MELUKIS INDONESIA DENGAN BAHASA ARAB

MELUKIS INDONESIA DENGAN BAHASA ARAB

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah penutur bahsa Arab sebagai bahasa resmi pertama mereka yang tinggal di seluruh negara Arab adalah 279 juta jiwa, atau sama dengan 4,4% dari penduduk dunia. Disamping itu, ada juga penutur bahasa Arab bukan sebagai bahasa resmi pertama negaranya, karena mereka bukan penduduk negara-negara Arab, jumlah mereka mencapai 130 juta jiwa. Jika penduduk dunia pada tahun 2050 adalah 9,3 milyar, maka diperkirakan jumlah penutur bahasa Arab sebagai bahasa pertama mencapai 6,94% dari keseluruhan penduduk dunia. Adapau jumlah penutur bahasa Arab sebagai bahasa kedua pada tahun 2050, maka jumlahnya tergantung keseriusan kita dalam menyebarkan bahasa Arab untuk penutur asing. Apakah bisa kita menjadikan bahasa Arab di dunia ini menjadi bahasa yang paling banyak penuturnya pada tahun 2050? Dan bagaimana dengan di Indonesia?

Sejarah telah mencatat dengan baik bahawa antara tahun 1917 hingga tahun 1943 di Indonesia pernah terbit tidak kurang dari15 media cetak berbahasa Arab. Diantaranya diterbitkan di Solo, Pekalongan , Bogor, Jakarta dan Surabaya. Dari lima kota itu yang paling banyak menerbitkan media berbahasa Arab adalah kota Surabaya, yaitu mencapai 9 media, diantaranya adalah koran mingguan “Hadlramaut” dan majalah bulanan “Ad Dahna’”. Bahkan koran berbahasa Arab yang terbit di Jakarta sudah menggunakan nama lokal Indonesia yaitu “Borobudur”. Dari 15 media cetak itu secara umum ada 9 koran mingguan dan 6 majalah bulanan.

Memang, semua media cetak berbahasa Arab yang pernah terbit di Indonesia itu sekarang sudah tinggal cerita. Dan apabila kita mau mencari bukti atau arsipnya, adanya hanya di museum atau pada orang-orang tertentu yang suka koleksi barang-barang antik. Namun setidaknya semua itu menjadi bukti bahwa penutur bahasa Arab di negeri ini pada saat itu jumlahnya cukup banyak, karena itu mereka memerlukan media informasi untuk konsumsi mereka. Ternyata media itu berbahasa Arab, berarti mereka bekomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab juga. Di sisi lain, dengan pernah adanya media-media berbahasa Arab itu, kita juga bisa memaknai bahwa bahasa Arab di negeri ini pernah mencapai masa keemasannya pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia.

Kita juga tidak boleh mengkambinghitamkan orang lain atau kelompok lain atas matinya seluruh media cetak berbahasa Arab itu. Patut kiranya kita sebagi muslim melakukan introspeksi diri dan mengembalikan kepada kelamahan kita dalam mempertahankan dan menjaga bahasa Arab di negeri ini. Kita juga tidak boleh beralasan karena kelemahan itu, kemudian kita sekarang tidak melakukan usaha untuk mengembalikan kejayaan bahasa Arab itu kembali. Justru yang harus selalu kita bangun dalam diri kita adalah semangat untuk berkontribusi dalam melayani bahasa al Quran ini.

Kawan…
Bahasa al Quran pernah jaya di negeri kita, sangat logis kiranya kalau kita katakana bahwa bahasa itu akan menggeliat kembali di bumi pertiwi ini. Sudah barang tentu bahasa utama kita adalah bahasa Indonesia, kita cuma ingin bermimpi kalau bahasa Arab pada tahun 2050 nanti akan menjadi bahasa dalam posisi kedua di Indonesia. Rasanya mimpi ini tidak mustahil akan menjadi kenyataan. Alasan yang paling logis karena jumlah pemeluk Islam di negeri ini mayoritas, dan semuanya pasti meyakini bahwa belajar bahasa Arab itu penting dan hukum mempelajarinya adalah wajib karena itu bahasa al Quran. Maka, mimpi itu sungguh sebentar lagi akan menjadi kenyataan, marilah kita lukis Indonesia dengan Bahasa Arab.

Hanya ada dua pekerjaan besar untuk melukis Indonesia dengan bahasa Arab. Pertama; bagi pemegang kebijakan di negeri ini harus bisa membuat kebijakan yang bisa memberi peluang kepada bahasa al Quran untuk dipelajari dan diajarkan. Saya pernah mendengar ada seorang bupati yang mewajibkan bahasa Arab diajarkan di seluruh SMP dan SMA Negeri di wilayah kekuasaannya. Sungguh kita mendambakan munculnya bupati-bupati lain yang mengeluarkan kebijakan sama. Seandainya yang membuat kebijakan itu adalah gubernur atau bahkan presiden, tentu dampaknya akan semakin luas lagi.

Kedua adalah bagi rekan-rekan saya yang menekuni bidang pembeljaran bahasa Arab, baik dosen, guru maupun mahasiswa, ada tiga tugas utama kita, yaitu mengubah persepsi yang selama ini ada di masyarakat Indonesia bahwa bahasa Arab itu sulit, harus segera dicarikan jalan keluarnya, sehingga persepsi yang baru adalah bahwa belajar bahasa Arab itu mudah. Tugas kita yang lain adalah memenuhi tuntutan untuk melahirkan guru-guru yang handal yang mengajarkan bahasa Arab dengan sukses. Sedangkan tugas berikutnya adalah mewujudkan kurikulum dan buku ajar bahasa Arab yang mudah dan membisakan.

Atas dukungan dari Dzat yang telah memilih bahasa Arab sebagai bahasa al Quran, atas ijin dari Dzat yang telah memberi penegasan bahwa Dialah yang akan menjaga al Quran temasuk bahasanya, juga dengan terlaksananya dua tugas besar itu, mimpi melukis Indonesia dengan bahasa Arab akan segera terwujud. Wallahu a’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

MELUKIS INDONESIA DENGAN BAHASA ARAB | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *