KH ABDULLAH FAQIH AL-HAFIDZ : Ketika Jenazah Mengiringi Ambulan

Oleh : Abdul Adzim M.Pd

KH Abudllah Faqih Al-Hafidz

KH Abudllah Faqih Al-Hafidz

KH Abdullah Fakih Al-Hafidz Malang, beliau salah satu santri dari Mbah Arwani yang terkenal dengan Suhu Al-Quran (gubes Al-Quran). Beliau sangat dekat sekali dengan Mbah Arwani. Ketika Mbah Arwani ke Malang, KH Abdullah sering mendampinginya, dan Mbah Arwani juga begitu perhatian terhadap santri-santrinya. Ustadz Abdullah Faqih adalah di antara santri kesayanganya. Bahkan, Habib Lutfie asal Pekolangan juga sering mendatanginya. Itu semua tidak lepas dari ke-ihlasan dan kebersihan hati KH Abdullah Faqih di dalam menjaga dan menebarkan Al-Quran.

KH Abdullah Fakih Al-Hafidz pernah mengatakan bahwa di kota Malang banyak kekasih Allah SWT. Setelah saya tanya, siapa saja? Beliau menjawab:”menurut Habib Lutfie Pekalongan, di antara kekasih Allah SWT yang ada di Malang adalah Habib Abdul Qodir Bilfaqih, KH Badrussalam, KH Tohir Bungkuk, KH Muhammad Said Ketapang, KH Muhmmad Jalalain, KH Nawawi dan KH Nahrowi.” Begitulah jawaban beliau ketika menirukan penjelasan Habib Lutfie Pekalongan.

Kota Malang bisa dikatakan kota santri penghafal Al-Quran. Demam membaca dan menghafal Al-Quran tidak hanya di pesantren tahfidzul Al-Quran. Musholla, masjid, setiap saat dan waktu selalu mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Bahkan UIN Maliki secara khusus memiliki program khusus penghafal Al-Quran, begitu juga dengan UNISMA. Tidak ketinggalan, UM (Universitas Negeri Malang), juga memiliki program tahfidzul Quran yang dikemas dengan istilah “Study Club Al-Quran”.

KH Abdullah Faqih Al-Hafid salah satu ulama Al-Quran senior di kota Malang, hampir setiap hari beliau memiliki jadwal keliling menghafal Al-Quran. Beliau memili jasa begitu besar di dalam membumikan Al-Quran di kota Malang, khususnya ketika beliau masih aktif menjadi pengajar dan pengurus Masjid Jamik Agung Kota Malang. Untuk itulah KH Baidhowi Muslich, ketua MUI dan sekaligus takmir Masjid Jamik mengatakan, ”jasa KH Abdullah Faqih Al-Hafid begitu besar terhadap umat Islam kota Malang”.  Drs. Sutiaji selaku wakil kota Malang, sekaligus santri mengatakan: ”KH Abdullah Faqih salah satu ulama yang sangat ikhlas, beliau selalu mendoakan saya agar selalu amanah”. Ketika memberikan sambutan, Sutiaji sesenggukan menangis, karena begitu terharunya terhadap keikhlasan KH Abdullah Faqih Al-Hafid Malang.

Sebagi penghafal Al-Quran senior Ustadz H. Abdullah Faqih dari Malang selalu hadir, dan rajin membimbing para murid-murid yang sedang menghafal Al-Quran. Beliau pernah berpesan kepadaku:” Ustadz, tolong dijaga putranya dengan baik, agar kelak bisa menghafal Al-Quran”. Begitulah pesan beliau ketika masih sehat kepada saya.

Ketika mengingat pesan itu, saya teringat sebuah pesan indah dari seorang tentang trik menjaga Al-Quran. Pertama, untuk menghafal Al-Quran, seorang (guru) harus menjaga diri dan santrinya dari makanan-makanan yang tidak jelas (haram/syubhat). Kedua, jaga juga lingkungan dengan baik, jangan sampai lingkungan pesantren itu ada ikhtilat (campur antara wanita dan laki). Jika terjadi ikhtilat (campur), maka santrinya kerasan (betah) dan Al-Qur’annya yang akan pergi. Ketiga, seseorang yang sedang menghafal Al-Quran juga harus menjaga pergaulan dengan baik. Sebab, pergaulan yang tidak baik, seperti; kebiasan berboncengan antara laki-laki dan wanita sebelum menikah, maka Al-Quran dijamin tidak betah.

Begitulah kira pesan-pesan istimewa dari seorang Suhu Al-Quran, KH Abdullah Faqih Al-Hafidz agar Al-Quran itu mudah dihafal dan bermanfaat bagi umat. Menjaga Al-Quran itu sama dengan menjaga Allah SWT. Karena sesungguhnya Al-Quran itu adalah Kalamullah. Tidak akan mendapatkan kemudahan menghafal Al-Quran jika makanan, perilaku, dan pergaulan tidak sesuai dengan anjuran Al-Quran. Bukankah Nabi SAW mengatakan: ”sesungguhnya Allah itu baik, tidak akan menerima kecuali yang baik”.

KH Abdullah Faqih bukan hanya menghafal dan membumikan Al-Quran. Beliau sangat dekat dengan masyarakat dan ulama-ulama kota Malang. Suatu ketika saya berjumpa dengan beliau tidak sengaja. Tiba-tiba beliau mengatakan: ”hari ini adalah wafatnya kakek penjengangan”. Mendengar pernyataan beliau, saya kaget. Ternyata, beliau begitu kuat hafalannya. Hampir semua tetangga, kerabat, saudara, bahkan ulama-ulama sekota Malang dihafalnya. Ini terbukti saat beliau bertawasul (kirim surat Al Fatihah) kepada ahli kubur. Hampir sekampung dan ulama sekota Malang disebut. Itulah salah satu karomah KH Abdullah Faqih Al-Hafidz.

Bagi saya, KH Abdullah Faqih tidak hanya membumikan Al-Quran di musholla, masjid, rumah-rumah. Lebih dari itu, KH Abdullah Faqih selalu menjadi referensi utamaku ketika menulis artikel dan bukut terkait dengan profil-profil ulama kota Malang ini. Begitu menakjubkan kemampuan hafalan beliau, inilah rahasia dan keajaiban (miracle) orang hafal Al-Quran Kalamullah.

Beberapa santri yang pernah belajar Al-Quran cukup banyak, salah satunya adalah Ustadz Nurkholis, dan Ustad Khusaini. Ustad Khusaini saat ini sedang merintis pesantren Tahfidz Al-Quran yang bernama  “Riyadus Sholihin”. Pesantren ini sangat menarik, sebab santri-santrinya beragam, dari berbagai lapisan dan latar belakang pendidikan. Para santri yang belajar di sini, ada yang kuliah di Fakultas Kedokteran UB (Universitas Brawijaya), ada juga yang kuliah di UNISMA (Universitas Islam Malang) jurusan Pendidikan Agama Islam, juga yang kuliah di UM (Universitas negeri Malang), dan juga di UNMER (Universitas Merdeka). Di Pesantren Riyadus Sholihin banyak penghafal Al-Quran dari beragam disiplin ilmu.

KH Abdullah Faqih dimakamkan, jumlah pentakziyah ratusan, bahkan mungkin mendekati ribuan. Semua santri, masyarakat, ulama dan kyai, pejabat tumpah ruah di Masjid Jamik untuk mensholati dan ikut memakamkam beliau. Bahkan ada yang dua kali mensholatinya, Selasa malam (20/01/2015), juga tadi pagi Rabu (21/01/2015). Merupakan sebuah kemulyaan tersendiri bisa ikut serta mensholati dan mengantarkan jenazah KH Abdullah Faqih Al-Hafid.

Sangat menarik dan unik, mungkin salah satu barokah dan kemulyaan seorang penghafal Al-Quran, dan juga pengajar Al-Quran. Usai di sholati, semua penta’jiyah berebut mengangkat keranda jenzah KH Abdullah Faqih untuk ikut serta mengantarkanya. Lebih menarik lagi, Ambulan terlah dipersiapkan, tetapi para penta’jiyah tidak memasukkan ke dalamnya. Begitu banyak jumlah penta’jiyah, yang terdiri dari para santri, asatid, ulama dan kyai, hababib, mengantarkanya. Maka, Ambulan-pun di iringi jezanahnya. Di mana keranda bergantian diangkat ,sementara ambulan setiap di depan keranda. Padahal jarak antara Masjid Agung Jami’ Malang dan pemakaman  Kuto Bedah lumayan Jauh.

Sekali lagi, Allah SWT telah membuktikan bahwa orang yang mengajarkan agama (Al-Quran) dan mengajarkanya memiliki keistimewaan. Ketika masih sehat, mereka memiliki kemulyaan, dan saat mereka sudah tiada, manusia-pun berebut memulyakanya. Sangat tepat apa yang dituturkan Rosulullah SAW:”sebaik-baik kalian adalah orang yang mengajarkan Al-Quran dan mengajarkanya” (HR Bukhori). Itulah yang dilakukan oleh KH Abdullah Faqih selama hidupnya.

Kita merasa bersedih atas kepergiannya, tetapi bagi KH Abdullah Faqih sangat menyenangkan, karena bekalnya sudah cukup banyak. Ketika saya melihat raut wajahnya begitu tenang, kelihatan tersenyum, seolah-olah tidak wafat.KH Abdullah Faqih hanya pindah tempat di alam barzah, dimana beliau akan selalu mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran di alam barzah sampai hari qiyamat tiba. Di alam barzah, KH Abdullah Faqih akan memperoleh kenikmatan, dan dipertemukan dengan orang-orang yang dicintainya, yaitu Rosulullah SAW, sahabat, serta orang yang memelihara kitab suci Al-Quran. Di alam barzah mereka akan bercengkrama, saling menyapa dan saling berdiskusi, sambil menanti datangnya hari qiyamat.

Sebagai orang tua, KH Abdullah Faqih sudah berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah. Dan, secara pribadi, KH Abdullah Faqih menjadi pribadi yang mandiri, sholih, taat beribadah, ihlas dan qonaah. Begitulah Allah SWT memangilnya, dalam kondisi Husnul Khotimah.

Begitu banyak informasi yang aku peroleh, begitu banyak ilmu yang aku dapatkan, begitu banyak nasehat yang diberikan, dan begitu besar perhatian yang diberikan, dan begitu ihlas KH Abdullah Faqih mendokan keluargaku. Semoga pesan-pesan mulia itu bisa aku amalkan, dan ilmu yang aku peroleh bermanfaat, dan KH Abdullah Faqih dimulyakan oleh Allah SWT, sebagaimana beliau memulyakan dan mengajarkan Al-Quran. Terima kasih, semoga gagasan KH Abdullah Faqih, serta rencana mendirikan pesantren Tahfidul Al-Quran di kediamanya terlaksana dan menjadi amal jariyah sepanjang masa. Amiin

KH ABDULLAH FAQIH AL-HAFIDZ : Ketika Jenazah Mengiringi Ambulan | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *