MENCARI ILMU DAN UANG

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Teringat masa-masa kuliah dahulu, jam tujuh pagi tepat semua mahasiswa sudah berada di kelas siap untuk menerima pelajaran. Namun, ada fenomena menarik setiap hari selain proses proses belajar mengajar, yaitu adanya aktifitas bisnis di kelas. Setiap hari kami menyaksikan sebagian mahasiswa yang disamping datang untuk kuliah, mereka juga datang membawa kue donat, kacang goreng, buku-buku dan lain sebagainya untuk dijual di kampus. Akupun ikut-ikutan jualan mushaf al Quran untuk menambah ramainya aktifitas bisnis di kampus. Hasilnya cukup menggembirakan, saat itu dapat keuntungan 3 ribu rupiah saja sudah bisa untuk beli nasi padang 4 porsi.

Kawan…
Bekerja atau berusaha adalah sarana untuk mengambil jatah rizki yang telah ditetapkan oleh Allah buat kita. Allah memang sudah menjamin rizki semua makhluk yang ada di dunia ini, tidak ada makhluk yang terlewatkan dari jatah rizki itu, tetapi rizki itu tidak datang secara tiba-tiba menawarkan dirinya kepada kita. Rizki itu datang karena ada usaha dan kerja kita untuk mendatangkannya. Hal yang harus ditanamkan pada setiap diri kita para mahasiswa yang sedang belajar di kampus adalah bahwa kuliah itu untuk mencari ilmu dan bekerja itu untuk mencari uang. Tidak boleh salah dalam masalah ini, misalnya ada yang punya niatan kuliah untuk dapat ijasah, dan setelah ijasah didapat untuk mencari uang.

Doktrin itulah yang kami tanamkan pada diri kami ketika kuliah di Jakarta, sehingga kami membedakan dengan tegas tugas mencari ilmu dan mencari uang. Fenomena di atas adalah sebagian saja dari fenomena teman-teman mahasiswa bekerja, masih banyak lagi diantara kami saat itu yang memiliki aktifitas kerja di luar jam-jam kuliah, ada yang bekerja sebagai tukang bangunan, pengajar di berbagai lembaga pendidikan, membuka toko, bahkan bercocok tanam kangkung di ujung jalan Pramuka, daerah Rawasari juga bukan sesuatu yang aib bagi kami mahasiswa.

Doktrin itu semakin kuat menghujam pada diri kami, karena status ijasah sarjana yang kami peroleh saat itu belum diakui oleh pemerintah Indonesia, sehingga meskipun kami lulus membawa selembar kertas ijasah, sesungguhnya ijasah kami tidak bermanfaat untuk bersaing di dunia kerja. Kuliah bagi kami saat itu hanyalah murni untuk mencari ilmu. Karena itu kami harus bekerja untuk mencari rizki dan mendapatkan uang, sejak masih di bangku kuliah kamipun harus belajar bekerja, maka muncullah beberapa profesi mahasiswa yang bermacam-macam. Alhamdulillah, karena motivasi dan doktrin itu, sejauh ini kami tidak melihat alumni kampus kami yang tidak bekerja, semuanya dapat bekerja dengan profesi yang sangat beragam.

Bagi setiap muslim, bekerja bukan hanya sekedar sarana untuk mengambil jatah rizki. Namun, juga merupakan perintah dari Allah dan rasul-Nya. Kalau sudah menjadi perintah, berarti mengerjakan perintah adalah merupakan ibadah yang akan bernilai pahala di sisi-Nya. Bekerja itu akan bernilai ibadah jika pekerjaan itu benar dan dilakukan dengan cara yang benar menurut ukuran Allah dan rasul-Nya, atau dengan kata lain jika Allah ridha dengan pekerjaan dan cara kita bekerja.

Dalam beberapa kesempatan berdiskusi dengan mahasiswa, sering kami lontarkan gagasan dan doktrin di atas, ketika ada mahasiswa yang baru lulus dan konsultasi tentang apa yang harus dilakukan setelah itu, dengan tegas kami sampaiakan, “cari kerja!”, apapun jenis pekerjaan itu.

Bekerja adalah sarana untuk meraih kesuksesan yang dijanjikan oleh Allah, bekerja itu adalah domain manusia dan pemberi kesusksesan itu adalah domain Allah swt. Karena itu Allah berfirman: “Bekerjalah kalian, maka Allah dan rasul-Nya akan melihat pekerjaan kalian”. Rasulullah juga menegaskan: “Bekerjalah, maka semuanya akan dimudahkan oleh Allah”.

Adapun pengangguran, itu bukan hanya tidak bisa mendatangkan rizki, namun juga melanggar aturan main yang telah dibuat oleh Allah. Jangankan kita -manusia biasa-, nabi dan rasul Allah saja ketika akan diberi mukjizat oleh Allah harus sertai dengan usaha. Untuk membelah lautan, nabi Musa harus memukulkan tongkatnya. Untuk selamat dari banjir, nabi Nuh harus membuat kapal. Begitu juga nabi Muhammad saw ., untuk bisa menyebarkan Islam di seluruh jazirah Arab harus bekerja selama 23 tahun. Maka, jangan menantikan datangnya sesutu tanpa bekerja. Wallahu a’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

MENCARI ILMU DAN UANG | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *