MAMA MARAH: MALANG KOTA MACETNYA PARAH

Oleh : Leo Tanimaju

Hadeeh! “Sumpah Malang puool muacete”.
Malang (sepertinya) bukan lagi kota yang nyaman untuk bersantai menikmati pemandangan. Bagaimana mau santai, (bisa jadi) belum apa~apa sudah `disruduk` mobil dari belakang. Hehe “soale Malang saiki macete ugal~ugalan” melebihi macetnya kota `Dampit` metropolitan. Sebagai kota yang menonjolkan panorama pegunungan, Malang sengaja di desain sebagai kota transit sekaligus tempat ber~liburan. Konon (pada jaman dahulu) bangsa belanda dalam membuat dan mengatur tata kelola kota, Malang dibuat sebagai kota/tempat peristirahatan. Mungkin jejaknya masih bisa dilihat sampai sekarang. Mulai Simpang Balapan, Ijen boulevar, Alun~alun kota, Splendid, Pasar Bunga, Embong Arab, Kayu Tangan, Senaputra, Sarinah, bioskop Merdeka, sampai Selecta.

Sebuah kota yang mestinya jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Namun kenyataan berkata lain. Malang kehilangan jati diri kotanya sendiri. “malangnya Malang” Malang yang sekarang macetnya sudah tidak karuan. Kendaraan di mana~mana. Semua jalanan sudah penuh dengan kepadatan kendaraan lalu lalang. Capek rasanya melakukan aktivitas dan rutinitas di jalanan kota Malang. Hampir di setiap jalan rawan terjadi kemacetan. “sakitnya tuh di pantat”. Tobaat (lebay).

Malang sejatinya bukan kota yang sengaja mendisain jalan raya untuk kendaraan besar atau kendaraan pribadi, karena jalanan yang ada di daerah kota Malang rata rata berukuran 6 meter kurang lebih (bandingkan dengan kota Surabaya, Bandung, Semarang, Jogja, dll). Maka, ketika kendaraan besar saling berpapasan, kemungkinan kondisi kendaraan dalam posisi memenuhi jalan, belum lagi motor yang jumlahnya jauh berlipat lipat melebihi jumlah kendaraan roda empat, membuat Malang macet parah.

“MasyaAllah macete reek, kudu tak tangisi ae kutho iki”. Memang kota Malang kian hari kian berkembang, mengalami perkembangan pesat di segala bidang. Setiap tahunnya ribuan pendatang tinggal di kota Malang. Sehingga menjadikan salah satu kota yang memiliki potensi besar menuju kota metropolitan. alasannya, jelas terdapat kampus~besar dengan jumlah mahasiswa terus bertambah setiap tahunnya (termasuk saya dulu juga mahasiswa, hihi), ya kemungkinan kurang lebihnya 100 ribu
mahasiswa baru datang di kota Malang.

Banyak juga kan? Bayangkan jika semua mahasiswa membawa motor atau kendaraan pribadi dari masing~masing kota. Maka tak heran jika salah satu kampus negeri di Malang melarang mahasiswanya menggunakan kendaraan selama setahun setiap tahunnya, ini berlaku bagi mahasiswa baru. Kampus lain juga menerapkan `car free day` demi mengurangi padatnya kendaraan setiap harinya (minimal satu minggu satu kali).

Malang dulu berbeda jauh dengan Malang sekarang. Walaupun saya sendiri bukan asli Malang, namun saya bisa merasakan bagaimana perbedaan Malang 15 tahun yang lalu dengan Malang hari ini. Dulu hampir semua jalanan lekang kendaraan. Mahasiswa tidak banyak yang membawa kendaraan, jangankan mobil, motor saja yang membawa bisa satu banding tiga puluh. Dan tentu dulu juga masih belum banyak ruko berjajar di sepanjang kanan kiri jalan apalagi Mall. Maruko “Malang kota ruko” sudah menggeser status Malang kota bunga dan Malang kota pariwisata.

#savekotaMalang
*sedang dalam kondisi terjebak kemacetan.

MAMA MARAH: MALANG KOTA MACETNYA PARAH | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *