin…

Sebagai penutup, marilah kita berdoa memohon kebaikan dan keberkahan untuk tanah air tercinta ini, sebagaimana Rasulullah SAW berdoa untuk negerinya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا

“Ya Allah berkahilah buah-buahan kami, berkahilah kota kami, berkahilah makanan kami, dan berkahilah kota-kota kami” (HR. Muslim)

بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم, ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم, وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم. أقول قولى هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين, فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

* * *

الحمد لله الذى خَلَقَ الإنسانَ فى أحسن تقويم, وأمَرَهم بالإعتصام بالدين القويم, دينِ الإسلام وصراطِهم المستقيم. أشهد أن لآ إلهَ إلا اللهُ المَلِكُ الدائِمُ, وأشهد أنّ محمدا رسولُ الله الداعى الى سبيل السلامة من العذاب الجحيم, اللهمّ فَصَلِّ وسلَّمْ على سيدِنا محمّدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد: فيآ أيها الناسُ اتّقوا اللهَ حقَّ تُقاتِه لتكونوا مِن زُمرةِ الفائزين, ولا تتّبِعوا خطواتِ الشيطانِ الرجيمِ اللّعين. اللهمّ صَلِّ وسلِّمْ على هذا النبيّ الكريم محمّدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين, آمين يا رب العالمين.

اللهم أعز الإسلام والمسلمين, وأهلك الكفرة والمبتدعة والمشركين, ودمر أعداء الدين. اللهم آمنا فى ديارنا وأصلح ولاة أمورنا. واجعل اللهم ولايتنا فيمن خافك واتقاك. اللهم ادفع عنا الغلاء والوباء, والربا والزنا, والزلازل والمحن وسوء الفتن, ماظهر منها وما بطن, عن بلدنا هذا خاصة وعن سائر بلدان المسلمين عامة  يارب العالمبن. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات, ربنا إنك مجيب الدعوات, يا قاضى الحاجات, ويا كافى المهمات برحمتك يآ أرحم الراحمين. ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

عباد الله, إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتآئ ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغى, يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم, واشكروه على نِعَمِه يزدكم, ولَذِكْرُ الله أعز وأجل وأكبر.

Kutbah Jumat

ISLAM, NASIONALISME, DAN BELA NEGARA | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *