MEMAKNAI SABAR DALAM UJIAN

MEMAKNAI SABAR DALAM UJIAN

MEMAKNAI SABAR DALAM UJIAN

Sabar di dalam menghadapi ujian itu harus dimiliki setiap mukmin, walaupun sulit sekali untuk menerimanya. Sudah menjadi sebuah konsekwensi, bahwa hidup itu adalah ujian. Siapa yang mau hidup, maka harus mau dan siap menerima ujian dari Allah SWT. Hanya saja, ujian itu bisa terjadi karena dosa-dosa manusia, dan bisa juga karena memang itu dari Allah SWT.

 

Biasanya ujian yang diakibatkan oleh tingkah laku manusia, jika mampu menghadapi dengan sabar, maka ujian itu akan menjadi pelebur dosa-dosa. Sementara jika ujian itu bukan karena dosa manusia, maka ujian itu menjadikan seseorang semakin dekat dengan-Nya, dan itu bentuk cinta dan perhatian Allah SWT terhadap hamba-Nya. Para salafussolih, jika lama tidak sakit, mereka mengatakan:”kenapa aku lama tidak sakit, apa Allah SWT sudah lupa kepada diriku”. Mereka memaknai sakit itu bentuk perhatian dan cinta Allah SWT terhadap hamba-Nya.

 

Setiap orang akan diberikan ujian sesuai dengan kemampuanya masing-masing. Allah SWT tidak akan membebankan ujian diluar kemampuanya. Ujian itu merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang yang hidup dimuka bumi ini, tidak perduli seorang muslim atau orang non muslim.

Hanya saja, bagi seorang muslim tidak sering mengeluh terhadap ujian itu, atau justru mengatakan kalimat-kalimat yang tidak pantas. Seperti mengatakan” saya sudah berobat kemana-mana, saya juga sudah sedekah, saya juga sudah sholat lima waktu, puasa, tetapi kenapa Allah SWT masih memberiku ujian seperti ini (sakit)”.

 

Untuk menguji kualitas ke-imanan seseorang biasanya Allah SWT memberikan ujian beragam, sesuai dengan kemampuan dan profesinya masing-masing. Adakalanya seseorang itu diuji dengan ketidak harmonisan keluarga, ada juga dengan diberikan kekayaan melimpah, ada juga ujian berupa kecerdasan dan pepintaran, ada juga ujian berupa sakit dan penyakit, ada juga ujian berupa kesulitan ekonomi dan kemiskinan. Orang-orang sufi menyebutnya dengan istilah “Al-Sibru ala Al-Baliyyah”.

 

Lihat saja, Nabi Yusuf as diuji dengan ketampananya, sehingga setiap wanita terpesona terhadap dirinya. Hampir-hampir terjatuh pada perzinaan, tetapi karena Nabi Yusuf sosok yang ber-iman, ahirnya dalam kondisi bernafsu-pun, tetap mengingat Allah SWT. Dengan begitu Nabi Yusuf lulus menghadap ujian itu dengan nilai “istimewa”.

 

Nabi Ayyub as diberikan ujian dengan sakit bertahun-tahun. Sampai suatu ketika istrtinya meminta agar Ayyub as berdoa kepada Allah SWT agar meminta kesabaran. Nabi Ayyub as menjawab:”bagaimana mungkin aku meminta (berdoa) segera sembuh, sementara Allah SWT telah memberikan sehat jasmani dan rohani kepadaku bertahun-tahun. Aku malu meminta segera sembuh, karena ini adalah ujian Allah SWT. Ahirnya, Allah SWT memberikan kesembuhan dan Nabi Ayyub ra bernjanji (bersumpah) tidak akan menyakiti istrinya.

 

Lihat juga ujian yang menimpa Nabi Ibrahim. Puluhan tahun membina keluarga, tetapi tidak kunjung memiliki anak. Ahirnya, Nabi Ibrahmi menikah lahi atas perintah istrinya. Ketika istri yang kedua hamil dan melahirkan, justru kedua istrinya bertengkar. Kemudian Ibrahim memindahkan Ismail dan Ibunya di dekat Baitullah. Saat-saat berdekatan dan menikmati indahnya keluarga. Tiba-tiba Allah memerintahkan Ibrahim pergi ke Baitul Maqdis. Di saat itulah Ibrahim benar-bena merasakan betapa sunyi ketika berjauhan, dan hidup tanpa seorang anak dan istri.

 

Ketika Ibrahim kembali ke Makkah, disaat rasa rindu, cinta menyatu ingin bertemu dengan istri dan anaknya. Allah SWT memerintah untuk menyembelih putranya. Allah SWT tahu Ibrahim benar-benar mencintai putranya, bahkan puluhan tahun Ibrahim as menanti kelahiran seorang putra. Ketika Nabi Ibrahim mampu melewati ujian itu, maka Ibrahim lulus dengan nilai “sangat istimewa”, kemudian Ibrahim mendapat julukan kholilullah (kekasih Allah SWT) dan “ulul azmi”.

 

Nabi Nuh as, di uji dengan kedurhakaan seorang istri dan dan anak yang dicintainya. Istri dan putranya yang amat dicintainya justru meninggalkan dirinya. Nuh as merasa bahwa anak dan istrinya amat dicintai, dan bagian dari hidupnya. Kemudian sempat meminta kepada Allah SWT agar istri dan putranya diberikan keselamatan, dengan harapan bisa dikumpulkan dengan dirinya. Kemudian Allah SWT menegur Nuh as, bahwa keduanya bukan bagianmu. Barulah kemudian Nabi Nuh beristigfar kepada Allah SWT atas kesalahanya.

 

Nabi Zakaria as, empat puluh tahun menangis, merintih, merayu Allah SWT agar diberikan keturunan. Setiap malam Zakaria as berdoa:”ya Allah…jangan engkau biarkan aku tanpa seorang anak, sesungguhnya engkau adalah dzat yang memberikan keturunan”. Kesabaran Nabi Zakaria ahirnya membuahkan hasil. Pada ahirnya, Allah SWT mengabulkan doanya dengan memberikan keturunan yang bernama “Nabi Yahya as”. Imam Al-Ghozali-pun berkomentar bahwa sesungguhnya Allah SWT sangat mencintai Zakaria, karena Allah SWT merindukan rintihan dan tangisan Nabi Zakaria setiap malam.

 

Allah SWT berjanji kepada orang-orang yang senantiasa sabar itu dengan balasan surga. Allah SWT sangat mencinta orang-orang sabar, Allah SWT berfirman“…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran(3:146). Allah SWT memuji kesabaran para Nabi-Nya, dan secara khusus memuji kesabaran Nabi Ayyub as yang artinya:” dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya) (QS Shaad (38:44). (Malang, 11/01/2015)

Oleh : Abdul Adzim Irsad Lc. M.Pd

 

MEMAKNAI SABAR DALAM UJIAN | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *