Menelusuri Makna Angkringan Secara Sosiologis

Melihat harga jual serta jenis makanan yang dijual maka bisa dikatakan bahwa segmen pasar dari angkringan adalah masyarakat golongan menengah ke bawah. Hal ini ditandai oleh banyaknya kaum miskin kota yang bertumpu pada angkringan sebagai alternatif pilihan yang murah dalam pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Sebut saja tukang becak, anak jalanan, buruh pertokoan dan para pegawai. Konsep dasar sektor informal dalam hal ini angkringan, sebagai penyedia kebutuhan barang dan jasa yang murah bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah semakin mengidentikkan angkringan sebagai tempat konsumsi kelompok miskin kota.

Dewasa ini muncul kecenderungan dimana angkringan telah menjadi tempat konsumsi bagi semua lapisan sosial dalam masyarakat, entah lapisan bawah, menengah, atau lapisan sosial atas. Sering terlihat mereka yang berpenampilan rapi, membawa handphone, berkendaraan sepeda motor, bahkan tak jarang juga mobil, tanpa segan-segan makan di angkringan, bahkan mereka rela mengantri untuk bisa mengambil makan atau menunggu tempat yang kosong. Fenomena ini sangatlah menarik untuk diamati, jika Maslow mengatakan bahwa orang tidak dapat  dari tingkat kebutuhan yang sudah tinggi ke tingkat yang lebih rendah, maka fenomena banyaknya orang yang kaya yang datang ke angkringan merupakan kebalikan dari apa yang dikatakan Maslow di atas. Orang-orang dari kalangan atas yang telah terbiasa dengan kafe dan restoran mewah secara tidak langsung telah menurunkan tingkat kebutuhannya dengan mengunjungi warung sederhana seperti angkringan, dimana kekhasan angkringan dan makna lain yang ada di dalamnya menarik orang-orang dari golongan atas tersebut untuk mengunjunginya.

Kini angkringan bukan lagi milik mahasiswa atau orang-orang yang berkantung cekak, namun mulai jadi sebuah life style baru. Melalui penelitian ini ditemukan satu fenomena dimana mahasiswa yang bisa digolongkan dalam kelas sosial atas tanpa segan-segan makan dan nongkrong di angkringan, sebuah warung makan rakyat yang keberadaannya senantiasa dikaitkan dengan kaum miskin kota sebagai konsumen tetapnya. Para mahasiswa tersebut telah memiliki pemaknaan tersendiri terhadap angkringan yang tentu berbeda dengan pemaknaan yang sementara ini berkembang di dalam masyarakat. Dalam moment-moment tersebut menurut Berger (1985:69) terjadi pertikaian antara individu dan masyarakat, dimana makna yang melembaga di masyarakat diangkat dan dibongkar oleh individu yang bernama Mahasiswa menjadi makna-makna yang mereka pahami. Sekali lagi bahwa makna-makna yang timbul dalam individu tersebut sangat dipengaruhi oleh realitas, yaitu masyarakat dan kebudayaan di mana mahasiswa tumbuh dan berada.

Demikian halnya dengan yang terjadi pada pemaknaan mahasiswa terhadap keberdaan angkringan secara garis besarnya. Penelitian ini berhasil menemukan bahwa angkringan kini tidak hanya dimaknai sekedar tempat makan saja. Ada makna lain yang muncul terkait dengan keberadaan angkringan, makna-makna tersebut ialah angkringan dilihat dari suasana warung angkringan, tempat nongkrong lintas batas, tempat refreshing, tempat kenangan, dan arena diskusi. Beragamnya pemaknaan tersebut tentunya terkait juga dengan motivasi yang mendorong mahasiswa untuk memilih angkringan sebagai tempat konsumsi.

Menelusuri Makna Angkringan Secara Sosiologis | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *