Malas Berkomunikasi Dengan Suami, Bagaimana Hukumnya?

Malas Berkomunikasi Dengan Suami,

Bagaimana Hukumnya?

http://www.eramuslim.com
Publikasi: 02/04/2005 10:57 WIB

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Hubungan suami istri seharusnya tidak boleh macet. Bila sejak awal sudah ada tanda-tanda mengarah ke sana, haruslah segera diperbaiki. Masing-masing pihak baik istri atau suami wajib segera mencari cara penyelesaian atas kemacetan komunikasi yang terjadi. Membiarkan kemacetan komunikasi itu pada gilirannya akan menjadi bom waktu yang setiap saat akan meledak meminta korban yang tidak sedikit.

Sebab seorang istri yang menolak ajakan suaminya dalam melakukan hubungan seksual, maka malaikat akan mengutuknya malam itu hingga fajar terbit keesokan harinya.

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila seorang mengajak istrinya ke tempat tidur (hubungan seksual) namun istrinya menolak hingga suami itu tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknat wanita itu sampai shubuh.” (HR Bukhari, Muslim dan Abu Daud).

Karena itu sebisa mungkin penyelesaian itu harus dilakukan jauh sebelum muncul rasa enggan untuk melayani suami. Dan tentunya harus terlebih dahulu diselesaikan secara internal terlebih dahulu tanpa melibatkan orang lain. Sebab hal ini merupakan sebuah hak privasi masing-masing pihak. Tidak kepada teman, saudara apalagi bos di kantor. Tentu tindakan seperti ini sangat melecehkan pasangan sendiri, apalagi bila istri curhat kepada laki-laki lain dan suami curhat kepada wanita lain.

Curhat yang demikian lebih banyak madharatnya ketimbang maslahat yang didapat. Apalagi orang yang diajak curhat itu pun belum jelas ketulusannya, sehingga sangat boleh jadi curhat sering kali malah menjadi awal petaka yang menjerumuskan seseorang ke lembah perselingkuhan yang terlarang.

Kalau pun harus curhat, maka harus disepakati orangnya, minimal kepada orang yang mampu, berkepribadian lurus, punya pengalaman dan hikmah, ahli dalam syariah dan harus dengan persetujuan pasangan. Tidak boleh hukumnya seorang wanita menceritakan problem rumah tangganya kepada siapa pun kecuali atas izin suaminya. Demikian juga seorang suami, haram menceritakan aib istrinya kepada orang lain, apalagi kepada teman wanitanya. Dan lebih celaka lagi bila yang diajak curhat malah ikut terlibat secara emosional, alih-alih mendamaikan, malah bisa semakin jauh dari penyelesaian.

Yang dibutuhkan sebenarnya bukan sosok tempat curhat yang sekedar mau mendengar keluhan, tetapi seorang yang bijak yang selain menampung keluhan namun bijaksana dan bisa menjadi penengah yang adil, seimbang dan objektif dalam memandang. Sosok itu harus mendengar dari istri dan suami secara proporsional. Tidak berpihak kepada salah satu dari padanya dan tidak subjektifitas untuk merendahkan yang lainnya. Dan bila tidak ditemukan satu sosok yang memiliki semua kriteria itu, minimal bisa dikirim satu perwakilan dari pihak laki-laki dan satu perwakilan dari pihak perempuan. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS An-Nisa: 35)

Insya Allah dengan cara demikian, Allah akan memberikan taufiq kepada suami istri itu. Dan hanya Allah saja yang berkuasa atas hati manusia. Bila kita ingin menaklukkan hati seorang manusia, mintalah kepada Allah untuk menaklukkan hatinya untuk kita.

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mukmin: 60)

Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc

Milis Sabili
Dikirim oleh: Ummu Ja’far
Senin, 04 April 2005

Malas Berkomunikasi Dengan Suami, Bagaimana Hukumnya? | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *