Memilih Buku Bergizi untuk Anak

Memilih Buku Bergizi untuk Anak

http://www.hidayatullah.com

Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Begitu judul salah satu buku kesukaan anak saya –yang sekarang sudah tidak berbentuk buku lagi. Buku itu saya beli sewaktu jalan-jalan dengan anak saya yang ketiga, Muhammad Hibatillah Hasanin. Kami memang biasa menjadikan toko buku sebagai tempat jalan-jalan, tujuan rekreasi, sekaligus sebagai hadiah terindah bagi anak-anak. Meskipun kadang saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli setiap buku yang menarik, tetapi toko buku tetap menjadi tempat rekreasi terindah.

Kalau ada buku bagus seperti itu, biasanya mereka minta ibunya membacakan. Kadang bila lampu kamar tidur sudah dimatikan pun mereka masih bersemangat minta dibacakan. Sekarang yang sedang semangat-semangatnya membaca adalah Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak keempat kami yang usianya dua tahun satu bulan.

Kadang-kadang bingung juga menghadapinya. Mata kami sudah mengantuk, lampu sudah dimatikan, tetapi Owi-begitu kami biasa memanggil-masih minta dibacakan buku. Apalagi kalau kakaknya juga minta dibacakan. Untunglah si sulung, Fathimah, sudah bisa mengajari adik-adiknya. Seringkali Fathimah yang membacakan untuk adik-adiknya, atau kadang dia membaca buku untuk dirinya sendiri dengan suara keras dan adiknya ikut nimbrung mendengarkan.

Alhamdulillah, Fathimah sudah lancar membaca semenjak masih belajar di Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) Salman Al-Farisi, Warungboto, Yogyakarta. Sekarang usianya tepat enam tahun, duduk di kelas satu SDIT Salman Al-Farisi, Klebengan.

Banyak buku yang amat disukai Fathimah. Salah satunya adalah seri Ensiklopedi Bocah Muslim. Saking favoritnya, seri ke-15 ensiklopedi yang belum terlalu lama dibeli itu sudah rusak. Owi rupanya memanfaatkan ensiklopedi ini sebagai buku mewarnai. Ia goreskan crayon dengan kekuatan penuh.

Sebelum buku itu beredar, saya sudah mendengar kabar dari Mas Ali Muakhir–editor DAR! Mizan, penerbit ensiklopedi tersebut. Saat itu saya sedang di Bandung. Begitu pulang ke Yogya, saya ceritakan hal itu kepada istri, Fathimah, dan adik-adiknya. Mereka sangat antusias mendengarnya. Apalagi kemudian saya mendapat undangan peluncuran bukunya di Jakarta. Meskipun kami tidak bisa hadir, gambar di kartu undangan telah merangsang rasa ingin tahu mereka.

Bulan Maret 2004 ada Islamic Book Fair di Yogyakarta. Salah satu stand menjual ensiklopedi tersebut. Kami segera berunding. Fathimah dan adik-adiknya punya celengan uang receh di rumah. Mereka sepakat memecah semua celengan itu. Terkumpullah uang yang membuat mata mereka berbinar-binar. “Wow, Pak. Banyak sekali!” kata Husain, anak saya yang kedua.

Tapi ketika dihitung, uang sejumlah itu ternyata masih kurang. Oh, ada tabungan Fathimah di sekolah. Kalau diambil, mungkin mencukupi. Esoknya, tabungan itu diambil. Ternyata tetap saja belum cukup. Lalu Fathimah berkata, “Ibu, bagaimana? Aku kepingin beli ensiklopedi.”

Fathimah dan ibunya lalu berbicara dengan saya, minta supaya ditambah dengan uang saya. Alhamdulillah, ada rezeki. Ensiklopedi pun akhirnya terbeli. (Fathim, Alhamdulillah ya Nak, kita punya sesuatu yang lebih baik daripada TV. Ensiklopedi harganya lebih mahal lho daripada TV).

Kembali ke soal buku Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Hasanin segera saja memperoleh kegembiraan tersendiri ketika buku itu dibacakan ibunya. Saudara-saudaranya ikut serta, mereka berkumpul melingkar mengitari kaki ibunya. Mereka terpingkal-pingkal mendengar cerita tentang kaos kaki yang dipakai terbalik. Mereka bergembira.

Lebih menggembirakan saya, Husain dan Hasanin bersemangat pakai kaos kaki sendiri. Tapi di rumah, anak laki-laki tidak biasa pakai kaos kaki–seperti juga saya sendiri. Mereka kemudian belajar pakai celana sendiri dan baju sendiri–ketika itu usia Hasanin belum mencapai tiga tahun. Dan uff. jatuh! Dua kaki masuk satu lubang. Tentu saja sulit bergerak dan badannya tidak seimbang. Dan, lihat, apa yang terjadi dengan kakaknya? Rupanya Husain juga demikian. Jadilah mereka saling tertawa.

O ya, ada buku lain yang kami beli pada kesempatan berikutnya, yaitu Aku Berani Minum Obat. Buku tipis ini memberi manfaat yang besar. Saya tidak tahu pasti apakah anak saya terpengaruh oleh buku ini atau terpengaruh oleh cara ibunya meminumkan obat yang cerdas dan menarik. Yang jelas kami syukuri, Owi sangat mudah diminumi obat sejak usianya belum satu setengah tahun. Kalau pahit? Ia akan segera meminta segelas teh.

Banyak pengalaman menarik dari kegiatan sehari-hari bergaul dengan buku. Membaca buku Aku Sayang Adik (DAR! Mizan), Fathimah menjadi lebih sayang pada adik-adiknya. Ia suka menggendong, mengajak bermain, dan mendiamkannya apabila ada adiknya yang menangis.

Banyak buku lain yang mengesankan. Tetapi pada kesempatan kali ini biarlah saya mencukupkan cerita sampai di sini. Ada yang lebih penting untuk disampaikan. Mengingat begitu kuatnya pengaruh buku, lebih-lebih pada masa kanak-kanak, maka penting sekali kita perhatikan nilai gizi buku untuk anak-anak. Ibarat makanan, kandungan gizinya sangat mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Usia kanak-kanak merupakan masa paling strategis untuk membangun fondasi kepribadian, termasuk di dalamnya fondasi paradigma berpikir, bersikap, dan bertindak. Pada masa ini pula kepekaan emosi anak sangat efektif untuk diasah atau justru ditumpulkan.

Kalau David Shenk menggambarkan sebagian besar informasi yang beredar di era informasi sekarang ini sebagai kotoran dan buangan seperti tercermin dalam bukunya, Data Smog (Kotoran Data); dan kotoran itu menyebabkan kita mengalami brain meltdown (penurunan kemampuan otak), maka bagaimana lagi jika anak-anak yang-ibarat komputer-operating system-nya belum terbangun kokoh? Sama seperti bayi yang perlu dilindungi dengan makanan terbaik berupa ASI, anak-anak kita yang masih lucu-lucunya itu juga perlu dilindungi kesehatan pikiran dan mentalnya dengan hanya memberi bacaan bergizi. Dengan begitu mereka akan memiliki kekuatan yang kokoh, imunitas yang tangguh, dan rangsangan berpikir maupun mental yang kaya.

Buku bergizi berbeda dengan buku menarik. Sekadar menarik tidak cukup sebagai alasan untuk memilihnya buat anak. Tetapi buku bergizi yang tidak menarik juga sulit membuat anak bergairah membacanya, kecuali kalau orangtua menunjukkan antusiasme yang besar atau anak memang sudah gila membaca. Pada sebagian buku yang benar-benar bergizi, baik tulisan maupun ilustrasi benar-benar merangsang pikiran, perasaan, dan imajinasi anak.

Menimbang Gizi
Pertama, perhatikan kesesuaian buku dengan anak. Sue Bredekamp sangat menekankan aspek kesesuaian ini untuk memperoleh hasil yang maksimal. Anak benar-benar menyerap manfaat yang besar tanpa harus merasa terbebani.

Kesesuaian (appropriateness) mencakup usia dan individual. Saya tidak hendak mendiskusikan terlalu jauh tentang kesesuaian individual. Saya hanya ingin menekankan bahwa setiap buku anak seharusnya sesuai dengan tahap perkembangan usia yang menjadi bidikan buku tersebut. Tampaknya, masih banyak penerbit yang belum mampu membidik umur sasaran dengan baik. Bayangkan, ada buku anak yang ditujukan untuk anak TK hingga SD kelas enam. Ini luar biasa (luar biasa mengherankan!). Padahal karakteristik perkembangan di rentang usia itu sangat beragam dan benar-benar berbeda.

Kedua, daya rangsang buku untuk memantik gagasan-gagasan segar pada anak, baik yang secara langsung ditulis atau tidak. Sering saya jumpai buku-buku anak yang pesan permukaannya (surface message) bagus, tetapi di dalamnya (inner message) buruk. Sekilas isinya bergizi, tetapi tanpa disadari–kadang penulisnya pun tak sadar)–memantik gagasan buruk pada anak (inspiring bad).

Ketiga, kekuatan gagasan dan alur cerita. Ilustrasi yang bagus akan sangat menunjang kuatnya alur yang disusun penulisnya. Gagasan yang kuat dan memiliki pijakan yang mampu membangun visi anak akan lebih bertenaga apabila disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan hidup. Kekuatan bahasa inilah pertimbangan keempat dalam menakar gizi buku anak. (Muhammad Fauzil Adhim)

Milis Sabili
Dikirim oleh: Ummu Ja’far
Selasa, 05 April 2005

Memilih Buku Bergizi untuk Anak | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *