Menyikapi Perubahan

evolusi homer

Berubah, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan namun sangat sulit dilaksanakan. Banyak orang mengatakan ingin berubah, namun tidak banyak orang yang benar-benar berubah. Perubahan adalah pertanda kehidupan yang harus dilalui setiap insan demi kelangsungan hidup dan kehidupannya. Menyikapi perubahan adalah sesuatu tidak bisa dihindari.

Manusia hidup akan selalu berubah. Hari ini ia seorang bayi yang hidupnya tergantung pada orang lain. Esok ia makhluk kecil, yang sesekali jatuh, lalu berlari dengan kedua tangan dan kakinya. Setelah itu ia menjadi mahkluk dewasa yang menghadapi berbagai persoalan. Begitu juga dengan dunia ini, selalu berubah dan berubah, baik kita sadari ataupun tidak.

Tidak banyak orang yang berani untuk berubah. Bahkan tidak suka dengan perubahan itu sendiri. Kenapa? Karena pada dasarnya ia telah merasa nyaman pada kemapanan. hal itulah yang membuat sebagian besar diantara kita sulit untuk merubah diri.

firman Allah SWT: “…….Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri……… ” (QS.Ar Rad: 11).

Keharusan Beradaptasi

Kalau boleh jujur, seringkali kita tidak mengizinkan diri kita untuk berubah. Sehingga kita seringkali menjauhkan diri dari fitrah Allah SWT untuk selalu memuliakan dan mensejahterakan kita. Lantas jika sudahbegitu, kitapun selalu menyesali diri, menganggap semuanya serba salah merasa tidak punya masa depan, sementara sikap dan pikiran negatif saat melihat kesuksesan orang lain selalu menyelimuti pikiran, jiwa kita.

Padahal, sikap dan pola pikir itu akan mematikan kemampuan adaptasi kita dalam menghadapi perubahan. Kita tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi yang kita hadapi secara cepat dan “up to date”. Akibatnya, kita akan tertinggal dengan perubahan itu sendiri. Kita akan berada sangat jauh dari orang-orang yang berada lebih dulu dari kita karena mereka telah berhasil melewati rintangan hidup saat itu dengan pola pikir yang baru. Hal ini sangatlah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Peter Drucker, pakar Ekonomi dan Manajemen, bahwa bahaya terbesar dalam perubahan adalah bukan perubahan itu sendiri tetapi cara berpikir kemarin yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.

Berubah, juga merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Sangatlah naif dan keliru jika ada sebagian di antara kita yang beranggapan, bahwa bersyukur adalah menerima apa adanya tanpa ada upaya untuk membuat nikmat itu menjadi lebih bermanfaat bagi semua pihak.

Karakteristik Perubahan

Namun sayangnya tidak semua orang paham tentang perubahan itu sendiri. Setidaknya ada beberapa karekteristik perubahan yang perlu kita pahami:

Pertama, perubahan itu sangat misterius. tidak ada seorang pun yang dapat menduga kapan, di mana, dan bagaimana perubahan itu datang dan pergi. Yang jelas kita harus selalu siap menghadapinya. Tidak pernah ada seorang pun mengira bahwa rezim Orde Baru yang begitu kuat dapat jatuh dalam waktu singkat, begitu juga dengan tokoh-tokoh dunia yang kelihatannya mustahil untuk jatuh, temyata hancur sekejap mata oleh perubahan.

Kedua, Perubahan itu ibarat gelombang, bahkan seperti sebuah kurva yang naik dan turun. Ada kalanya hidup kita berada di titik puncak kurva kesuksesan bidup, namun tidak sedikit dari kita yaag saat ini terpuruk dibawah titik kurva tersebut. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah, jika dalam hidup anda merasakan kenyamanan, ketenangan, kemapanan, dan stabil dalam hidup, hati-hatilah, mungkin sebenarnya anda sedang menuruni kurva kehidupan.

Tapi jika anda merasakan keletihan, kesusahan dalam setiap upaya yang anda lakukan sehingga hampir saja itu membuat anda putus asa, maka jangan bersedih, karena sebenarnya anda sedang menanjak menuju titik puncak kurva anda.

Ketiga, Perubahan butuh “change maker”. Orang yang menjadi pemimpin dalam perubahan itu, yang mampu menyakini setiap orang dan memberikan harapan hidup kepada setiap insan, yang memiliki visi ke depan dan berani menghadapi segala resiko dari melakukan perubahan tersebut. Abraham Lincoln, Mahatma Gandi, mati ditembak. Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Namun mereka telah berhasil menorehkan perubaban kepada umat manusia.

Keempat, Tidak semua orang dapat diajak melihat perubahan. Sebagian besar orang malah hanya melihat dengan persepsi. Hanya mampu melihat realitas, tanpa mampu memiliki kemampuan dan kemauan melihat masa depan. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang visioner untuk itu.

Kelima, Perubahan terjadi setiap waktu. Seringkali perubahan tidak memberikan harapan yang baik. Perubahan dapat memberikan pembaharuan atau bahkan kehancuran. Sehingga dengan begitu, perubahan selalu tidak mengenakkan bagi setiap insan (pada umumnya), menakutkan, dan menimbulkan kepanikan.

Tidak ada orang yangmampu melihat hasil apa yang terjadi di masa depan, namun banyak orang yang mampu memprediksi dan merencanakan perubahan di masa depan.

Orang-orang yang survive dalam gelombang perubahan adalah mereka yang tidak pernah puas terbadap “comfort zone” mereka. Mereka selalu mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang tebih baik dan rela meninggalkan arena nyaman mereka demi posisi baru tersebut. Berbeda dengan orang-orang yang berstatus quo, mereka lebih puas dengan apa yang mereka peroleh kemarin.

Hidup adalah perubahan, perubahan adalah kehidupan. Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bahkan kematian sendiri pun bukanlah akhir dari kehidupan dan bukan akhir dari perubahan. Melainkan kelanjutan dari kehidupan sebehunnya.

Artinya, hanya orang-orang yang mau dan mampu berubahlah yang memiliki segalanya. Yang berhasil dalam hidup mereka. Lantas bagaimana anda sekarang? Apakah anda sebagai orang mau barubah atau yang dirubah ?

Menyikapi Perubahan | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *