Karakteristik Pondok Pesantren

  1. 1.      Karakteristik Pondok Pesantren

Ada beberapa aspek yang merupakan elemen dasari dari pesantren yang perlu dikaji lebih mendalam mengingat pesantren merupakan sub kultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa. Walaupun pesantren dikatakan sebgai sub kultur, sebenarnya belum merata dimiliki oleh kalangan pesantren sendiri karena tidak semua aspek di pesantren berwatak sub kulturil. Bahkan aspek-aspek utamanya pun ada yang bertentangan dengan adanya batasan-batasnya biasaya diberikan kepada sebuah sub kultur.

Namun di lain pihak beberapa aspek utama dari kehidupan pesantren yang dianggap mempunyai watak sub kulturil ternyata hanya tinggal terdapat dalam rangka idealnya saja dan tidak didapati pada kenyataan, karena itu hanya kriteria paling minim yang dapat dikenakan pada kehidupan pesantren untuk dapat menganggapnya sebagai sebuah sub kultur. Kriteria itu diungkapkan oleh Abdurrahman Wachid sebagai berikut:

  1. Eksistensi pesantren sebagai sebuah lembaga kehiduapn yang menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini.
  2. Terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang kehiduapn pesantren.
  3. Berlangsungnya proses pembentukan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya.
  4. Adanya daya tarik keluar, sehingga memungkinkan masyarakat sekitar menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri.
  5. Berkembangnya suatu proses pengaruh mempengaruhi dengan masyarakat di luarnya, yang akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara universal diterima oleh kedua belah pihak.[1]

 

Pesantren sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai elemen dasar yang membedakan dengan lembaga pendidikan lain. Ketahanannya membuat pesantren tidak mudah menerima suatu perubahan yang datang dari luar karena memiliki suatu benteng tradisi tersendiri.

Elemen-elemen dasar tersebut antara lain:

  1. Pondok / asrama santri

Sebuah pesantren pada dasarnya merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional, dimana para santrinya tinggal bersama dan belajar dibawah pimpinan dan bimbingan seorang kyai. Asrama tersebut berada dalam lingkungan kompleks pesantren dimana kyai menetap. Pada pesantren terdahulu pada umumnya seluruh komplek adalah milik kyai, tetapi dewasa ini kebanyakan pesantren tidak semata-mata dianggap milik kyai saha, melainkan milik masyarakat. Ini disebabkan karena kyai sekarang memperoleh sumber-sumber untuk mengongkosi pembiayaan dan perkembangan pesantren dari masyarakat. Walaupun demikian kyai tetap mempunyai kekuasaan mutlak atas dasar pengurusan kompleks pesantren tersebut.

Pondok bagi para santri merupakan ciri khas yang khusus dari tradisi pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional di masjid-masjid yang berkembang di kebanyakan wilayah Islam di negara-negara lain. Pondok sebagai tempat latihan bagi para santri agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat.

  1. Masjid

Masjid berasal dari bahasa Arab “sajada-yasjudu-sujuuan” dari kata dasaritu kemudian dimasdarkan menjadi “masjidan” yang berarti tempat sujud atau setiap ruangan yang digunakan untuk beribadah.[2]

Masjid juga bisa berarti tempat shalat berjamaah. Fungsi masjid dalam pesantren bukan hanya sebagai tempat untuk shalat saja, melainkan sebagai pusat pemikiran segala kepentingan santri termasuk pendidikan dan pengajaran.

Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri terutama dalam praktek shalat, khutbah dan pengajaran kitab-kitab klasik (kuning). Pada sebagain pesantren masjid juga berfungsi sebagai tempat i’tikaf, melaksanakan latihan-latihan (riyadhah) atau suluh dan dzikir maupun amalan-amalan lainnya dalam kehidupan thariqat dan sufi.

  1. Santri

Adanya santri merupakan unsur penting, sebab tidak mungkin dapat berlangsung kehidupan pesantren tanpa adanya santri. Seorang alin tidak dapt disebut dengan kyai jika tidak memiliki santri. Biasanya terdapat dua jenis santri, yaitu:

1)      Santri mukim, yaitu santri yang datang dari jauh dan menetap di lingkungan pesantren. Santri mukim yang paling lama biasanya diberi tanggung jawab untuk mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari dan membantu kyai untuk mengajar santri-santri muda tentang kitab-kitab dasar dan menengah.

2)      Santri Kalong, yaitu santri-santri berasal dari desa sekitar pesantren dan tidak menetap di pesantren, mereka mengikuti pelajaran dengan berangkat dari rumahnya dan pulang ke rumahnya masing-masing sesuai pelajaran yang diberikan.

  1. Kyai

Kyai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Biasanya kyai itulah sebagai pendiri pesantren sehingga pertumbuhan pesantren tergantung pada kemampuan kyai sendiri. Dalam bahasa Jawa kata kyai dapat dipakai untuk tiga macam jenis pengertian yang berbeda sebagaimana dinyatakan oleh Hasyim Munif, yaitu:

1)        Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang tertentu yang dianggap keramat. Umpanya “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton Yogyakarta.

2)        Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.

3)        Gelar yang diberikan masyarakat kepada orang ahli ilmu.

Menurut Manfred Ziemek bahwa kyai merupakan gelar oleh seorang tokoh ahli agama, pimpinan pondok pesantren, guru dalam rangka ceramah, pemberi pengajian dan penafsir tentang peristiwa-peristiwa penting di dalam masyarakat sekitar.[3]

Lebih lanjut Prof. DR. Imam Suprayoga membagi tipologi seorang kyai dalam keterlibatannya di dunia politik pedesaan sebagai berikut:

  1. Kyai Spiritual

Dalam kegiatan politik maupun rekrutmen elit mengambil sikap berbentuk partisipasi pasif normatif, artinya ia ikut berpartisipasi sekalipun bersifat pasif, akan tetapi jika terjadi penyimpangan  terhadap norma politik, ia akan bersikap kritis.

  1. Kyai Advokatif

Dalam afiliasi plitik bersifat netral (tidak menyatakan keberpihakannya kepada salah satu organisasi politik), sedangkan dalam rekrutmen elit, keterlibatannya sama dengan kyai adaptif yaitu berbentuk partisispasi spekulatif, artinya mereka mau memantu kandidat Kepala Desa yang bersangkutan dengan catatan mereka memberi imbalan material yang diperlukan untuk kepeningan dakwah.

  1. Kyai Mitra Kritis

Keterlibatannya dalam dunia politik maupun rekrutmen elti mengambil bentuk partisipasi aktif kritis,artinya ia secara nyata terlibat politik berupa ikut ambil bagian dan menjadi penggerak kegiatan politik, dan tidak selalu seirama dengan kemauan pemerintah.[4]

Khusus dalam penyelenggaraan pendidikan keterlibatan kyai adalah sama, mereka menganggap bentuk lembaga pendidikan yang paling ideaal adalah pesantren, dengan menggabungkan sistem klasikal dan sistem sekolah umum dan disisi lain tetap memelihara dan mengembangkan sistem tradisionalnya yaitu sistem pondok pesantren.

Sedang dalam pengembangan ekonomi masyarakat, hanya kyai advokatif yang telah melakukan peran proaktifnya kreatifnya, ini disebabkan kyai ini mampu melaksanakan artikulsi ajaran agama dalam pembelajaraan ekonomiuat ssecara konkrit dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakatnya.[5]

 

  1. Pengajaran Kitab Islam Klasik

Elemen lain yang sudah menjadi tradisi di pesantren adalah adanya pengajaran kitab-kitab Islam klasik yang dikarang oleh ulama-ulama besar terdahulu tentang berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab. Kitab klasik yang diajarkan di pesantren terutama bermadzab Syafi’iyah.

Pengajaran kitab kuno ini bukan hanya sekedar mengikuti tradisi pesantren pada umumnya tetapi mempunyai tujuan tertentu untuk mendidik calon ulama’ yang mempunyai pemahaman komprehensip terhadap ajaran agama Islam.

Menurut keyakinan yang berkembang di pesantren dipelajari kitab-kitab kuning yang merupakan jalan untuk memahami keseluruh ilmu agama Islam. Dalam pesantren masih terhadap keyakinan yang kokoh bahwa ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab kuning tetap merupakan pedoman dan kehidupan yang sah dan relevan. Sah artinya bahwa ajaran itu bersumber pada kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul (Hadits). Relevan artinya bahwa ajaran itu masih tetap mempunyai kesesuaian dan berguna untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Keseluruhan kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan menjadi 8 kelompok sebagaimana M. Hasyim Munif mengemukakan:

  1. Nahwu (syntax) dan Shorof (morfologi), misalnya kitab Jurumiyah, Imrithy, Alfiyah dan Ibu Aqil.
  2. Figh (tentang hukum-hukum agama/syari’ah), misalnya kitab Fathul Qorib, Sulam Taufiq, AL Ummu dan Bidayatul Mujtahid.
  3. Usul Figh (tentang pertimbagnan penetapan hukum Islam/ syari’at), misalnya Mabadi’ul Awaliyah.
  4. Hadits, misalnya Bulughul Maram, Shahih Bukhori, Shahih Muslim dan sebagainya.
  5. Aqidah/tauhid/ushuludin (tentang pokok-pokok keimanan), misalnya Aqidathul Awam, Ba’dul Amal.
  6. Tafsir pengetahuan tentang makna dan kandungan Al-qur’an, misalnya Tafsir Jalalain, Tafsir Almarahi.
  7. Tasawuf dan etika (tentang sufi/filsafat Islam), misalnya kitab Ikhya’ Ulumuddin.
  8. Tarikh, misalnya kitab Khulashatun Nurul Yaqin. [6]

 



[1] M. Dawan Rahardjo, et, al, Ibid, hal. 40

[2] Al Munjid fi al lughah wal adab wal ulum, Beirut, cet. XVIII, 1958, hal. 321

[3] Zamakhsyari Dhofier, Op. Cit, hal. 55

[4] Zamakhsyari Dhofier, Op. Cit, hal . 55

[5] Ibid,hal.154

[6] Departemen Agama, Op. Cit, hal. 33-35

Karakteristik Pondok Pesantren | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *