Lindungi Anak Anda Dari TV!

Lindungi Anak Anda Dari TV!

Ada hasil penelitian yang cukup mengejutkan tentang pengaruh TV terhadap anak. Seperti dilansir oleh Situs Pemerhati Televisi Indonesia di www.geocities.com/kritikacaratv, sebuah hasil penelitian terkini di AS menyebutkan bahwa terlalu banyak menonton TV bisa menghambat pertumbuhan otak anak.

Hasil penelitian itu bahkan menyebutkan bahwa anak umur nol sampai dua tahun sebaiknya tidak menonton TV sama sekali. Alasannya, “karena televisi, meskipun edutainment sekalipun, hanya memberikan rangsangan yang bersifat satu arah saja sehingga anak tidak bisa tercipta reaksi timbal balik,” kata psikolog anak, Dra Mayke Tedjasaputra, seperti dikutip situs tersebut.

Dengan kata lain, terjadi semacam proses pembodohan pada diri anak-anak jika mereka terlalu banyak menonton televisi. Di AS kini bahkan ada sebutan ‘kotak idiot’ bagi TV karena pengaruh buruknya tersebut. Karena itu, anjuran ‘Lindungi Anak Anda dari TV’ cukup tepat untuk segera disampaikan kepada para orang tua Indonesia, agar anak-anak mereka tidak menjadi bodoh hanya gara-gara kebanyakan menonton TV. Apalagi, jika tayangan-tayangan yang ditonton tidak edukatif, bukan hanya pembodohan yang terjadi tapi juga perusakan kepribadian.

Anjuran itu perlu segera disebarluaskan, karena rata-rata orang tua Indonesia cenderung membiarkan anak-anak mereka duduk berjam-jam di depan TV. Beberapa hasil penelitian menyebutkan, anak-anak Indonesia rata-rata menghabiskan waktu 4-5 jam per hari untuk menonton TV. Bahkan, pada hari libur bisa sampai 10 jam dalam sehari. Alasan para orang tua umumnya pragmatis saja: anak-anak bisa diam dan tidak pergi ke mana-mana jika sudah asyik di depan TV, sementara sang orang tua bisa menyuntuki kesibukannya sendiri tanpa terganggu oleh anak-anak.

Dari satu sisi, alasan itu memang cukup masuk akal. Tetapi, sebenarnya mengandung bahaya besar yang bisa mengancam masa depan anak, karena terjadinya proses pembodohan dan perusakan kepribadian tadi. Sebab, dengan membiarkan anak banyak menonton TV berarti menyerahkan pertumbuhan mental dan kecerdasan mereka kepada ‘kotak idiot’ itu.

Begitu besarnya pengaruh TV terhadap anak-anak, sampai-sampai pendiri organisasi Action for Children Television, Peggy Chairen, memperingatkan bahwa tidak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan TV yang luar biasa untuk menyentuh anak-anak dan mempengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka.

Besarnya pengaruh itu, kata psikolog UI Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, seperti dikutip situs di atas, karena anak-anak memang berada pada fase meniru. Anak-anak adalah imitator ulung, dan karena itu akan cenderung meniru adegan yang ditonton di TV. Barangkali, masalahnya tidak mengkhawatirkan jika yang ditiru adalah adegan dan perilaku yang positif.

Tapi, kenyataannya, justru bukan perilaku positif yang menarik bagi anak-anak dan menebar di layar TV, namun malah yang negatif. Ketika meneliti film-film kartun Jepang Sailor Moon, Dragon Ball dan Magic Knight Ray Earth, misalnya, Sri Andayani mendapati lebih banyak adegan anti sosial ketimbang adegan pro sosial (58,4% : 41,6%). Temuan diperkuat oleh studi YKAI yang mendapati adegan anti sosial lebih dominan (63,51 %). Adegan-adegan anti sosial pula yang banyak didapati pada film-film kartun anak-anak yang sedang populer saat ini, seperti Sponge Bob Square Pans dan Crayon Sincan.

Kalangan orang tua di negara-negara maju seperti AS kini sudah mulai menyadari negatifnya pengaruh TV terhadap anak-anak, dan karena itu mereka sudah mulai hati-hati. Sebuah survai yang dilakukan oleh Christian Science Monitor terhadap 1209 orang tua tentang seberapa kuat kekerasan TV mempengaruhi anak, menghasilkan 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% menjawab mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi dan 11% tidak mempengaruhi.

Kuatnya pengaruh acara TV terhadap anak, menurut Fawzia Aswin, juga ditentukan oleh besarnya waktu untuk menonton TV. Penelitian oleh Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) menemukan anak-anak di Semarang menonton TV selama 4 jam per hari. Sedangkan Pudji Lestari (1996) mencatat anak Bogor menonton 3,13 hingga 4,65 jam per hari. Padahal, menurut Murphy dan Karen Tucker (produser acara anak-anak), sebaiknya anak menonton TV kurang dari dua jam per hari.

Tayangan TV yang hampir selalu menampilkan efek sinar, gerak dan suara secara bersamaan, menurut Mayke Tedjasaputra, juga berefek negatif bagi anak-anak. Sebab, seperti dikutip situs di atas, efek-efek itu tidak bisa selalu dilihat oleh anak dalam dunia nyata sehingga mempersulit penyesuaian dirinya terhadap lingkungan. Tampilan adegan yang tidak disajikan secara utuh dalam tayangan TV juga menyebabkan anak tidak bisa memperoleh gambaran yang utuh tentang suatu kegiatan atau benda. Sehingga, menurut Mayke, anak tidak memahami suatu hal secara menyeluruh.

Akibat lainnya, menurut Konsultan Tumbuh Kembang Anak dari Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr Hartono Goenardi SpA, pertumbuhan sel-sel syaraf otak pada anak tidak bisa optimal. Demikian juga dengan tingkat pembentukan hubungan antar sel syarafnya (synaps). Padahal, dua sampai tiga tahun pertama merupakan periode emas pertumbuhan otak anak yang seharusnya tidak boleh disia-siakan.

Untuk memacu pertumbuhan otaknya, anak-anak harus secara aktif mendapatkan stimulasi atau rangsangan dengan memberikan nutrisi yang cukup dan suasana yang menyenangkan, di antaranya dengan permainan-permainan yang sehat. Jadi, bukan dengan terus-menerus membiarkan mereka nonton televisi. Nah!

Milis Sabili
Dikirim oleh: Bowo
Senin, 6 Juni 2005

Lindungi Anak Anda Dari TV! | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *