NOVEL SEBAGAI SALAH SATU MEDIA MEMPROMOSIKAN SIKAP TOLERANSI DAN MENYEBARLUASKAN PERDAMAIAN

NOVEL SEBAGAI SALAH SATU MEDIA MEMPROMOSIKAN SIKAP TOLERANSI DAN MENYEBARLUASKAN PERDAMAIAN

oleh:
Saifullah Kamalie

Mempromosikan sikap toleransi dan menyebarluaskan perdamaian, tugas siapa?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada pemeluk agama Islam, maka jawabannya adalah “tugas setiap individu Muslim”. Bukan tugas para pemimpin dan tokohnya, karena setiap diri umat Islam adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka siapa pun juga berkewajiban untuk menyampaikan ajaran agama sesuai dengan kemampuannya.

Sikap toleransi dan perdamaian inti ajaran Islam
Islam adalah agama damai, sesuai dengan pengertian akar katanya dalam bahasa Arab sin, lam, dan mim.  Setiap individu Muslim harus mengetahui bahwa semua kata yang dibentuk dari akar kata sin, lam, dan mim tersebut mengandung arti dasar damai. Dengan demikian diharapkan, kehadiran setiap individu Muslim di tengah-tengah masyarakat apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun latar belakang sosial-ekonominya, yang dirasakan adalah kedamaian. Kekerasan dan rasa permusuhan bukanlah ciri ajaran Islam. Kelompok sebagian masyarakat yang lebih mengedepankan kekerasan daripada perdamaian, bukanlah masyarakat yang memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Doa yang biasa diucapkan seusai mengerjakan salat di antaranya: Allahumma anta-s-salam, wa minka al-salam, tabarakta ya zal jalali wa al-ikram. ‘Ya Allah Engkaulah (sumber) kedamaian, dari-Mulah kedamaian itu datang, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Mulia”.

Novel merupakan salah satu media mempromosikan sikap toleransi dan stabilitas dalam masyarakat
Setiap Muslim, apa pun latar belakang pendidikan dan keahliannya, berkewajiban mempromosikan jiwa ajaran Islam yang sangat mengedepankan kedamaian. Seorang yang mempunyai latar belakang pendidikan agama, dapat menempuh berbagai bidang untuk usaha mempromosikan tersebut. Bukan sekadar lewat khutbah dan ceramah. Bila ia dikarunia bakat menulis, maka tulisannya itu juga dapat dijadikan media mempromosikan ajaran-ajaran Islam yang universal itu, seperti yang dilakukan oleh Habiburrahman El Syairazi, alumni Universitas Al-Azhar, Cairo. Melalui novel best seller ‘Ayat-ayat Cinta’ sarjana bidang Usuluddin yang akrab dipanggil Kang Abik ini mempromosikan bagaimana indahnya agama Islam. Melalui tokoh Fahri, Islam begitu damai dirasakan bukan hanya oleh orang Islam saja, tetapi juga oleh mereka yang bukan Muslim. Misalnya, peran Fahri ketika berhadapan dengan sikap tidak bersahabat warga Mesir yang kesemuanya beragama Islam terhadap pelancong Amerika dalam metro, kereta listrik di Cairo. Cerita sepenuhnya tercantum dalam Bab 3 di bawah judul “Kejadian di Dalam Metro”. Penampilan pelancong tersebut memang ala negerinya, Amerika. “Yang perempuan memakai kaos ketat tanpa lengan, you can see. Dan bercelana pendek ketat. semua bagian tubuhnya menonjol. Lekak-lekuknya jelas. Bagian pusarnya kelihatan. Ia seperti tidak berpakaian…”. (halaman 25)
Pemandangan seperti itu bagi pemuda Indonesia seperti Fahri, bukan merupakan pemandangan yang sangat aneh karena di negerinya juga banyak orang berpenampilan seperti itu. Maka Fahri masih dapat bergurau kepada Ashraf, pemuda Arab Mesir itu:

“Hai Ashraf, mau titip pesan pada Presiden Amerika nggak?”
“Apa maksudmu?”
“Itu, mumpung ada orang Amerika. Minggu depan mereka mungkin sudah balik ke negaranya. Kau bisa titip pesan pada mereka agar presiden mereka tidak bertindak bodoh seperti yang kau katakan tadi.” (halaman 25)

Dalam bab 2, Kang Abik menceritakan perbincangan Ashraf dengan Fahri.

Ia geram sekali pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. ..”
“Ayatollah Khomeini benar. Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan”. (halaman 23)

Melihat kehadiran orang-orang Amerika, terlebih penampilan perempuannya yang berpakaian seperti itu, Ashraf tidak peduli dengan kelakar Fahri. Malah ia tiba-tiba berteriak emosi,

“Ya Amrikiyyun, la`natullah `alaikum (Hai orang-orang Amerika, laknat Allah untuk kalian)”. (halaman 25)

Jika Ashraf melontarkan ucapan melaknat orang-orang Amerika seperti itu, memang sangat beralasan.

…Orang-orang Mesir memang menganggap Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah. Orang-orang Mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba mengadu domba umat Islam dengan umat Kristen Koptik. Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena pada penduduk Mesir….. (halaman 26)

Demikian Kang Abik melukiskan sikap penduduk Mesir terhadap Amerika. Namun, novelis yang alumnus Universitas Al-Azhar Cairo ini menyampaikan hal itu bukan berarti setuju dan mendukung sikap Ashraf. Lewat tokoh Fahri, Kang Abik menyampaikan pendapatnya:

Telingaku paling alergi mendengar caci mencaci, kata-kata kotor apalagi umpatan melaknat. Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali Tuhan. Manusia jelas-jelas telah dimuliakan oleh Tuhan. Tanpa membedakan siapa pun dia. Semua manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, walaqad karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam!. Jika Tuhan telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan melaknat sesama manusia? Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan? (halaman27)

Ayat-ayat Cinta memang sebuah novel, dan para tokoh-tokohnya hanyalah tokoh fiktif yang tak akan ditemukan dalam dunia nyata. Namun, apa yang disampaikan oleh para tokohnya itu banyak mengandungi kebenaran. Makanya, Ayat-ayat Cinta ini disebut “Sebuah Novel Pembangun Jiwa”. Jiwa siapa? Tentunya setiap jiwa pembacanya, siapa pun dia dan apa pun agama dan bangsanya.

Ashraf dan beberapa tokoh yang terlibat dalam kejadian di dalam metro, mewakili umat Islam kebanyakan. Mereka mengenal dan senantiasa membaca Al-Qur’an, namun perilaku mereka tidak mencerminkan ajaran kitab suci tersebut. Perhatikan, bagaimana Kang Abik menggambarkan perilaku orang Islam yang tidak islami itu. Di antara ketiga orang pelancong Amerika itu ada seorang nenek-nenek yang tidak kebagian tempat duduk. Para penumpang yang berusia lebih muda, tak satu pun yang menaruh belas kasihan padanya, sehingga akhirnya sang nenek karena mungkin sudah tidak tahan berdiri dalam gerbong yang pengap penuh penumpang itu, nekad hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sampai nenek bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar itu berteriak mencegah.

“Mom, wait! Please, sit down here!” (halaman 28)

Sikap terpuji perempuan bercadar ini – yang kelak diketahui bernama Aisya – tidak diterima oleh orang-orang Mesir lainnya. Ia dikecam bahkan dicaci maki dengan kata-kata kotor. Semua orang yang mencaci makinya itu adalah orang-orang Islam yang pasti sering membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kang Abik, lewat tokoh Fahri menyampaikan kekecewaannya terhadap orang-orang Mesir itu:

“Terus terang, aku sangat kecewa pada kalian! Ternyata sifat kalian tidak seperti yang digambarkan Baginda Nabi. Beliau pernah bersabda bahwa orang-orang Mesir sangat halus dan ramah, maka beliau memerintahkan kepada shahabatnya, jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan ramah. Tetapi ternyata kalian sangat kasar. Aku yakin kalian bukan asli orang Mesir. Mungkin sejatinya sebangsa Bani Israel. Orang Mesir itu seperti Syaikh Muhammad Mutawalli Sya`rawi yang ramah dan pemurah.” (halaman 34-35)

Sikap kasar Ashraf yang mendapat dukungan dari orang-orang Mesir lainnya itu dimaksudkan sebagai ungkapan kejengkelan mereka terhadap orang-orang Amerika yang telah berbuat zalim terhadap umat Islam. Namun, tindakan tersebut tidak mencerminkan ajaran agama Islam yang damai. Kepada mereka Fahri menjelaskan:

“Kita semua tidak menyukai tindak kezaliman yang dilakukan siapa saja. Termasuk yang dilakukan Amerika. Tapi tindakan kalian seperti itu tidak benar dan jauh dari tuntunan ajaran Baginda Nabi yang indah”. (halaman 36)

Alasan yang disampaikan oleh Ashraf dan orang-orang Mesir di dalam metro itu mungkin juga sama dengan yang diyakini oleh para teroris yang sering menyerang pelancong asing di Mesir. Coba kita perhatikan alasan yang mereka sampaikan:

“Lalu kami harus berbuat apa dan bagaimana? Ini mumpung ada orang Amerika. Mumpung ada kesempatan. Dengan sedikit pelajaran mereka akan tahu bahwa kami tidak menyukai kezaliman mereka. Biar nanti kalau pulang ke negaranya mereka bercerita pada tetangganya, pada teman-temannya, pada orang-orang di sana bagaimana tidak sukanya kami pada mereka!”. (halaman 36)

Apa yang digambarkan Kang Abik lewat tokoh orang-orang Mesir seperti ini merepresentasikan pandangan umat Islam dewasa ini. Mereka membenci Amerika tanpa membedakan antara penduduknya dan pemerintahannya. Orang yang pernah berinteraksi dengan masyarakat Amerika, tentunya dapat membedakan antara warga dan pemerintah Amerika. Dengan perkataan lain, sikap pemerintah Amerika tidak mencerminkan sikap warganya. Mayoritas warga Amerika memang tidak mengenal Islam dengan baik. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang beranggapan negatif terhadap Islam, karena mereka termakan oleh propaganda musuh-musuh Islam yang memutar-balikkan fakta. Maka, sikap kasar Ashraf dan alasan yang disampaikan mengapa mereka bersikap seperti itu harus diubah. Kang Abik, sekali lagi lewat tokoh utamanya Fahri berusaha untuk itu:

“Justru tindakan kalian yang tidak dewasa seperti anak-anak ini akan menguatkan opini media massa Amerika yang selama ini beranggapan orang Islam kasar dan tidak punya perikemanusiaan. Padahal baginda Rasul mengajarkan kita menghormati tamu. Apakah kalian lupa, beliau bersabda, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya. Mereka bertiga adalah tamu di bumi Kinanah ini. Harus dihormati sebaik-baiknya. Itu jika kalian merasa beriman kepada Allah dan hari akhir. Jika tidak, ya terserah! Lakukanlah apa yang inin kalian lakukan. Tapi jangan sekali-kali menamakan diri kalian bagian dari umat Islam. Sebab tindakan kalian yang tidak menghormati tamu itu jauh dari ajaran Islam.” (halaman 38)

Di akhir cerita, perempuan bule yang berpakaian tidak sopan tersebut akhirnya masuk Islam setelah puas membaca beberapa pertanyaan tentang sejumlah masalah yang sering dibicarakan orang-orang Barat. Seperti, kedudukan wanita dalam Islam.
Sikap Fahri yang bijak dan penuh toleransi juga digambarkan oleh Kang Abik, lewat sikapnya terhadap tetangganya yang orang Kristen Koptik. Maria digambarkan hafal beberapa surah Al-Qur’an, di antaranya surah Maryam. Persahabatan antara kedua pemeluk agama dan antara kedua bangsa ini digambarkan begitu mesranya. Itulah Islam yang sebenarnya.

Kesimpulan
Mempromosikan sikap toleransi dan upaya menyebarkan kedamaian yang merupakan ajaran inti agama Islam lewat sebuah novel sebagaimana yang dilakukan oleh Kang Abik ini patut mendapat perhatian yang serius. Semestinya Ayat-ayat Cinta ini diterjemahkan ke berbagai bahasa, terutama bahasa Inggris dan Arab. Setelah itu dibahas dalam berbagai loka karya atau seminar. Dengan demikian, semua orang kelak akan mengetahui ajaran Islam yang sebenarnya tanpa merasa mereka diajari. Sekali lagi, Ayat-ayat Cinta memang sebuah novel dan tokoh-tokohnya adalah tokoh fiktif yang tidak ada dalam dunia nyata, tetapi pesan yang hendak disampaikan adalah pesan yang benar dan mengandung ajaran yang sebenarnya dari sebuah agama yang secara etimologis berarti agama damai, Islam.

NOVEL SEBAGAI SALAH SATU MEDIA MEMPROMOSIKAN SIKAP TOLERANSI DAN MENYEBARLUASKAN PERDAMAIAN | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *