Kurikulum Berbasis Kompetensi

DEFINISI  atau perumusan ini amat membingungkan. Kompetensi siapa. Kompetensi guru atau kompetensi murid?

Masalah ini sudah amat sering dibicarakan dan diperdebatkan dalam berbagai macam pertemuan dan dialog. Pun telah terbit berbagai karangan mengenai masalah ini di banyak harian. Namun, dalam semua pembicaraan maupun karangan, tidak pernah dikemukakan masalah dasar bagaimana para murid memperoleh kompetensi. Masalah dasar atau syarat dasar adalah kemampuan intelektual dari seorang pelajar.

Untuk mengetahui kemampuan intelektual pelajar, maka perlu diadakan dua bentuk SMA, yaitu SMA-A dan SMA-B. SMA-A menerima lulusan SMP dengan (nilai ebtanas murni evaluasi belajar tahap akhir nasional (NEM ebtanas) minimal 45 atau dengan hasil ujian akhir nasional (UAN) minimal 7,5. SMA-B menerima lulusan SMP dengan NEM ebtanas minimal 36 atau dengan hasil UAN minimal 6,0. 

Pembagian untuk anak-anak pintar dan anak biasa juga berlaku di luar dan dalam negeri. Berikut contoh-contohnya.

Di Jerman, ada gymnasium untuk anak pintar dan real- schule untuk anak biasa.

Di Belanda, ada voobereidend ivetenschappelijk onderwijs (VWO) untuk anak-anak pintar dan hoter algemecn vormend onderwijs (HAVO) untuk anak-anak biasa.

Di Inggris, Singapura, dan Malaysia, ada high school tujuh tahun untuk anak pintar, dan high school lima tahun untuk anak biasa.

Di Indonesia, pada akhir tahun ajaran 1996/1997 ada 21 SMU unggul di Jakarta. Sekolah ini menerima pelajar yang memiliki NEM SLTP minimal 45. Hasil ebtanas adalah NEM rata-rata IPA 7,0; NEM rata-rata IPS 7,90. Hasil ebtanas SMU biasa adalah NEM rata-rata IPA 5,12, NEM rata-rata IPS 5,60.

Harus diakui, tidaklah mungkin mencapai kompetensi yang tinggi apabila dalam satu kelas para pengajar harus mengajar murid yang lemah kemampuannya, murid biasa, dan murid pintar secara bersama.

Lulusan SMA-A boleh melanjutkan ke universitas atau institut. Lulusan SMA-B boleh melanjutkan ke sekolah tinggi kejuruan (fachhochschule), akademi, atau politeknik.

Untuk mencapai kompetensi tinggi, semua pengajar harus magister pengajaran bidang studi (master in science teaching, master in language teaching, master in religion teaching, dan sebagainya). Semua pengajar (sekolah menengah negeri) ini diangkat oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pusat.

Kurikulum dan bahan yang diajarkan sama, baik untuk SMA-A maupun SMA-B. Cara mengajarnya lebih intensif dan tuntutan kepada pelajar SMA-A lebih tinggi.

Kurikulum maupun bahan yang harus diajarkan selama tiga tahun ditentukan oleh Depdiknas pusat. Urutan bahan yang diajarkan diserahkan kepada pengajar bidang studi, pengajar yang akan menentukan buku-buku bidang studi yang akan dipakai. Dengan demikian, buku-buku yang digunakan itu tidak ditentukan oleh kepala sekolah atau komisi sekolah.

Semua buku bidang studi yang sudah dipilih dan akan dipakai dipinjamkan kepada para pelajar. Karena itu,perpustakaan harus memiliki buku selengkap mungkin dan dikelola oleh seorang ahli perpustakaan.

Pengalaman sehari-hari meyakinkan kita bahwa bergairah saja tidak cukup untuk berhasil dalam studi. Cara membim-bing pelajar cara mengajar, itu ikut menentukan. Maka, perlu diciptakan peraturan yang dimaksud untuk menciptakan sebuah kerangka pasti dan jelas, yang membantu baik pengajar  atau pelajar untuk meraih tujuan pembelajaran.

Saya akan menyebutkan beberapa cara cara yang membantu mendoroang cara belajar dan menajar menjadi lebih baik. apabila suasana sekolah tertib, tidaklah sulit MMM m mI nl< <u ■ i lengan lepat dan cepat tujuan akademis terbatas ihiImIi Iin|i Ii.i|i kelas. Dirasakan, itulah syarat pertama untuk mi m Iplnl’.iin lingkungan belajar yang baik, mengerti apa yang ninii illmlli il.m bagaimana cara mencapainya. Cara yang liliiHiiiivii ili|uik.’ii adalah prapelajaran. Pengajar menyiapkan |ihim |lelu{m dengan baik untuk kegiatan mereka sendiri, yaitu |it<lii)iii I lunya i lengan cara demikian dapat dihasilkan proses Ih>Ih|ii! vmig 1 mIk dan pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang IIIIM!

Im-iIuh, lu|uan belajar harus disesuaikan dengan para |it’ln|/ii Mereka mampu belajar banyak asal tidak dihujani Ih 11Higni linlian ]>ada waktu yang sama. Jadi, perhatian akan iiiliiipnn <Inn iirulan menjadi amat penting sesuai dengan |ii>iiinin|iiiiin seliap pelajar.

I’.i’Iigu. asas gial diri dari pelajar disalurkan lewat ulangan Imi inn, mingguan, bulanan, dan tahunan. Hal itu dimaksudkan

 untuk mendorong, membina, dan melestarikan usaha pelajar menjadi pandai. Ulangan-ulangan tidak dimaksudkan sebagai pengulangan yang membosankan dari bahan hafalan, tetapi sebagai kesempatan bagi pelajar untuk dapat berefleksi guna menyerap apa yang membingungkan atau menggugahnya saat mengikuti pelajaran.

Keempat, tidak mungkin mencapai tujuan tanpa berkanjang. Begitu pula mustahil berhasil bila tidak ada motivasi. Selain itu, perlu diperhatikan, waktu belajar paling lama dua jam. Sesudah itu harus beristirahat. Perlu juga adanya keanekaragaman dalam kegiatan di mang kelas. Terlalu banyak bahan dari satu macam hal akan mematikan semangat. Sejauh mungkin belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan, baik secara batin maupun lahir. Apabila sejak awal perhatian para pelajar diarahkan kepada bahan yang akan dibahas, minat mereka akan tergugah. Pementasan drama maupun sandiwara sejarah akan merangsang pelajar mempelajarinya. Juga bisa dilakukan melalui lomba dan kontes, keinginan kaum muda akan menonjol dan merangsang studi mereka. Ini semua meningkatkan perhatian guna mengarahkan minat mereka kepada belajar dan menjadikan belajar sebagai kegiatan menarik.

Semua asas pedagogis itu kait-mengait. Hasil belajar betul- betul merupakan perkembangan yang dinyatakan dalam kebiasaan-kebiasaan dan keterampilan-keterampilan. Perilaku atau kebiasaan tidak ditimbulkan hanya karena memahami fakta atau prosedur, tetapi melalui menguasai dan mempri- badikannya, menjadikannya milik sendiri.

Penguasaan, mastering, merupakan hasil usaha intelektual dan latihan secara terus-menerus. Namun, hasil yang baik mustahil diraih apabila tidak ada motivasi yang memadai dari lingkungan insani yang menunjang refleksi.

Untuk membantu seluruh pembicaraan ini, saya mengusulkan sebuah kurikulum untuk SMA-A dan SMA-B. O

Kurikulum Berbasis Kompetensi | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *