Kritik dan saran Menurut Islam

“Tak ada gading yang tidak retak”, begitulah ungkapan pepatah yang seringkali kita dengar. Pepatah tersebut berarti bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, setiap orang pasti punya kelemahan dan kekurangan. Akan tetapi, di balik kelemahan dan kekurangan yang dimiliki seseorang, pastilah dia memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki seseorang bukanlah untuk tujuan saling merendahkan, saling mengejek, saling menjatuhkan dan sebagainya. Akan tetapi, bagaimana dengan kelebihan dan kekurangan itu kita bisa hidup saling memberi dan menerima, saling melengkapi satu dengan lainnya. Begitulah pesan Allah swt dalam surat Az-Zukhruf [43]: 32

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Untuk menyempurnakan kekurangan itulah diperlukan kritik dan saran dalam kehidupan kita. Kita perlu menerima kritik dari orang lain sekaligus saran yang sifatnya konstruktif atau membangun. Bukankah nabi Sulaiman sekalipun manusia hebat, diberikan segalanya oleh Allah, tidak hanya manusia, angin dan jin pun turut patuh terhadap perintahnya, bahkan mengerti bahasa segala binatang. Akan tetapi, ada hal yang tidak diketahui oleh Sulaiman yang pengetahuan itu ada pada seekor burung kecil bernama hud-hud. Hud-hud lah yang kemudian memberikan kritik dan saran kepada Sulaiman. Lihatlah surat an-Namal [27]: 22

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ

Artinya: “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini,”

Namun, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita seharusnya menyampaikan kritik dan saran tersebut. Supaya orang yang dikritik tidak merasa direndahkan, dilecehkan ataupun disakiti perasaanya. Sekaligus saran yang kita berikan bisa diterima dengan baik tanpa ada kesan menggurui ataupun mengecilkan orang yang kita beri saran.

Di dalam al-Qur’an, Allah swt. menceritakan beberapa tokoh yang pernah mengajukan kritik dan saran kepada orang yang mereka temui dalam kehidupan mereka. Sekaligus al-Qur’an mencontohkan gaya dan bahasa menyampaikan kritik dan saran melalui “lidah” tokoh tersebut.

Pertama, nabi Ibrahim ketika mengktirik kesalahan dan kekeliruan ayahnya, sekaligus memberikan saran untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Kisah tersebut terdapat dalam surat Maryam [19]: 41- 43

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا(41)إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا(42)يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا(43) يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا(44)يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا(45)

Artinya : “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi (41). Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?(42). Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.(43). Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.44Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.(45)

Ayat di atas menceritakan ketika Ibarahim mengkritik ayahnya yang musyrik dan menyembah patung. Coba kita lihat gaya bahasa Ibrahim ketika mengkritik ayahnya pada ayat 42. Ibrahim menggunakan panggilan ya abati yang berarti “wahai Ayahanda tercinta”. Ibrahim tidak menggunakan kata ya abi sekalipun maknanya sama. Namun, panggilan ya abati dinilai sebagai panggilan kasih sayang. Ibrahim, sekalipun mengetahui dengan pasti kekeliruan dan kesalahan ayahnya, namun dia tidak pernah menghujat, mengecam apalagi mengecilkan panggilan kepada ayahnya dengan pangggilan yang tidak layak. Penghormatannya tidak berkurang sekalipung ayahnya tersebut telah melakukan kesalahan yang fatal.

Inilah cara menyampaikan kritik yang terbaik, janganlah melontarkan panggilan yang merendahkan, seperti hai bodoh, dungu, goblok, pandir dan seterusnya. Panggillah mereka dengan panggilan hormat dan sayang, sehingga mereka tidak merasa dikecilakn apalagi disakiti perasaanya. Bagaimana mungkin seseorang akan menerima kritikan dan saran, jika hati dan perasaannya sudah tersakiti.

Seorang guru yang ingin mengkritik kesalahan dan memberikan saran kepada muridnya yang bersalah, maka panggillah mereka dengan panggilan mesra dan sayang, nisacaya mereka akan mendengarkan kritik dan saran kita. Seorang “bos” atau pimpinan suatu instansi yang ingin mengkritik dan memberikan saran terhadap kekeliruan anak buahnya, maka pangillah mereka dengan panggilan penghormatan, niscaya mereka akan mendengar kririk dan saran kita, begitulah seterusnya.

Selanjutnya, setelah Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan hormat dan sayang, Ibrahim mulai menyampaikan kritiknya. Akan tetapi bahasa yang dipilih Ibrahim adalah bentuk kalimat tanya. “…Kenapa ayah menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, melihat atau berbuat apa-apa?”. Ibrahim tidak mengeluarkan kritikan yang sifatnya menghakimi, memvonis atau menunjuk tangan. Seperti kalimat, “anda salah, anda keliru, anda sesat, anda kafir dan seterusnya. Tetapi, Ibrahim berusaha mengajak ayahnya untuk berfikir tentang kekeliruannya. Ibrahim berusaha agar ayahnya menjawab dan menyadari sendiri akan kekeliruan dan kesalahannya.

Begitulah cara menyampaikan kritik yang terbaik, kita tidak memberikan vonis akan kesalahan seseorang. Akan tepai, kita hanya berusaha menyadarkannya akan kekeliruan yang telah dia lakukan. Biarkan dia sendiri yang menyadari kesalahannya melalui pertanyaan yang kita berikan. Karena, jika seseorang tidak mampu memberikan jawaban atau penjelasan atas pertanyaan yng kita ajukan, pastilah dia akan menyadari bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kekeliruan dan kesalahan.

Selanjutnya, ketika yahnya tidak mampu memberikan jawaban dan penjelasan atas apa yang dilakukannya. Kemudian ibrahim berupa memberikan saran. Namun sebelum saran dan nasehat dikemukan Ibarahim berakata seperti yang terlinat pada ayat 43, “wahai ayahanda, sungguh telah datang kepadaku sedikit ilmu yang mungkin tidak engkau miliki maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”. Ibrahim tidak berkata bahwa dia lebih tahu, punya segudang ilmu, punya wawasan yang lebih banyak dan seterusnya. Tatapi Ibrahim berkata, “saya punya sedikit ilmu”. Bukankah Allah telah mengatakan kepada Ibrahim bahwa dia adalah orang yang mengetahui rahasia langit dan bumi? Kenapa Ibrahim berkata kepada ayahnya hanya punya sedikit ilmu?

Begitulah cara menyampaikan kritik dan saran yang terbaik. Jangan ada kesan kita membanggakan diri, menyombongkan diri kepada orang yang akan kita beri saran. Rendahkanlah diri dan bicara anda kepada orang yang akan anda beri kritik dan saran. Janganlah anda pernah berkata kepada orang yang akan dikritik, “saya lebih tahu dari anda, saya telah membaca sekian bayak buku dan teori, saya lebih paham dari anda” dan seterusnya. Sebab, bahasa seperti itu terkesan mengecilkan dan membuat orang lain kehilangan simpati menerima kritik dan saran kita.

Setelah Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan hormat dan sayang, lalu merendakan dirinya di hadapan ayahnya, barulah Ibrahim menyampaikan saran seperti tergambar dalam ayat 44 dan 45.

Kedua, nabi Ibrahim ketika mengkritik kesalahan dan kekeliruan kaumnya yang menyembah berhala. Seperti tergambar dalam surat asy-Syu’ara’ 69-102

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ(69)إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ(70)قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ(71)قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ(72)أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ(73)

Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.69Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”(70). Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”(71). Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)?(,72). atau (dapatkah) mereka memberi manfa`at kepadamu atau memberi mudharat?” (73)

Dalam ayat di atas juga tergambar betapa Ibrahim menggunakan bahasa yang santun kepada kaumnya dengan juga menggunakan kalimat tanya dan mengajak mereka berfikir guna menemukan kesalahan mereka. Ibrahim berkata kepada kumnya ketika mereka bersikeras untuk tetap pada keyakinan yang salah, “Kenapa kamu semua menyembah sesuatu yang tidak akan pernah mendengar seruan kalian? Sesuatu yang tidak akan memberikan manfaat atau bahaya buat kalian? Ketika kaumnya tidak bisa memberikan jawaban dan penjelasan yang tepat, kemudian Ibrahim memberikan saran dengan menjelaskan Tuhan yang semestinya disembah. Seperti digambarkan dalam ayat 77-82

Ketiga, ratu Balqis dan pemuka bangsa Saba’ ketika mereka saling memberikan kritik dan saran seperti terlihat dalam surat an-Naml [27]: 32-34

قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ(32)قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ(33)قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ(34)

Artinya: “Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku)”(32). Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”(33). Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat (34).”

Ketika ratu Balqis meminta saran dari para pembesarnya saat hendak mengambil tindakkan yang tepat untuk menanggapi surat Sulaiman yang meminta bangsa Saba’ dan rakyat Yaman tunduk di bawah kekuasan Sulaiman. Para pemuka Saba’ menyarankan agar rakyat Saba’ melawan Sulaiman dan tenataranya dengan cara konfrontasi atau peperangan fisik. Sebab, mereka yakin akan mampu mengalahkan Sulaiman dan tentaranya dengan melihat kekuatan yang mereka miliki. Namun, di akhir saran yang mereka kemukan, para pembasar Balqis berkata, “keputusan tetap di tangan engkau”. Beginilah cara menyampaikan saran yang terbaik. Kita tidak boleh memaksakan pendapat kita agar diterima orang lain. Kita juga tidak boleh kecewa, sakit hati atau marah jika saran kita tidak diterima. Tugas kita hanyalah memberikan masukan dan saran, soal diterima atau tidak kita serahkan kepada yang bersangkutan.

Akan tetapi, ratu Balqispun bukan menolak saran pembesarnya atas dasart kengkuhan atau menganggap saran itu tidak baik, tidak berguna ataupun tidak berbobot. Namun Balqis berusaha memberikan pandangan lain, dengan mengatakan “jika peperangan terjadi, betapa sering kita saksikan, bahwa yang akan menjadi korban adalah rakyat biasa. Mereka yang sebelumnya hidup damai, tentram dan nyaman, harus menanggung penderitaan akibat perang dan ambisi para penguasa”. Maka Balqis memberikan tawaran dan pertimbangan lain, yaitu cara diplomasi. Akhirnya saran ratu Balqis diterima semua pihak, tanpa pihak yang diminta saran sebelumnya dikecilkan dan dianggap tidak berarti dan berguna.

Keempat, nabi Musa ketika mengkritik Khaidir, seperti terlihat dalam surat al-Kahfi [18]: 71-77.

َانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا(71) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا(74)فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا(77)

Artinya: “Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar (71). Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar” (74). Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu” (77).”

Ayat ini adalah rangkaian kisah nabi Musa as berguru kepada nabi Khaidir. Khaidir mengajak Musa melakukan perjalanan dengan syarat tidak boleh bertanya apapun yang dilakukanya sepanjang perjalananan, sampai diberitahukannya. Ketika mereka menumpang sebuah kapal, dan setelah sampai di seberang lautan Khaidir melobangi kapal tersebut hingga rusak dan airpun masuk ke dalam kapal tersebut. Musa akhirnya tidak bisa diam dan menahan diri untuk tidak mengkritik perbutan sang guru. Musa pun berkata “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Selanjutnya, ketika sang guru membunuh seorang anak yang tidak berdosa, Musa pun mengajukan kritikan, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain?”. Dan ketika Khaidir memperbaiki rumuh orang yang tidak bersedia menjamu mereka ketika kehausan, Musapun mengajukan kritik dengan berkata “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

Coba kita perhatikan semua ungkapan Musa ketika mengkritik khaidir. Musa mengajukan kalimat tanya atau kalimat syarat. Musa tidak mengatakan “ anda salah, anda keliru, anda bodoh, anda sesat dan seterusnya.

Begitulah bahasa terbaik yang semestinya dipakai untuk mengajukan kritik dan saran kepada seseorang yang menurut kita melakukan kesalahan atau kekeliruan. Ajukanlah dengan gaya dan bahasa yang sopan, santun dan mengundang simpati, serta tidak terkesan menggurui atau merendahkan pihak lain.

Kritik dan saran Menurut Islam | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *