Munculnya Pedagang Angkringan di Purwokerto

Angkringan pada awalnya pedagang kopi, teh dan panganan kecil ini tidak menggunakan gerobak, melainkan pikulan. Mereka dulu disebut pedagang Hik(Hidangan istimewa kampung). Nama hik bermula pada Tradisi Malam Selikuran Keraton Surakarta pada malam hari, kota berhiaskan lentera (ting-ting) yang antara lain dibawa para pedagang makanan.

Angkringan adalah suatu bisnis kecil, oleh rakyat dan bermodal kecil ditambah bekal tenaga dan kuat melek maka hasilnya bisa dikatakan lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di pabrik. Angkringan pula yang telah berjasa melepaskan para pelakunya (masyarakat, terutama penduduk pedesaan di Klaten) dari lingkaran kemiskinan (Kompas 28-05-2005). Angkringan merupakan salah satu bentuk sektor informal, salah satu bentuk usaha jasa konsumsi yang berskala kecil tapi mampu bertahan dalam persaingan ekonomi. Sektor informal dalam tulisan ini terutama dianggap sebagai suatu manifestasi dari situasi pertumbuhan kesempatan kerja di negara berkembang, karena itu mereka memasuki kegiatan berskala kecil ini di kota. terutama bertujuan untuk mencari kesempatan kerja dan pendapatan daripada memperoleh keuntungan. karena mereka yang terlibat dalam sektor ini pada umumnya miskin, berpendidikan rendah, tidak terampil, dan kebanyakan para migran, jelaslah bahwa mereka bukanlah kapitalis yang mencari investasi yang menguntungkan dan juga bukan pengusaha seperti yang dikenal pada umumnya.

Selain di Kota Yogyakarta sebagai tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya angkringan, di Kota Purwokerto pun bermunculan pedagang-pedagang angkringan yang sebagian besar berasal dari Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten (Jawa Tengah). Munculnya angkringan di Purwokerto dimulai sekitar tahun 1998 yang berlokasi di sekitar kompleks Universitas Jenderal Soedirman. Adalah Mas Sugeng, seorang pria asal klaten yang merintis warung angkringan di Purwokerto pada tahun 1998, menurut penuturannya warung angkringan telah mengalami banyak perkembangan, dulu Mas Sugeng pertama kali membuka angkringan di dekat terminal, kemudian di dekat alun-alun, tapi karena masyarakat purwokerto masih jarang yang tahu tentang warung angkringan maka warungnya sering sepi. Tidak mau menyerah dengan keadaan, akhirnya Mas Sugeng memindah warungnya didaerah dekat kampus Unsoed dengan pertimbangan ramainya kampus serta aktifitas dan mobilitas mahasiswa yang sampai larut malam. Di daerah kampus warungnya menjadi ramai karena ternyata banyak mahasiswa yang berasal dari Solo, Jogja, Semarang, dan sekitarnya yang telah terbiasa dengan angkringan di daerah asalnya makan di warungnya, mulai dari itu warungnya terus ramai dan bahkan populer dikalangan mahasiswa. karena kewalahan memenuhi permintaan pelanggan maka Mas Sugeng mengajak saudara dan tetangganya untuk juga berdagang di Purwokerto, hingga akhirnya warung angkringan menjadi banyak seperti sekarang ini.

Saat ini, pedagang angkringan di Kota Purwokerto mulai terhimpun dalam paguyuban pedagang angkringan yang sifatnya tidak resmi hanya sebatas wadah berkumpul dan saling membantu antar pedagang angkringan. Terdapat satu fenomena menarik dalam perkembangan warung angkringan di Purwokerto, dimana sebagian besar angkringan berada di sekitar Unsoed, tidak seperti di kota Yogyakarta, Solo dan Semarang, dimana  pedagang angkringan dapat kita lihat di setiap sudut kota. Hal ini bisa dipahami mengingat ramainya kampus berarti pula banyaknya konsumen, apalagi bisa dibilang jika daerah kampus adalah satu daerah di Kota Purwokerto yang tidak pernah tidur.

Angkringan yang ada di sekitar Unsoed sebagian besar konsumennya berasal dari mahasiswa yang menjadi pelanggan tetapnya, utamanya  mahasiswa yang berkantung terbatas atau yang sedang kehabisan cadangan dana untuk makan,  Pilihan mereka  akan jatuh ke warung angkringan sebagai tempat makan. Tetapi tak jarang juga terdapat mahasiswa yang berkantung tebal juga menjatuhkan pilihannya ke warung angkringan sebagai tempat konsumsinya atau hanya sekedar untuk nongkrong bersama teaman-teman sambil menikmati hidangan dari warung angkringan. Mahasiswa dan angkringan menjadi hal yang sulit untuk dipisahkan. Tidak sulit untuk menemukan mahasiswa sedang makan di angkringan atau terlibat perbincangan seru di sana (angkringan). Batas sosial menjadi tidak berlaku lagi di tempat ini. Semua berbaur menjadi satu, saling berinteraksi satu sama lain tanpa memandang kelas sosial oleh para konsumennya. Disini mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara dan saling bercanda antar pedagang dengan para konsumen (mahasiswa).

 

Munculnya Pedagang Angkringan di Purwokerto | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *